Travelog

Pantai Ngudel dan Pengalaman Camping Satu Malam yang Mengasyikan

Rata-rata orang piknik ke Malang pasti tujuannya ke Bromo atau ke Batu. Beda dengan saya dan ketiga teman saya yang memutuskan untuk mencoba camping di salah satu pantainya. 

Setelah searching di Google, ada beberapa nama yang direkomendasikan seperti Pantai Clungup, Pantai Sendiki, Pantai Goa Cina, Pantai Balekambang, dan beberapa pantai lainnya yang tidak terlalu terkenal. 

Dilihat memang rata-rata bagus sih, bahkan di Pantai Balekambang terdapat pura kecil di atas bukit karangnya, mirip seperti Tanah Lot tapi versi kecilnya. Namun karena kesepakatan bersama, kami memutuskan untuk mencari pantai yang agak sepi agar suasana kedamaian dan ketenangan bisa kami dapatkan. 

Setelah saling menyembur air ludah beberapa saat, kami akhirnya sepakat untuk memilih Pantai Ngudel sebagai tujuan kami nantinya. 

Menuju lokasi Pantai Ngudel

Kami berangkat pada Jumat dini hari dari Solo menuju ke Pantai Ngudel yang berlokasi di Sidurejo, Gedangan, Malang, Jawa Timur. Perjalanan sampai ke lokasi membutuhkan waktu setidaknya antara 7-8 jam.

Bayangkan saja sakitnya pantat kami saat naik motor dari titik awal sampai ke tujuan dan hanya mampir sekali untuk kencing di pom bensin. Mungkin jika di masa depan ada manusia baru dengan pantat yang tebal, bisa jadi itu salah kami. 

Selama perjalanan memang tidak ada yang mengasyikkan, terasa sangat biasa-biasa saja karena fokus kami memang ingin sampai ke tujuan secepat mungkin. 

Setelah beberapa jam berlalu akhirnya kami sampai di pertigaan dengan plang bertuliskan Pantai Ngudel. Kami berhenti sejenak untuk melepas penat dan melihat sekeliling lalu melanjutkan perjalanan lagi untuk sampai di lokasinya.

Harga tiket masuk Pantai Ngudel

Hari memang belum begitu panas karena kami sampai di tujuan pas jam 9 pagi. Setelah meminta izin untuk mendirikan tenda dan membayar retribusi sekitar Rp12 ribu per orang, kami buru-buru cari tempat yang pas dengan sudut pandang yang ciamik. 

Prepare kami memang dibilang sangat perfect dan betul-betul diperkirakan sebelumnya. Jadi masing-masing orang membawa tas carrier yang besar berisi logistik dan perlengkapan yang lengkap. 

Kami memang suka sekali camping, kalau dihitung sudah puluhan kali kami camping bersama. Jadi peralatan yang dibawa saat ini hasil dari mencicil selama berbulan-bulan sebelumnya. 

Setelah semua logistik dan peralatan dikeluarkan, kami langsung membagi tugas untuk tiap orangnya. Kebetulan saya yang bertugas untuk mendirikan tenda dan menata kursi camping. 

Ada yang mencari kayu bakar untuk api unggun nanti malam, ada yang mempersiapkan bahan makanan untuk dimasak, dan ada juga yang mencari informasi tentang sumber air atau wisata terdekat pantai ini.

Pantai Ngudel. Foto: Unsplash/Ardito Ryan Harrisna

Pemandangan sekitar yang alami dan asri

Menurut informasi, ada beberapa pantai di sekitar lokasi tempat camping kami yaitu Pantai Kletekan dan Pantai Kuncaran, namun untuk camping memang paling bagus di Pantai Ngudel ini. 

Untuk lokasi campingnya di pantai ini sebetulnya ada dua titik rekomendasi yaitu di pantainya atau di Bukit Asmara yang tak jauh dari tempat kami mendirikan tenda. 

Suasana yang tenang dan tak banyak pengunjung yang datang menjadi sangat memikat. Angin sepoi-sepoi yang berhembus disertai dengan deburan ombak yang manja sangat menenangkan pikiran. 

Salah satu rekan kami yang bernama Anton, selesai mempersiapkan masakannya, kami pun makan berempat bersama sambil ngeteh dan ngopi. Tentu bisa bikin banyak orang jadi iri, ya?

Di tengah kesibukan kami saat bekerja, memang harus ada waktu untuk dihabiskan bersama. Bisa dibilang kalau ngecamp gini hanya bisa dua bulan sekali. Maka dari itu setiap menit yang dihabiskan di sini sangat berharga. 

Beberapa pantai di Malang memiliki pulau karang kecil yang ada di pantainya. Untungnya, Pantai Ngudel ini juga punya. Mau berfoto gaya apapun, hasilnya tak akan mengecewakan, pokoknya cocok buat feed di Instagram-lah!

