TRAVELOG

Mitos ‘Prestasi’ Desa Wisata Pulau Sapi

Desa wisata sering dianggap sebagai harapan untuk mengejar ketertinggalan pembangunan desa. Gagasannya memanfaatkan area yang memiliki keunikan atau potensi daya tarik wisata untuk merasakan pengalaman keunikan kehidupan dan tradisi masyarakat. Hal ini relevan dengan orientasi wisatawan yang kini lebih mencari pengalaman di suatu tempat. 

Desa wisata menjadi gagasan untuk melakukan distribusi kemakmuran warga hingga ke desa. Mereka yang memiliki uang melakukan perjalanan ke desa, mengalami kehidupan di sana, membelanjakan uang untuk produk lokal. Dengan begitu, gagasan distribusi kesejahteraan bisa terwujud. Sayangnya, dalam beberapa kasus, pariwisata yang merasuk hingga ke desa kadang menjadikan orang-orang melucuti diri, meresahkan, bahkan desa kadang memoles wajah dari identitasnya.

Geliat pembangunan wisata juga tumbuh di Desa Pulau Sapi, Malinau, Kalimantan Utara. Desa ini telah memoles diri, menjadikan rumah-rumah warga dengan ragam motif etnik atas nama ‘prestasi’ pariwisata.

Corak khas Dayak di rumah warga Desa Pulau Sapi (Abdul Masli)
Corak khas Dayak di rumah warga Desa Pulau Sapi/Abdul Masli

Pulau Sapi dan Efek Samping Pariwisata

Permukiman penduduk Desa Pulau Sapi dihuni oleh mayoritas beretnis Dayak Lundayeh di Kecamatan Mentarang. Jarak tempuhnya 15 menit dari pusat kota Malinau. Ia dikenal sebagai desa wisata dengan balai adat dan rumah-rumah warga yang dihiasi dengan ragam motif ukiran. Pada tahun 2018 mencatatkan Rekor Dunia Muri Indonesia sebagai desa wisata dengan rumah terbanyak berhias motif etnik. Acara budaya, kuliner dan buah tangan hasil kreasi orang Dayak Lundayeh bisa dijumpai di sana.

Keberadaan Desa Pulau Sapi tidak lepas dari sejarah perpindahan masyarakat Dayak Lundayeh dari Long Lemutu. Sejumlah tokoh masyarakat Desa Long Lemutu yang diprakarsai oleh Almarhum Daring Laban. Pada masa itu, mereka mengadakan musyawarah untuk mencari jalan keluar dari keadaan hidup yang sulit dan sepakat untuk mengadakan perpindahan ke daerah yang lebih baik. Akhirnya, pada tahun 1953, melalui persetujuan Camat Krayan, mereka mengadakan rapat pelaksanaan perpindahan masyarakat dari Long Lemutu. 

Pemerintah Desa Pulau Sapi menyebut perpindahan masyarakat yang kini menghuni Pulau Sapi berlangsung dalam tiga gelombang. Pertama, sekitar bulan Mei 1954, berangkat menuju Taras dengan rombongan yang diketuai oleh Lufung Akat. Enam bulan kemudian di tahun yang sama, rombongan kedua berangkat—terdiri dari Yarun Selutan dan lain-lain. Tahun 1955, gelombang ketiga perpindahan oleh Daring Laban, Basar Ukung, dan lain-lain, berangsur-angsur mengisi daerah baru; termasuk Pulau Sapi, setelah meninggalkan Long Lemutu.

“Penyebutan Desa Pulau Sapi karena adanya peristiwa pada masa lalu yang menemukan bangkai seekor sapi yang terdampar hanyut dari hulu sungai. Letaknya tepat di seberang desa,” terang Rudi, Kepala Desa Pulau Sapi.

Pada tahun 2022, Pulau Sapi menerima penghargaan “50 Besar Terbaik Anugerah Desa Wisata Indonesia” yang setahun sebelumnya hanya masuk 300 besar. Humas Kabupaten Malinau menyebut, Pulau Sapi dijadikan desa wisata karena memiliki potensi seni budaya. Dari sisi tata kelola pemerintahan, dinilai baik dengan bukti keamanan, ketertiban, bersih, indah, sejuk, ramah dan menjadi kenangan setiap orang yang berkunjung. Desa ini juga dijadikan sebagai kegiatan Pusat Pertanian Rakyat Sejahtera (PPRS) dengan pengembangan konsep agrowisata pertanian-perkebunan.

Suasana sepi di halaman Sapu Jagad Homestay Desa Wisata Pulau Sapi (Abdul Masli)
Suasana sepi di halaman Sapu Jagad Homestay Desa Wisata Pulau Sapi/Abdul Masli

Sayangnya, ketika kami datang, desa terlihat sepi. Balai adat tertutup, bahkan kami kesulitan menemukan pengelolanya. Lantas apa artinya prestasi-prestasi yang telah diraih itu? Mendapati realitas sepi, rasanya prestasi tersebut tak lebih sebagai mitos yang terlalu diagung-agungkan. Teringat ungkapan Nurdiyansah Dalidjo dalam bukunya, Desa Wisata: Paradigma Pembangunan Alternatif untuk Pariwisata Berkelanjutan (INSIST Press, 2024). Ia menyebut fenomena ini sebagai turistifikasi.

Dalidjo memandang turistifikasi sebagai dampak buruk dari pariwisata. Menimbulkan jurang pemisah yang kian terjal antara wisatawan dan warga lokal sebagai tuan rumah. Jurang tersebut terlihat dari adanya pandangan masyarakat yang makin materialistis (wisatawan sebagai sumber uang), inferioritas wisatawan (masyarakat sebagai objek), kemiskinan, degradasi lingkungan, eksploitasi seksual, terganggunya tatanan sosial, kemerosotan potensi ekonomi daerah, hingga ancaman bagi keberlangsungan sejarah-budaya. 

Salah satu dampak besar yang kerap dialami suatu kawasan pariwisata adalah perubahan masif sebuah desa atau kawasan perdesaan. Hal ini menjadi konsekuensi dari industri pariwisata yang kehadirannya dapat mendikte cara hidup baru. Seperti dibaca Agung Wardana, akademis-aktivis dari Universitas Gadjah Mada. yang dilihatnya pada konteks pariwisata Bali dalam bukunya Berebut Bali: Pertarungan atas Ruang dan Tata Kelola (INSISTPress, 2024). Ia menyebut, pariwisata adalah struktur ekonomi yang punya kuasa untuk mendiktekan cara-cara yang seharusnya digunakan masyarakat untuk memahami dan memaknai dirinya sendiri.

Ketika desa masuk proses industrialisasi sebagai destinasi wisata, cara hidup baru juga bisa ikut. Dampaknya desa berubah hampir serupa dengan kota yang lebih dulu menjelma pusat kapital, yakni pusat pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik. Perubahan dan pembangunan desa yang tidak disertai perencanaan tata ruang berkelanjutan, bisa memunculkan peluang hadirnya penyingkiran akibat hierarki ekonomi dari relasi timpang antara warga tempatan dengan wisatawan.

Perajin anyaman rotan (kiri) dan etalase batik Kalimantan Utara di Desa Wisata Pulau Sapi/Abdul Masli

Mengenal Penanda Orang Dayak Lundayeh

Langit masih tampak biru merona dengan sedikit awan putih tipis saat kami tiba di Pulau Sapi. Tidak ada angin berembus. Mobil diparkir di halaman samping Balai Adat Dayak Lundayeh. Ketika turun dari mobil, paparan sinar matahari langsung menyengat kulit. Kami melangkah menuju sebuah patung buaye tana dengan mulut terbuka berukuran besar di samping balai adat. Patung ini terbuat dari semen. Di sampingnya sebuah totem yang puncaknya bermotif wajah manusia berdiri. Orang Dayak Lundayeh menyebutnya tiang ulung. Patung buaye tana dan tiang ulung sebagai penanda permukiman orang Dayak Lundayeh.

Pada masa lalu, orang Dayak Lundayeh rutin menggelar ritual nuwi ulung setelah menang perang sebagai wujud rasa syukur. Mereka akan mendirikan ulung (tiang) di samping sebuah patung yang diukir menyerupai buaya atau buaye tana. Ritual pendirian ulung melibatkan banyak orang. Setelah ulung berdiri, mereka akan menari mengelilingi patung buaye tana selama berhari-hari sembari minum burak (tuak) sebagai perayaan.

Membentang jauh ke masa kini, Pemkab Malinau menghadirkan patung buaya di sekitar lapangan panggung budaya Padan Liu Burung. Setiap tahun, pada peringatan hari jadi kabupaten, perayaan irau dan ritual nuwi ulung digelar di sana. Melibatkan seluruh kepala suku dan pemuka agama yang ada di Malinau untuk mendirikan ulung. Dalam ritual tersebut, bupati yang menjabat berperan sebagai Padan Liu Burung untuk memimpin upacara. Ritual nuwi ulung kini menjadi simbol rasa syukur, keberagaman dan persatuan antarsuku dan agama, berbeda dari makna awal: perayaan atas kemenangan perang.

Balai Adat Dayak Lundayeh dan Ulung Buaye Tana di Desa Pulau Sapi (Abdul Masli)
Balai Adat Dayak Lundayeh dan Ulung Buaye Tana di Desa Pulau Sapi/Abdul Masli

Bagi orang Dayak Lundayeh, patung buaye tana layaknya buaya yang kuat dan berani, simbol kekuatan darat dan air. Secara alamiah, seluruh bagian tubuh buaya kokoh menjadi pelindung juga senjata menghadapi musuh atau mangsa. Tradisi lisan Dayak Lundayeh memuat adanya hubungan timbal balik antara mereka dengan buaya. Mereka dilarang melakukan perburuan buaya, sehingga buaya tidak akan menyerang mereka.1

Ketika orang Dayak Lundayeh masih menganut kepercayaan totemisme, mereka meyakini bahwa buaya memiliki roh yang disebut ada’ buaye buda atau roh buaya putih. Mereka yakin ada energi dalam diri buaya putih yang memberikan pertanda baik dan buruk. Bagi Dayak Lundayeh buaya merupakan penjelmaan dari leluhurnya. Kebudayaan Dayak Lundayeh ini memperlihatkan pentingnya manusia menjalin relasi seimbang terhadap alam. Ketika kita merawat, berbuat baik pada alam, maka alam akan merespon dengan kebaikan pula. Merawat bumi, merawat diri.

Lanskap Ladang milik warga (Abdul Masli)
Lanskap Ladang milik warga/Abdul Masli

Saat musim panen tiba, masyarakat Pulau Sapi banyak tinggal di ladang. Suasana kampung di tepian Sungai Mentarang ini menjadi sepi. Sudah kebiasaan orang Dayak Lundayeh, ketika musim panen atau musim tanam, mereka akan menghabiskan banyak waktu di ladang. Semua keluarga akan diboyong untuk tinggal di ladang. Anak-anak yang sekolah pun tinggal di ladang saat akhir pekan. Saat musim tanam atau panen—seperti sekarang—ladang menjelma sekolah hidup bagi anak. Berladang adalah identitas mereka.

Lapangan Ulung Buaye yang membentang di halaman balai adat dibubuhi ukiran etnik Dayak Lundayeh. Lapangan ini tidak lepas dari balai adat sebagai satu kesatuan ruang komunal warga, khususnya penyelenggaraan acara budaya, misalnya perayaan hari jadi Desa Pulau Sapi. Secara rinci, motif-motif ukiran yang melekat pada balai adat kami potret. Satu yang menarik bagiku, gambar buaya yang selalu menempati posisi poros, misalnya pada gevel rumah. Satu posisi yang langsung tampak saat berdiri di tengah lapangan dengan tatapan mengarah ke balai adat. 

Semakin detail motif yang didokumentasikan, semakin dekat pula mata untuk melihat bagian-bagian rumah adat. Saya menyadari kondisi balai adat yang mulai rapuh. Terlihat dari beberapa bagian tiang dan tangga yang mulai lapuk. Saat menapaki tangga, ada rasa khawatir anak tangganya akan patah. Pada momen ini saya belajar, sebuah kemegahan yang tampak di mata, bisa jadi menyimpan kerapuhan.


  1. Komunitas Kelompok Belajar di Rumah, Desa Malinau Kota. 2022. Buaya dan Burung Enggang: Sebuah Memori di Bumi Intimung. Diakses melalui https://desabudaya.kemdikbud.go.id/article/32 tanggal 12 Mei 2024, Pukul 22.34 WIB. ↩︎

Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Abdul Masli

Abdul Masli, kadang hidup nomaden. Menyenangi perjalanan dengan sepeda, jalan kaki, atau menggunakan transportasi warga. Suka memakai sandal jepit.

Abdul Masli, kadang hidup nomaden. Menyenangi perjalanan dengan sepeda, jalan kaki, atau menggunakan transportasi warga. Suka memakai sandal jepit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Gelagat Air di Kaki Bukit Kapur