Travelog

Merekam Kebersamaan di Pantai Air Cina

Akhir pekan tanggal 19 Juni 2021 lalu, saya dan beberapa teman memilih Pantai Oesina atau yang lebih sering dikenal dengan sebutan Pantai Air Cina sebagai tempat untuk menghilangkan kepenatan sekaligus mengukir satu lagi kisah kebersamaan kami. Tentunya agenda ini kami lakukan sebelum kembali kesibukan menjalani peran sebagai mahasiswa tingkat akhir yang akan membuat kami kehilangan kesempatan untuk berkumpul dan menghabiskan waktu bersama. Untuk alasan kuat inilah, kami menyusun rencana jauh-jauh hari.

Pemilihan Pantai Air Cina bukan tanpa alasan. Sejak kepulangan kami dari sana beberapa tahun lalu, tempat itu seperti menarik kami untuk kembali lagi. Karena itu, kami memutuskannya tanpa banyak pertimbangan.

Menurut beberapa sumber, penamaan Air Cina sendiri berasal dari kata “oe” yang berarti air dan “sina” yang dipercayai merupakan nama nenek moyang Desa Nefo yang dulunya pernah tinggal di pinggir pantai ini. Namun, pengunjung yang datang sering melafalkan Sina dengan Cina, sehingga lambat laun pantai ini dikenal dengan sebutan Air Cina.

Terletak di antara Desa Nefo dan Desa Panaf, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, kami harus menempuh perjalanan sekitar 1 jam dari Kota Kupang menggunakan sepeda motor. Sebagian jalan yang tidak cukup ramah terutama saat mendekati tempat tujuan, membuat kami harus ekstra hati-hati serta bersabar agar dapat menjumpai keindahan Pantai Air Cina dengan aman dan selamat. Begitu sampai di pintu masuk, kami diberi karcis yang dikenakan biaya Rp2.000 untuk setiap orang dan Rp2.000 untuk kendaraan beroda dua. 

Langit cerah, laut biru kehijauan dan pasir putih halus yang membentang sepanjang pesisir pantai Air Cina menyambut kedatangan kami sekitar pukul 15.30 WITA. Awalnya, kami sedikit kebingungan mencari tempat istirahat, sebab hampir semua pondok telah ramai oleh pengunjung. Tidak dapat dipungkiri Pantai Air Cina punya pesona yang tidak bisa diabaikan meski lokasinya yang sedikit tidak mudah dijangkau.

Selang beberapa menit pencarian, akhirnya kami menemukan satu pondok yang tepat berada di depan laut, baru saja ditinggalkan penghuninya. Saya dan teman-teman bergegas menempatinya sebelum ada yang mendahului. Panas matahari memenuhi sebagian besar pondoknya, sehingga kami harus duduk di salah satu sudutnya. 

Berjalan di tepi pantai/Yosefa Rosa Bruno Saru

Setelah sedikit melepas lelah, saya dan teman-teman memutuskan untuk terlebih dahulu mengembalikkan energi kami yang cukup terkuras selama perjalanan. Mula-mula, kami menyantap pisang dan roti goreng, buatan salah seorang teman kami bernama Anggie. Lalu dengan kompor lapangan dan gas kaleng serta peralatan masak seadanya, kami membuat kudapan selanjutnya yang terdiri dari sosis, bakso ikan, dan bakso telur. Rasanya berkali-kali lipat lebih nikmat. Mungkin karena dimakan secara bersama-sama dengan suguhan pemandangan yang begitu memanjakan mata. Diiringi musik yang membuat kami mengadakan konser kecil-kecilan serta diselingi cerita-cerita lucu, tidak terasa kami telah menghabiskan waktu sekitar 1 jam lebih beberapa menit, makanan kami pun habis tak tersisa.

Hari semakin sore, tapi nyatanya suasana sekeliling masih begitu ramai. Tidak sedikit yang berjalan menyusuri pantai, mencari angle foto yang menarik. Namun ada yang tetap setia berada di dalam pondok, menikmati suasana Pantai Air Cina sambil bercengkrama dengan teman-teman mereka, tapi tentunya kami tidak termasuk dalam kategori ini. Saya dan teman-teman, seperti kebanyakan pengunjung, tidak ingin meninggalkan Pantai Air Cina tanpa membawa pulang kenang-kenangan dalam bentuk foto dan video. 

Berfoto bersama/Yosefa Rosa Bruno Saru

Matahari hampir tenggelam, semburat jingga mendandani cakrawala dengan sangat indah, Pantai Air Cina semakin mempesona di bawahnya. Beberapa pengunjung mulai berkemas untuk pulang, begitu juga dengan kami. Ungkapan yang mengatakan bahwa ketika kita sedang bahagia, waktu terasa berjalan lebih cepat, sepertinya benar. Waktu 2.5 jam yang kami habiskan di sini, rasanya masih kurang. Meski sangat betah, kami tetap harus kembali. Setidaknya, kami tidak pulang dengan tangan kosong. Kami telah mengantongi harapan untuk kembali melangkah ke depan dengan penuh semangat dan lebih dari itu, kami berhasil mengukir satu lagi kenangan indah bersama. 

Saya dan teman-teman menyimpan semua barang bawaan kami dan memastikan tidak ada yang tertinggal. Setelah beres, kami pun meninggalkan pondok. Namun sebelum pulang, kami mengumpulkan sampah-sampah kami dalam satu plastik, lalu membuangnya pada tempat yang telah tersedia. Setidaknya itu merupakan cara kami berterima kasih kepada alam sekaligus merawat keindahan Pantai Air Cina yang telah membantu kami untuk beristirahat sejenak.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Yosefa Saru, usia 21 tahun. Sedang menempuh pendidikan S1 ilmu komunikasi di Universitas Nusa Cendana Kupang-NTT. Memiliki hobi menulis.

Yosefa Saru, usia 21 tahun. Sedang menempuh pendidikan S1 ilmu komunikasi di Universitas Nusa Cendana Kupang-NTT. Memiliki hobi menulis.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Bersumpah Berhenti Merokok di Bibir Jonggring Saloko

    Travelog

    Liburan Indie di Kakek Bodo Campground, Pasuruan

    Travelog

    Purun yang Menjadi Nyawa Kampung Purun

    Semasa CoronaTravelog

    Bersepeda Pagi Menuju Stadion Manahan Surakarta

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Worth reading...
    Senja dan Harapan Baru Diujung Pantai Nunhila