Menjelang sore hari, saya kira pemandangannya bakalan seperti pantai pada umumnya. Tapi ternyata, sunsetnya lebih menarik dibandingkan pantai yang lain di pesisir selatan Pulau Jawa. Cahaya keemasan dan tanpa awan yang menghalangi bisa bikin merinding orang yang melihatnya. 

Malam pun tiba, tanpa ada penerangan lampu dari pengelola atau lampu sepeda motor pengunjung yang masih menyala. Hanya ada cahaya dari depan tenda kami saja. 

Inilah yang kami cari, mungkin jika flashback saat awal-awal kami ngecamp di salah satu pantai Gunung Kidul. Tentu pemandangan seperti ini sangatlah ngeri, apalagi dengan bumbu cerita masyarakat lokalnya tentang mitos atau horornya, pasti kami memilih untuk pulang.

Namun beda cerita saat sekarang, ditambah lagi kami berangkat berempat. Jika ada hal yang aneh, seenggaknya kami bisa teriak ramai-ramai seperti kerumunan kera saat salah satu anggotanya dinodai oleh pengunjung. 

Malam yang semakin menjanjikan karena terlihat bintang di atas tenda kami yang bertaburan tak terhitung jumlahnya. Untungnya tidak ada awan yang menghalangi, jadi bisa terlihat jelas betapa kecilnya kami berempat dibandingkan dengan tatanan angkasa yang tak terbatas. 

Kami mulai menyalakan api unggun yang tidak terlalu besar agar dapat menyala sampai dini hari. Cerita demi cerita, tegukan demi tegukan, kami lakukan bersama. Mungkin momen-momen seperti ini yang tidak ingin kami skip. Berlanjut sampai subuh, barulah kami memutuskan untuk tidur. Saat bangun ternyata jam tangan sudah menunjukkan pukul 9 pagi.

Sebetulnya, sunrise di Pantai Ngudel sangat indah

Ah sialan, sunrise yang kami ingin lihat bersama sudah terlewat begitu saja. Kegoblokan itu memang masih sering kami lakukan, sih. Harusnya memang tak boleh tidur terlalu pagi atau seenggaknya mending nggak usah tidur sekalian agar sunrisenya nggak kelewat lagi. 

Di beberapa tempat sebelumnya juga terjadi hal yang sama, padahal tempat tersebut sangat direkomendasikan untuk melihat sunrise. Ya apa boleh buat, namanya manusia tempatnya salah, ya kan?

Di Pantai Ngudel ini ada papan peringatan yang tertulis untuk tidak mandi di pantainya. Terang saja, ombak di pantainya memang cukup besar mengingat lokasinya di sisi selatan Pulau Jawa. Kami hanya menghabiskan waktu bermain di bibir pantainya saja atau sekedar membuat kastil dari pasir putihnya. 

Saat siang terlihat adanya penjual degan atau kelapa muda, pas sekali di saat kerongkongan mulai mengering. Per buah dijual dengan harga Rp10 ribu saja. Bahkan kami membeli dua buah degan untuk diminum saat sore nanti per orangnya. 

Berbagai aktivitas seru bisa dilakukan di sini, mulai dari melempar tutup cat seperti atlet frisbee, mengubur diri di dalam pasir, sampai bermeditasi untuk mendapatkan ketenangan jiwa. 

Hingga jam tangan menunjukkan pukul 3 sore, kami pun bersiap untuk pulang. Tak lupa sampah-sampah kami kumpulkan dan dibuang bak sampah yang tersedia di sana. 

Sebagai tips seorang camper sejati, kami selalu membersihkan tempat camping kami dengan radius sekitar lima meteran. Entah itu sampah sendiri atau orang lain, tetap kami ambil dan buang pada tempatnya. Hebat kan?

Butuh setidaknya satu jam untuk prepare sebelum pulang. Kami juga tak ingin berlama-lama, takutnya di jalanan sudah terlalu gelap. Belum lagi butuh waktu berjam-jam untuk sampai di kota asal kami. Ah, sayangnya dokumentasi perjalanan ke Pantai Ngudel hilang bersama ponsel yang tiba-tiba black screen. Yasudah, tandanya harus kembali lagi ke sana.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Nico Krisnanda seorang anak biasa yang punya mimpi besar, untuk tetap bernapas dan bisa membantu orang di sekitarnya menjadi tokoh-tokoh penting dunia!

Nico Krisnanda

Nico Krisnanda seorang anak biasa yang punya mimpi besar, untuk tetap bernapas dan bisa membantu orang di sekitarnya menjadi tokoh-tokoh penting dunia!
Artikel Terkait
Sampah KitaTravelog

Kembali ke Merbabu, Kali Ini Tanpa Sampah

Travelog

Kali Pertama Merasakan Berada di Dalam Perut Bumi

Travelog

Pantai Balekambang: Perjalanan yang Tak Direncanakan

Sampah KitaTravelog

Berkemah Tanpa Sampah, Apakah Jadi Susah?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *