Travelog

Menyusuri Titik Nol Kota Banjarmasin

“Belum ke Banjarmasin kalau belum ke sana,” ujar sopir Grab yang menjemput saya di halaman kampus UIN Antasari. Ke sana yang dimaksud sopir Grab adalah Patung Bekantan, ikon Kalimantan Selatan. Setelah satu minggu penuh mengikuti rangkaian acara pertemuan mahasiswa pecinta alam seluruh Indonesia di Universitas Islam Negeri Antasari, Banjarmasin saya akhirnya punya waktu luang untuk mengunjungi daya tarik wisata yang ada di Kota Banjarmasin.

Patung Bekantan/Andriano Filemon Aja

Berswafoto di Patung Bekantan

Waktu yang tersisa hanya setengah hari karena esok hari saya harus melanjutkan perjalanan pulang ke Bali. Keterbatasan waktu inilah yang membuat saya hanya bisa mengunjungi daya tarik wisata yang dekat dan berada dalam kawasan Kota Banjarmasin. Patung Bekantan yang menjadi perhentian pertama saya ini terletak persis di pinggir Sungai Martapura. Banyak orang berfoto di sini, saya harus menunggu beberapa saat agar bisa berfoto juga di depannya.

Bekantan atau monyet Belanda merupakan satwa endemik Pulau Kalimantan. Monyet ini berbeda jika dibandingkan jenis monyet lain. Ciri fisik paling menonjol yang membedakannya dengan jenis monyet lain adalah hidungnya  panjang dan bulunya erwarna merah kecoklatan—tidak seperti kebanyakan monyet lain yang bulunya berwarna hitam. Keunikan inilah yang membuat Bekantan dijadikan maskot Provinsi Kalimantan Selatan. Suasana di sekitar patung ini sangat ramai karena banyak wisatawan yang berkunjung, fasilitas lain seperti lapangan basket yang terletak persis di samping patung ini juga membuat suasana semakin ramai.

Keliling Sungai Martapura dengan Kelotok 

Selain Patung Bekantan, ada Taman Siring—titik nol Kota Banjarmasin ada di sini. Taman ini terletak di seberang sungai, awalnya saya ingin memesan ojek online. Namun, karena jarak yang tidak terlalu jauh saya akhirnya memutuskan untuk berjalan kaki saja, toh di sepanjang perjalanan banyak yang bisa dilihat juga sehingga tidak akan membuat perjalanan terasa lama.

Di tengah perjalanan suara megafon kemudian menghentikan langkah saya. Suara megafon yang saling bersahut-sahutan itu merupakan promosi wisata naik kelotok. Saya kemudian mencoba sensasi menaiki kelotok setelah membayar tiket sebesar Rp10.000,00. Wisata yang ditawarkan adalah menaiki kelotok (perahu bermotor) dan mengelilingi Sungai Martapura.

Terkesan biasa saja memang, apa sih yang menarik dari menaiki perahu dan mengelilingi sebuah sungai selama ±20 menit? Namun, sensasinya akan terasa sendiri ketika mencobanya langsung. Saya duduk di atap kelotok waktu itu, sehingga pandangan saya tidak terhalang apa pun. Salah sebenarnya karena setelah hampir selesai mengelilingi sungai saya melihat tulisan peringatan untuk tidak duduk di atap kelotok.

Selama perjalanan mengelilingi sungai pemandangan sepanjang Sungai Martapura akan terlihat jelas seperti menara pandang termasuk Taman Siring yang sebelumnya ingin saya kunjungi. Pengalaman naik kelotok ini tidak akan terasa biasa-biasa saja karena wisata ini menjadi identitas Kota Banjarmasin yang terkenal dengan julukan kota seribu sungai. Mengunjungi daya tarik wisata yang menjadi identitas sebuah daerah merupakan kebanggan tersendiri, sama halnya ketika berkunjung ke Pantai Kuta di Bali atau melihat Komodo ketika berkunjung ke Labuan Bajo. 

Makan Soto Banjar

Jam menunjukkan pukul 7.20 WITA ketika kelotok yang saya tumpangi berlabuh kembali, waktunya makan malam. Banyak pilihan makanan yang tersedia di sepanjang kawasan ini. Saya akhirnya menjatuhkan pilihan kepada soto Banjar yang merupakan makanan khas daerah ini. Apalagi setelah melihat warung yang menyediakan makanan khas ini adalah sebuah kelotok yang dimodifikasi menjadi warung soto, ditambah lagi warung ini berada di atas air. Kombinasi sempurna, makan Soto Banjar di atas Kelotok, khas Banjarmasin. Saya tidak ahli dalam menilai makanan sehingga tidak bisa membedakan soto Banjar dengan soto yang ada di daerah lain. Satu hal yang pasti adalah soto ini enak dan cukup untuk mengenyangkan perut.  

Soto Banjar/Andriano Filemon Aja

Perjalanan saya ke Kalimantan Selatan akan segera berakhir dan wisata yang dihadirkan di tengah kota ini menjadi penutup yang sempurna. Paket lengkap dari wisata unik menaiki kelotok, mencicipi kuliner khas Banjarmasin dan kesempatan berfoto di depan patung bekantan cukup untuk mewakili perjalanan saya ke Banjarmasin. Waktu setengah hari ini memang tidak cukup apalagi ada beberapa daya tarik lain yang belum saya kunjungi dan menyisakan rasa penasaran, untuk benar-benar mengalami dan merasakan sebuah kota memang tidak cukup dalam waktu setengah hari atau bahkan setengah hari.

Menaiki kelotok dan mengelilingi Sungai Martapura mungkin tidak bisa mewakili penjelajahan ke “seribu sungai” yang ada di Kota Banjarmasin, sama halnya dengan mencicipi Soto Banjar yang merupakan satu dari sekian banyak kuliner khas Kota Banjarmasin dan berfoto di depan Patung Bekantan yang hanya menjadi simbol dari bekantan yang asli. Pengalaman-pengalaman ini mungkin tidak lengkap tetapi cukup untuk pejalan yang tidak tidak punya banyak waktu atau ingin menghabiskan waktu di sebuah daerah. 

Jauh lebih baik kalau anda tinggal di satu kota selama empat atau lima hari, daripada mengunjungi lima kota dalam seminggu. Sebuah kota bisa diibaratkan seorang wanita yang sulit didekati, anda memerlukan waktu untuk menarik perhatiannya, sampai ia bersedia mengungkapkan diri sepenuhnya

— Paulo Coelho

Menyukai perjalanan dan isu-isu kepariwisataan

Menyukai perjalanan dan isu-isu kepariwisataan
Artikel Terkait
Travelog

Pantai Pulodoro, Sebuah Kesunyian

Travelog

Mencoba Berjalan di Jembatan Gantung Terpanjang se-Asia Tenggara

Travelog

Perjalanan Menyusuri Pulau Rote

Travelog

Pantai Indrayanti, Gunung Kidul, Seharusnya Jadi Tempat Favorit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *