Travelog

Pantai Balekambang: Perjalanan yang Tak Direncanakan

Waktu itu akhir pekan hampir tiba, belum ada rencana ingin pergi kemana-mana. Dalam benak saya hanya ingin ‘me time’ sembari minum kopi dan membaca The Geography of Bliss karya Eric Weiner yang menganggur lama di rak buku. Tak lupa juga mendengarkan John Mayer “Love on the Weekend” dari albumnya The Search for Everything. Ah, benar-benar akhir pekan yang akan menyenangkan rasanya.

Alhasil, ekspektasi akhir pekan ini runtuh seketika dengan ajakan main dari teman saya, Serin. 

“Weekend, main ke Bromo yuk!” Kata dia antusias mengajak. Saya pun tidak kuat iman untuk menolaknya, dan langsung mantab menjawab, “ayo!”

Selepas kerja di hari jumat sore, saya pun langsung bergegas pulang menyiapkan berbagai kebutuhan untuk pergi ke Bromo. Malam hari tepat pukul 23:00 WIB kami berempat berangkat dari Sidoarjo. Sampai di tengah perjalanan, rencana ke Bromo goyah dengan ajakan teman saya, Juli.

“Eh daripada ke Bromo, mending ke Malang aja yuk! Ke pantai aja. Bagus-bagus banget lho, asli..” Katanya semangat merayu kami bertiga.

“Ah masa? Bagus mana sama pantai Indrayanti di Jogja?” Tanya saya memastikan. 

“Ya bagusan pantai di Malang, Pantai Balekambang namanya. Coba searching aja kalau nggak percaya!” Jawab Juli sedikit ngotot. 

Setelah saya searching mengenai pantai Balekambang, akhirnya saya dan kedua teman saya pun penasaran dan setuju. 

Perjalanan kali ini sungguh berlawanan dari rencana awal, namun tak apa. Setiap perjalanan memang memiliki keunikan tersendiri untuk dijalani. 

Tiba di pantai dini hari

 
Pantai Balekambang Malang

Menjelang pagi/Annisa S

Jalanan begitu lengang, bahkan hanya mobil kami yang melintasi sepinya jalan menuju pantai Balekambang. Aksesnya yang mudah, dan jalan yang tidak terlalu rusak juga memperlancar perjalanan kami menuju pantai ini. Hanya bermodal Google Maps, akhirnya kami bisa tiba di Balekambang tepat pukul 04:00 WIB dini hari.

Udara dingin langsung menyapa kami saat membuka kaca pintu mobil, dan pelan-pelan kembali menutupnya. Sembari menunggu matahari terbit dan memindah posisi parkiran, kami menyiapkan baterai dan memasangnya ke kamera. 

Setelah kami keluar dari mobil, kami baru tahu bahwa ada pengunjung yang camping di sini. Awalnya saya kira tidak ada orang, ternyata di samping pohon berjajar dua buah tenda. Tampak orang-orang berjaket lengkap dengan sarung, masih bersama api unggun sisa semalam siap menyambut terbitnya matahari. 

Ah indah sekali, saya duduk di pasir yang sedikit basah beralaskan sandal jepit Swallow warna kuning kesayangan. Menikmati suasana sunyi yang masih sedikit gelap, suara deburan ombak, pun terpaan angin segar, sungguh menjadi pagi yang menyenangkan dan berkesan.

Lokasi Pantai Balekambang

Pantai Balekambang Malang

Suasana pagi yang menyenangkan/Annisa S

Jujur, kami sepanjang perjalanan hanya mengandalkan Google Maps untuk sampai di pantai ini. Perjalanan lancar tanpa halangan, bahkan kami sempat mampir ke alun-alun Batu untuk menyeruput susu murni jahe sebentar. Pantai Balekambang memang mudah diakses, papan petunjuk yang terletak di pinggir bermanfaat untuk menambah keyakinan bahwa jalan yang kamu lalui sudah tepat.

Beralamat di daerah Dusun Jambe, Desa Srigonco Kecamatan Bantur, Malang. Butuh sekitar dua jam perjalanan dari kota Malang untuk sampai ke sini Tapi tenang, jalannya aman dan mudah dilalui. Hanya saja, jangan meniru kami yang melakukan perjalanan di malam hari karena jalanan sangat sepi.

Pura Amarta Jati

Pantai Balekambang Malang

Pura Amarta Jati/Annisa S

Begitu mata melihat ada Pura di sini, saya sungguh penasaran sekali. Tetiba teringat Tanah Lot yang ada di Bali. Ternyata, Pura Amarta Jati digunakan untuk pelaksanaan ritual. Bagi umat Islam, mereka melakukan ziarah dengan berkunjung ke makam Syaikh Abdul Jalil, orang pertama yang membuka kawasan pantai Balekambang.

Setiap tanggal 1 Sya’ban, kawasan ini ramai dikunjungi. Ada makam terpencil, letaknya di tepi kali Berek yang berjarak sekitar 1 km, sebelum masuk kawasan pantai Balekambang.   Uniknya, yang datang ke sini tidak hanya muslim saja. Umat Hindu juga berkunjung ke Pantai Balekambang setiap tahunnya saat perayaan Nyepi.

Suasana pantai

Pantai Balekambang Malang

Suasana pantai/Annisa S

Kawasan pantai ini begitu panjang, jalan kaki dari ujung ke ujung saja sudah membuat saya ngos-ngosan. Pantainya berpasir putih. Batu karang yang menjulang berada di bawah sebuah pura membuat ombak yang menggulung, pecah dan menimbulkan gemuruh ombak hingga ketepian.

Ombak di sini tidak terlalu besar jika dibanding pantai selatan pada umumnya. Bahkan di sini, para pengunjung boleh berenang di pinggir pantai saat siang hingga sore hari. 

Terdapat sebuah teluk di pojok pantai, menyenangkan, cocok untuk anak-anak kecil bermain-main air pantai. Para ibu pun merasa tenang  saat anak-anaknya berenang karena di sana tidak ada ombak. Pelampung dan ban anak-anak serta dewasa juga bisa disewa dengan harga yang cukup terjangkau, mulai dari Rp10.000 saja. Kalau berani, kita bisa juga menjajal wahana flying fox untuk melihat suasana pantai dari ketinggian. Bayarnya cukup murah, hanya Rp20.000 per orang. Pantai Balekambang bisa jadi pilihan pas kalau kamu akan camping, sudah tersedia camping ground dengan fasilitas yang yang memadai.

Walaupun ke Pantai Balekambang menjadi perjalanan yang tak direncanakan, namun malah jadi satu cerita berkesan untuk saya.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI. Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Seorang pekerja konten biasa yang menyukai lagu-lagu John Mayer.

Avatar

Seorang pekerja konten biasa yang menyukai lagu-lagu John Mayer.
Artikel Terkait
Travelog

Perjalanan ke Malino, Kota Bunga yang Teduh

Travelog

Berjumpa dengan Hiu Paus di Probolinggo

Travelog

Camping Semalam di Gili Labak

Sampah KitaTravelog

Sampah di Sudut Kota Padang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *