Travelog

Pas Nunggu Kereta di Stasiun Wates

Jadi pas nunggu kereta di Stasiun Wates kemaren, ada anak muda, wedok, yang ujug-ujug ngejak ngobrol. Pertama aku kira tukang hipnotis. Tapi, pas dia bilang ibunya asli Gunungkidul, aku langsung sumringah. Soalnya aku juga asli sana.

“Gunungkidul-nya mana?” kutanya.

“Wonosari, Bu. Cuma memang dari dulu sudah merantau ke Jakarta,” begitu jawabnya.

Berarti ibunya sama kayak aku. Asli Gunungkidul, merantau ke Jakarta.

Dia cuma sendirian. Gembolannya tas gede, tentengan warna kuning, sama tas selempang merah kotak-kotak. Pas aku tanya umur, jawabannya bikin kaget: “Dua-puluh dua tahun, Bu.”

“Berani banget kamu, Nak. Nggak takut?”

“Udah biasa, Bu,” begitu dia jawab. Ndak ragu-ragu. Jarang banget aku ketemu anak perempuan seumuran dia yang jalan-jalan sendirian.

Terus dia lanjut cerita. Katanya, rasa takut pasti ada, tapi dia selalu cari cara supaya takutnya hilang. Lagian, ternyata dia juga udah rampung kuliah, di Unpad, terus nyambut gawe jadi wartawan, nulis soal jalan-jalan di media Jakarta. Wartawan ndak mungkin takutan.

stasiun wates
Ruang tunggu di Stasiun Wates/Dewi Rachmanita Syiam

Nah, ini dia mau balik ke Jakarta naik Gaya Baru Malam jam enam kurang seperempat nanti. Biar ndak ketinggalan kereta, dia bela-belain mangkat naik Prameks ke Stasiun Wates jam dua siang. Kalau naik Prameks berikutnya ya ndak nyandak. Sambil ketawa, dia bilang kalau dia udah dicari-cari orang kantor karena kelamaan mondar-mandir di Jogja. Lihat dia ketawa, aku ikutan ketawa.

Ndak tau kenapa, aku kok seneng ngobrol sama dia. Aku nyaman-nyaman aja cerita urusan pribadi. Aku cerita ke dia soal suamiku yang kena stroke. Ternyata bapak si anak ini juga baru kena stroke. Syukurnya ndak parah. Udah mendingan. Dia ngasih saran buat ngasih suamiku black garlic, bawang putih hitam. Ampuh katanya buat stroke.

Aku juga cerita soal anakku yang baru aja kena begal di Pamulang. Jadi kemaren itu dia baru pulang jualan baju di mal. Pulangnya malem banget. Sendirian. Pas lewat jalan sepi, dia dipepet orang. Jatuh. Untungnya uang dagangan selamat karena udah dibawa pulang sama kancane.

Dikit-dikit aku juga cerita soal Gunungkidul jaman mbiyen. Dulu belum ada wisata-wisata. Boro-boro wisata, makan aja susah. Nasi susah. Kami dulu maem singkong. Nggolek banyu yo angel. Dia ketawa-ketawa aja denger ceritaku. Dia bilang, ibunya juga banyak cerita soal Gunungkidul jaman dulu.

Lama kami cerita-cerita. Cuma ya akhirnya kami mesti pisah pas mau berangkat dari Stasiun Wates. Dia pamit, terus jalan bawa gembolannya. Banter banget jalannya. Aku sama bapak ya pelan-pelan aja di belakang.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Dewi Rachmanita Syiam

Menggemari perjalanan, musik, dan cerita.
Related posts
Travelog

Perjalanan Menuju Baduy Dalam

Travelog

Mencari Udara Segar di Gunung Penanggungan

Travelog

Pulau Talango dan Kenangan Manis di Seberang Madura

Travelog

Rumah-rumah Tak Berpagar di Kampung Baru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *