Travelog

Pantai Indrayanti, Gunung Kidul, Seharusnya Jadi Tempat Favorit

Pantai Indrayanti terletak di Desa Tepus, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunung Kidul. Untuk menuju ke lokasi, dari Kota Yogyakarta, kita menuju ke Wonosari, Kota Kecamatan yang menjadi Ibukota Kabupaten Gunung Kidul. 

Apabila kita sudah sampai di Wonosari, lajukan kendaraan sampai di Jalan Sugiyopranoto. Selepas pertigaan Jalan Sugiyopranoto Jalan Pramuka, tekuk kanan ke arah Jalan Baron. Jalan ini sangat panjang, membentang sampai nyaris di pesisir Pantai Selatan Gunung Kidul. 

Karena panjangnya, bila pertama kali menuju ke Pantai Indrayanti, seolah tidak sampai-sampai selama di Jalan Baron.  Tapi sepanjang Wonosari sampai Jalan Baron, kalian akan disuguhi pemandangan yang indah terutama ketika melaju pagi-pagi benar. Sebetulnya indah juga saat sore, hanya jangan terlalu sore deh kalau mau ke Pantai Indrayanti. Nanti dijelasin di bawah alasannya ya. 

Jalan Baron akan berakhir di wilayah Citepus. Ujungnya di Pertigaan Jalan Baron, Jalan Saptosari Citepus. Di situ kalian belok kiri. Selepas Pantai Krakal sekira 2 km kalian akan sampai di Pantai Indrayanti. Kondisinya bagus. Hanya saja kalian harus berhati-hati dengan tanjakan, turunan dan tikungan tajam.  Jalan yang membentang sejauh 19,9 km dari pertigaan Jalan Sugiyopranoto ini tidak bisa diestimasikan berapa waktu tempuhnya, tergantung kepiawaian pengemudi saat berkendara di jalan yang menurutku cukup sulit.

Sekitar 10 km jelang lokasi pemandangan bukit-bukit kapur dan karang di kanan kiri jalan sudah tampak. Kita juga akan menembus hutan heterogen dan juga hutan jati. Rasanya sejak Baron sampai pantai, perkampungan tidak begitu banyak. Inilah sebabnya, aku sarankan kalau ke Pantai Indrayanti kalian tidak pulang malam. 

Aku ngalamin benar agak kikuk dengan gelapnya jalan, setelah pulang dari pantai ini selepas pukul 18.00 WIB. Jalanan sepi. PJU  sejak pantai sampai kurang lebih 10 km setelahnya tidak nampak. Sebaiknya kalian pun tidak pergi ke sana dengan taksi online, karena bisa sampai saat pergi, belum tentu dapat taksi online saat pulang dari pantai. Apalagi selepas pukul 16.00 WIB.

Pantai Indrayanti Sangat Indah dan Bersih

Pantai Indrayanti/Morgen Indriyo Margono

Tiba jelang pantai, kita akan melihat sederetan villa dan cottage, yang nampak sepi saat kami kunjungi 6 April lalu. Pantai  tampak samar terlihat dari jalan, karena deretan resto, kedai, toko, dan warung. Di antara resto kedai dan warung itu, ada  sejumlah gang untuk menuju ke pantai.

Cukup mencengangkan sih sesaat setelah muncul di ujung gang itu. Hamparan pasir  putih membentang sekira 700 meter dengan ujung kanan kiri tebing cukup tinggi menjulang. Di atas tebing, baik di Timur maupun di Barat ada spot selfie dan beberapa gazebo untuk beristirahat sambil memandang ke laut lepas.

Di pasir pantai selepas teras rumah makan atau resto, ada bangku-bangku dan meja yang disiapkan bila pengunjung ingin bersantap di pantai.  Dari pantai kalau kita berfoto dengan sudut tertentu, gambar yang dihasilkan malah akan terasa seperti di Bali.

Pasir putihnya bersih, tidak ada sampah, karena pengelola akan memberikan denda pada pengunjung yang membuang sampah sembarangan. Itulah nilai plus dari pantai ini. Keindahannya terjaga dan pengunjungnya pada awal pekan itu, bisa dibilang sepi. Berbeda dengan pantai-pantai lain yang saat hari kerja pun cukup ramai.

Keramaian Pantai Indrayanti/Morgen Indriyo Margono

Itu juga yang barangkali menjadi alasan, kenapa aktivitas niaga baik kuliner maupun souvenir sudah tutup pada pukul 18.00 WIB. Kami berlima, aku, istri, anak, adik dan driver mobil yang kami sewa menjadi pengunjung terakhir yang pulang lepas pukul 18.00 WIB. Driver kami, Pak Bono mimik wajahnya seperti kikuk. Entah ada cerita yang disembunyikan, atau memang khawatir pada kami yang baru muncul dari pantai ke tempat parkir pukul 18.15 WIB, sementara sejak pukul 17.50 WIB sudah tidak ada satupun pengunjung di pantai.

Seharusnya Bisa Jadi Tempat Wisata Favorit

Pantai Indrayanti memiliki pesona yang  khas. Dua bukit karangnya yang mengapit pantai, kebersihannya,  rimbunan hutannya di utara jalan, bila dikembangkan dan di tata ulang, bisa jadi lebih cantik dari kondisi yang sudah baik saat ini.

Membaca tulisan yang kucari di Google, saking penasarannya pada kondisi sepi pada senja hari, bisa kita dapatkan info bahwa pengelolanya dilakukan secara bersama oleh para pemilik usaha di tempat tersebut. Pemerintah daerah setempat tidak terlibat dalam pengelolaannya. Gosipnya sih Pemda setempat sempat mutung, karena berubahnya nama pantai dari Pantai Pulang Syawal jadi Pantai Indrayanti yang diabadikan dari nama pionir pengelola rumah makan di pantai tersebut. Padahal jika saja ada keterlibatan pemerintah, kondisinya selain akan lebih baik, potensinya pun akan berkembang sehingga semakin diminati oleh wisatawan sebagai tempat berlibur.

Tidak hanya di pantai, sepanjang jalan Baron menuju ke lokasi, memiliki potensi untuk wisata adventure. Untuk menginap pun rasanya memiliki nuansa yang berbeda dengan pantai lainnya yang sudah eksis di Gunung Kidul. Untuk makan pun, di pantai ini harganya ramah di kantong.  Berkisar antara Rp18 sampai Rp30 ribuan. Kecuali seafood ya. Tahu sendiri kan harga seafood bagaimana. Eh jangan lupa, kalau ke sini coba  nasi goreng kerangnya. Mak nyussss.

'Senior broadcaster' di Bandung dan konsultan komunikasi.

'Senior broadcaster' di Bandung dan konsultan komunikasi.
Artikel Terkait
Travelog

Menyusuri Titik Nol Kota Banjarmasin

Travelog

Pantai Pulodoro, Sebuah Kesunyian

Travelog

Mencoba Berjalan di Jembatan Gantung Terpanjang se-Asia Tenggara

Travelog

Perjalanan Menyusuri Pulau Rote

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *