Itinerary

Ini Alasan Kenapa 91% Responden Lebih Suka Pantai Pasir Putih

Pernah nggak sih kamu bertanya-tanya: orang-orang lebih senang pantai berpasir putih atau hitam?

Kenyataannya, kamu lebih sering menemukan postingan pantai-pantai yang pasirnya putih ketimbang yang gelap atau hitam. Nggak percaya? Coba saja masukkan tagar #pantai di kolom pencarian Instagram.

pantai pasir putih
Pantai Baron yang berpasir hitam (tampak atas) atas via instagram.com/fotohery

Kalau ada postingan blog soal pantai-pantai yang recommended, kemungkinan besar tulisan itu bakal memandu kamu buat main ke pantai-pantai berpasir putih di Jogja, Karimunjawa, Lombok, Maluku, dan di tempat-tempat lain. Jarang banget yang masukin pantai berpasir hitam seperti Pantai Glagah atau Pandansimo atau Teleng Ria dalam jajaran pantai yang wajib dikunjungi.

Jadi, apakah orang-orang memang lebih menyukai pantai berpasir putih ketimbang yang pasirnya hitam? Untuk menjawab itu, TelusuRI baru-baru ini nyebar kuesioner. Penasaran sama hasilnya? Lanjut ke bawah!

Hasilnya mungkin nggak seperti yang kamu duga, tapi…

Sayangnya, hasil suvey yang berlangsung dari tanggal 5-12 Januari 2018 kemarin itu mungkin sesuai dengan dugaan kamu: orang-orang lebih menyukai pantai pasir putih.

pantai pasir putih
Diagram lingkaran pertanyaan “Lebih suka pantai berpasir hitam atau berpasir putih?”/TelusuRI

Dari total 736 responden yang mengisi kuesioner, 91% (670 responden) di antaranya memilih “putih” saat menjawab pertanyaan “Lebih suka pantai berpasir hitam atau berpasir putih?” Sebaliknya, cuma 9% (66 responden) yang lebih menyukai pantai berpasir hitam.

Kontrasnya tegas sekali. Sebagian besar responden lebih menyukai pantai yang pasirnya putih dibanding pantai yang pasirnya berwarna gelap atau hitam. Tapi, mengapa mereka lebih menyukai pantai-pantai yang berpasir putih?

Masih tentang keindahan

Tapi, kenapa orang-orang lebih senang pantai berpasir putih? Nah, bersamaan dengan pertanyaan “Lebih suka pantai berpasir hitam atau berpasir putih?” itu, para responden juga diwajibkan untuk memberikan alasan kenapa mereka menyukai jenis pantai yang mereka pilih.

Empat alternatif alasan diberikan: karena instagrammable, karena lebih indah, karena lebih romantis, karena lebih enak buat berenang. Tapi, selain itu, para responden juga diberikan kesempatan buat menyebutkan sendiri alasan mereka kalau nggak terwakili oleh salah satu dari keempat alasan itu.

pantai pasir putih
Diagram lingkaran “Kenapa suka pantai berpasir putih?”/TelusuRI

Dari 670 responden pemilih pantai pasir putih, 68,8% (461) menyukainya “karena lebih indah.” Sebanyak 11,3% (76) memilih alasan “karena lebih enak buat berenang.” Sejumlah 7,6% (51) menyukai pantai pasir putih “karena lebih romantis.” Sementara 5,1% (34) memilih pantai pasir putih “karena instagrammable.”

Selain keempat alasan itu, banyak juga yang menyukai pantai pasir putih karena menganggapnya lebih bersih. Ada pula beberapa yang suka pasir putih karena “sudah bosan melihat pasir hitam.” Hm… Menarik!

Tapi keindahan itu relatif

Menariknya, alasan terbanyak yang dipilih oleh penyuka pasir hitam juga “karena lebih indah” (43,9% dari 66 jawaban). Sementara itu jawaban kedua terbanyak adalah “karena lebih romantis” (13,6%), ketiga terbanyak “karena lebih enak buat berenang” (9,1%), dan keempat terbanyak “karena instagrammable” (7,6%).

Barangkali benar bahwa keindahan itu relatif.

pantai pasir putih
Diagram lingkaran “Kenapa suka pantai berpasir hitam?”/TelusuRI

Yang mengejutkan, faktor “instagramabilitas” ternyata jadi alasan yang nggak terlalu penting bagi para responden dalam memilih pantai, baik pantai berpasir putih maupun pantai berpasir hitam. Artinya, indah bukan berarti instagrammable dan, sebaliknya, instagrammable bukan berarti indah.

Nah, kalau kamu sendiri lebih suka yang mana?

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
ItineraryNusantarasa

Santapan yang Lahir dari Kesengsaraan

Itinerary

Desa Muncar dan Kopi Temanggung

Itinerary

Memahami Lebih Dalam tentang Permakultur

Itinerary

5 Destinasi Budaya 'Memorable' ala Jovita Ayu

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *