Itinerary

Orang-orang Pertama yang Mempopulerkan Pendakian Gunung

Pernah nggak sih kamu bertanya-tanya dalam hati: “Siapa sih orang yang pertama kali mempopulerkan pendakian gunung?”

Sayangnya, kayaknya belum ada yang memberi jawaban yang pasti. Tapi, dulu pas Zaman Keemasan Pendakian Gunung (akhir 1850-an sampai 1865), ada beberapa orang yang dianggap sudah berjasa buat bikin kegiatan naik gunung jadi makin digemari. Inilah tiga di antaranya:

1. John Ball (1818-1889)

mempopulerkan pendakian gunung

Foto John Ball via en.wikipedia.org

Presiden pertama klub alpinis pertama di dunia, the Alpine Club yang didirikan tahun 1857, ini mempopulerkan pendakian gunung lewat tulisan-tulisannya.

Karyanya yang paling tenar adalah the Alpine Guide. Dangar dan Blakeney dalam “The Rise of Modern Mountaineering and the Formation of the Alpine Club 1854-1865” menyebut bahwa “Ball punya kepekaan yang tinggi terhadap (kondisi topografi) dan meluangkan waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan materi Alpine Guide” (Dangar & Blakeney, n.d; 17).

Selain karena Alpine Guide, John Ball juga terkenal karena menjadi orang pertama yang mendaki Puncak Monte Pelmo di sebelah timur laut Italia pada tahun 1857. Ia juga pernah traveling ke Maroko dan Amerika Selatan.

2. Albert Richard Smith (1816-1860)

mempopulerkan pendakian gunung

Gambar Albert Smith via en.wikipedia.org

Albert Richard Smith, lahir di Surrey, adalah anak seorang ahli bedah. Makanya wajar saja kalau ia akhirnya belajar di jurusan kedokteran. Tapi Albert Smith ternyata lebih senang menulis ketimbang mengobati orang. Akhirnya ia milih untuk nggak melanjutkan kuliahnya.

Tulisan pertamanya, yang terbit di Mirror, bercerita tentang kehidupannya selama di Paris. Tahun 1849 dia traveling ke Konstantinopel. Pulang-pulang, dia menulis sebuah buku perjalanan yang berjudul “A Month at Constantinople.” Smith pun makin populer.

Bulan Agustus 1951 dia mendaki Mont Blanc yang terletak di antara Prancis dan Italia. Sepulang dari pendakian, dia merilis buku berjudul “The Story of Mont Blanc,” yang ceritanya kemudian ditampilkan di Egyptian Hall, Inggris, sebagai “Mont Blanc.” Selama enam tahun pertunjukan, “Mont Blanc” ditampilkan sekitar 2.000 kali dan sukses mempopulerkan pendakian gunung. Jumlah pendaki Mont Blanc pun melonjak drastis (Hansen, 1995; 300). Smith adalah salah satu pendiri the Alpine Club.

3. Sir Alfred Wills (1828-1912)

mempopulerkan pendakian gunung

Foto monokrom Sir Alfred Wills via en.wikipedia.org

Terlahir sebagai anak seorang pengacara sukses Birmingham, Alfred Wills tentu saja punya akses buat pendidikan berkelas. Dia akhirnya kuliah di University College, London, dan jadi salah satu lulusan terbaik di bidang ilmu-ilmu klasik, matematika, dan hukum.

Alfred Wills jadi tenar di Inggris setelah mencapai Puncak Wetterhorn di Swiss pada tahun 1854—saat ia sedang berbulan madu bersama istrinya. Ia dianggap sebagai orang yang pertama tiba di Wetterhorn. Padahal, sepuluh tahun sebelumnya, tahun 1844, Hans Jaun dan Melchior Banholzer sudah lebih dulu tiba di sana.

Dalam sebuah tulisan di The Alpine Journal berjudul “The Eagle’s Nest,” Peter Berg menyebut bahwa “keberhasilan” Alfred Wills inilah yang dianggap sebagai tonggak kelahiran Zaman Keemasan Pendakian Gunung (The Golden Age of Mountaineering) (hal. 207). Sejak itu pendakian gunung makin populer. Alfred Wills juga ikut mendirikan the Alpine Club dan sempat menjabat jadi presiden ketiga klub (1863-1865).

Nah, di antara ketiga orang yang mempopulerkan pendakian gunung itu, yang mana yang namanya sudah pernah kamu dengar?


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
ItineraryPerjalanan Lestari

Q&A: Extinction Rebellion Indonesia tentang Ancaman Krisis Iklim

ItineraryNusantarasa

Menyantap Tiram Bakar Khas Barru

Itinerary

Masjid Menara Kudus, Kemegahan Arsitektur Kuno Warisan Sunan Kudus

Itinerary

Museum Layang-Layang Indonesia: Merawat Keelokan Budaya dengan Permainan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.