IntervalPilihan Editor

NuArt Talks dan Renungan Menjelang Hari Anak Nasional

Minggu lalu, 12 Juli, saya mengikuti diskusi yang diselenggarakan oleh NuArt Sculpture Park, “NuArt Talks: Cerita Sudut Kota,” tentang bagaimana budaya dapat memengaruhi seseorang dan membuat orang itu ingin terus melestarikannya.

Narasumbernya Wan Harun Ismail dan Samuel Miguel. Wan Harun Ismail adalah seorang penari dan koreografer muda dari Kampar, Riau. Ia mulai menggeluti seni tari sejak SMA saat mengikuti seleksi di sekolahnya. Narasumber kedua adalah Samuel Miguel. Pemuda yang akrab dipanggil Glenn ini seorang pemusik asal Jayapura, Papua. Ia sempat berkuliah di UNRIYO Jurusan Hubungan Internasional dan ISI Yogyakarta Jurusan Etnomusikologi. Memilih untuk berhenti kuliah, ia kemudian mengikuti berbagai kursus, di antaranya kursus alat musik dan bahasa.

Banyak hal yang telah mereka lalui untuk berkontribusi terhadap perkembangan budaya Indonesia. Wan Harun, misalnya, memperlihatkan keseriusannya dengan mempelajari seni hingga jenjang S-2. Karya terbarunya, “Bokal,” pun masuk Ruang Kreatif 2019 Bakti Budaya Djarum Foundation dan dipentaskan di Galeri Indonesia Kaya.

Sementara Glenn selalu membawa ukulele miliknya sebagai teman untuk menyanyikan lagu-lagu tradisi di lingkungannya. Yang ia lakukan adalah mencoba mempertahankan tradisi dari lingkup terkecil. Cita-citanya, ketika nanti pulang ke Jayapura ia ingin membuat sebuah lagu berbahasa daerah untuk anak-anak di sana. Glenn juga mengungkapkan kekhawatirannya soal tradisi yang pelan-pelan menghilang karena tak ada lagi yang peduli untuk meneruskannya. Menurutnya, hal ini sudah tampak dari sikap anak muda di lingkungannya yang tak acuh seni budaya dan tradisi.

Dari cerita perjalanan kedua sosok tersebut dalam melestarikan budaya, saya menangkap satu benang merah: ada cerita soal pertentangan dengan pihak orangtua. Kedua orangtua mereka sama-sama tak menyetujui jalan hidup yang dipilih anaknya. Jalur seni dianggap tak menjanjikan masa depan yang cerah.

Namun ada ironi di sini, yakni kenyataan bahwa orangtua mereka masing-masinglah yang memperkenalkan seni pada meraka. (Wan Harun bercerita bahwa lagu-lagu daerah yang dinyanyikan orangtuanya ketika ia kecil sangat membekas di hatinya dan membuatnya ingin melestarikan tradisi. Lagu yang biasa dinyanyikan oleh ibu Wan Harun adalah bentuk tradisi lisan batimang, lantunan yang biasa dinyanyikan untuk menidurkan anak, berisi harapan dan doa orangtua terhadap anaknya.)

Beruntung, Wan Harun dan Glenn memiliki tekad kuat untuk mewujudkan cita-citanya. Mereka tak pernah menyerah memperjuangkan impian melestarikan tradisi daerah masing-masing meskipun mesti berhadapan dengan ketidaksetujuan orangtua. Namun Wan Harun dan Glenn adalah pengecualian. Kenyataannya, banyak anak Indonesia yang menyimpan impiannya dalam kotak dan memilih menuruti kehendak orangtua. Ada yang sukses, namun tak jarang juga yang malah gagal lalu kebingungan mencari tujuan hidupnya.

Toleransi mungkin bisa menjembatani hubungan antara anak dan orangtua dalam kasus seperti yang dialami kedua seniman tersebut. Orangtua seharusnya dapat menghargai jalan hidup yang dipilih oleh anaknya. Kalau memang terdapat ketidaksesuaian dengan yang diharapkan orangtua, baiknya didiskusikan dan dicarikan solusi.

Sebanyak 800 anggota Sahabat Anak Marjinal dari Jabodetabek, terdiri atas anak jalanan, anak gerobak, dan anak keluarga tidak mampu, belajar menyampaikan aspirasinya pada Hari Anak Nasional di Jambore Sahabat Anak, Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta Selatan, 30 Juli 2016 via TEMPO/Aditia Noviansyah

Salah satu hal yang bisa membangun toleransi adalah pikiran yang terbuka. Seseorang dikatakan sukses bukan hanya ketika ia menjadi dokter dan arsitek. Jika dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, pekerjaan-pekerjaan lain pun akan membuat seseorang mencapai kategori sukses. Dengan pikiran terbuka seperti itu, orangtua mestilah akan mendukung penuh pilihan anaknya.

Sebentar lagi, tepatnya pada tanggal 23 Juli, Indonesia akan memperingati Hari Anak Nasional. Mari bersama-sama tumbuhkan rasa toleransi dan berikan kebebasan bagi anak untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri. Jika mereka ingin mempelajari seni dan budaya, misalnya, dukunglah mereka.

Sebagai penutup, barangkali kita perlu mengingat kembali bahwa tradisi adalah kebiasaan yang secara turun-temurun hidup dalam suatu kelompok masyarakat, sementara budaya adalah cara hidup yang berkembang dan dimiliki oleh suatu kelompok masyarakat yang kemudian diwariskan dari generasi ke generasi; tradisi merupakan identitas dari suatu budaya.

Jika demikian, justru sepatutnya kita respek pada anak kita jika memilih jalur seni dan budaya, sebab itu berarti mereka berkontribusi bagi terpeliharanya budaya dan tradisi, menjadi penjaga yang memastikan bangsa ini takkan kehilangan jati diri.

Seorang guru TK yang suka menulis di waktu senggang. Kerap ditemani musik dan teh panas sebagai teman menulis.

Nita Fitriani

Seorang guru TK yang suka menulis di waktu senggang. Kerap ditemani musik dan teh panas sebagai teman menulis.
Artikel Terkait
IntervalPilihan Editor

Sepiring Paramaribo di Amsterdam

Pilihan EditorSemasa Corona

Akhirnya Aku Bisa Pulang

IntervalPilihan Editor

Turisme, Cahaya, dan Pencarian yang (Tak) Sederhana

IntervalPilihan Editor

Suka Duka di Balik Panen Raya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *