Events

Menyimak “Tips Fotografi Perjalanan” dari Fotografer Profesional di Sekolah TelusuRI

Saat menggulir media sosial, aku menemukan unggahan soal Sekolah TelusuRI. Acara itu bagian dari Pekan Raya Pariwisata yang diadakan oleh KokBisa dan TelusuRI, digelar secara daring via Zoom pada Kamis, 24 September 2020. Aku menyimaknya lewat siaran YouTube yang bisa diakses kapan saja.

Kelas “Tips Fotografi Perjalanan” itu mendatangkan dua orang yang sudah malang melintang di dunia fotografi perjalanan, yakni Ranar Pradipto (fotografer perjalanan, pendiri Potret Indonesia Tour) dan Ricky Martin (fotografer National Geographic Indonesia). Ranar Pradipto berbicara dari sudut pandang fotografi perjalanan secara umum, sementara Ricky Martin secara spesifik menjelaskan tentang fotografi jurnalistik. Bagiku, acara yang berlangsung selama dua jam itu cukup banyak memberikan pengetahuan baru soal fotografi perjalanan.


Dewasa ini, mengekspresikan sesuatu menjadi semakin simpel, mudah, dan dapat saja dilakukan oleh semua orang. Mengekspresikan pengalaman perjalanan, contohnya. Kini kita tak perlu lagi punya kamera DSLR untuk menangkap foto-foto apik. Dengan sebuah ponsel pintar saja seseorang sudah bisa mengabadikan pengalaman perjalanan, yang kemudian bisa diunggah ke media sosial. 

Namun, bagi fotografer perjalanan profesional seperti Ranar Pradipto yang juga memotret untuk kebutuhan komersial, mengekspresikan sesuatu tidak sesimpel menjepret foto dengan ponsel lalu mengunggahnya sebagai konten media sosial. Ada banyak hal yang mesti diperhatikan, yakni aspek-aspek [teknis] fotografi dan etika menjadi seorang fotografer perjalanan. Ranar menjelaskan soal tiga hal penting yang mesti dilakukan sebelum mempraktikkan fotografi perjalanan. 

Pertama, mencari informasi secara detail tentang lokasi yang akan dikunjungi, entah informasi soal titik memotret, tentang budaya, sejarah, maupun kearifan lokal. Tujuannya adalah agar kita punya konsep tentang foto yang nantinya akan diambil. “Jangan pernah pergi tanpa informasi apa pun,” pesan Ranar.

Kedua, membawa peralatan kamera sesuai kebutuhan. Agar tidak ribet di lokasi, membawa peralatan yang sesuai adalah hal yang tepat. Lalu bagaimana cara mengetahui apa saja peralatan yang tepat untuk dibawa? Jawabannya kembali ke poin pertama: cari tahu informasi secara detail. Survey dahulu lokasinya, entah langsung atau secara digital, agar kita bisa tahu gambaran lokasi dan peralatan apa yang cocok untuk dibawa ke sana.

Soal peralatan ini, ada satu hal yang kuingat dari penjelasan Ranar. “Saat traveling jangan sayang sama shutter,” ujarnya. Persoalan jumlah hitungan rana ini memang sering dibahas oleh pehobi foto, mengingat setiap kamera punya batasan masing-masing. “Dokumentasikan sebanyak mungkin,” imbuh Ranar.

Ketiga, datanglah pada waktu terbaik dan pada cuaca yang tepat. Lokasi yang bagus secara fotografis perlu dukungan waktu dan cuaca yang tepat. Jangan sampai kita malah dapat awan mendung dan hujan padahal yang diharapkan adalah foto pemandangan ketika langit cerah.

Ranar Pradipto sedang membahas salah satu foto perjalanannya/TelusuRI

Ranar Pradipto juga memberikan wawasan soal bermacam-macam genre fotografi. Sebagai contoh genre fotografi lanskap (pemandangan dan alam), ia menampilkan foto pemandangan air terjun di tengah hutan. Selanjutnya, ia menampilkan foto-foto bergenre human interest (HI) yang ampuh untuk menceritakan aktivitas di sekitar kita. Kemudian ia juga memperlihatkan contoh foto bergenre potret (portrait) yang diharapkan dapat memotret “jiwa” seseorang, lewat kejelian sang fotografer memilih latar belakang yang polos, mencari pencahayaan yang sesuai, dan menangkap ekspresi yang tepat termasuk tatapan mata subjek. Lalu Ranar menyajikan contoh foto budaya dan konsep entire-detail-moment (EDM) yang secara integral dapat menceritakan suasana, mengambil detail, lalu menangkap momen, seperti momen ketika subjek sedang menari, berkuda, memanah, mendayung, ataupun sekadar bercengkerama. Ranar juga tak lupa bercerita tentang genre fotografi jalanan (street photography) yang pas dicoba mereka-mereka yang sedang belajar.


Saat menyimak materi dari Ricky Martin, aku jadi memahami (sedikit) perbedaan antara fotografi perjalanan dan fotografi jurnalistik. Letak perbedaannya ada di kebutuhan foto, jenis, dan cara menceritakannya. 

Fotografer jurnalistik berhubungan dengan publikasi pesan di media massa secara periodik (terbit teratur setiap rentang waktu tertentu, misalnya jam). Karena itulah, sebagaimana reporter, wartawan, pewarta video, atau pembawa berita (news anchor), sebutan jurnalis juga disematkan kepada para pewarta foto.

Tujuan seorang jurnalis adalah menceritakan kejadian atau keadaan pada khalayak, dengan menyampaikan pesan yang mudah dipahami masyarakat luas. Rumus dasar yang biasanya dipakai untuk mengumpulkan fakta dan mengemas topik yang akan disampaikan adalah 5W1H (what/apa, who/siapa, where/di mana, when/kapan, why/mengapa atau kenapa, dan how/bagaimana)

Ricky menjelaskan mengenai lima jenis foto jurnalistik yang perlu dipahami sebagai fotografer jurnalistik. Pertama, hard news atau foto tentang aktivitas yang terikat dengan waktu, contohnya foto kecelakaan, kebakaran, bencana alam, dan lain-lain. Kedua, feature. Jenis foto ini tidak terikat waktu. Isinya adalah berita-berita ringan seperti tentang sejarah, tokoh, kuliner, acara adat, dll. Kapan pun diterbitkan, foto-foto jenis ini akan tetap punya nilai baca (lihat) dan akan masih tetap aktual. Ketiga, potret. Biasanya foto jenis ini digunakan sebagai pelengkap suasana. Keempat, ilustrasi, yang berfungsi sebagai informasi pelengkap, terutama jika yang diliput adalah hal-hal yang tidak bisa ditangkap kamera atau terlalu sensitif. Lalu, kelima, ada photo story yang berupa foto-foto yang ditampilkan secara berurutan dan saling menguatkan satu dengan lainnya. Jenis ini biasanya muncul dalam esai foto, seri, dokumenter, dan diptych (dua foto yang dikombinasikan kemudian ditampilkan dalam satu bingkai).

Ricky Martin membuka sesi fotografi jurnalistik/TelusuRI

Bercerita dengan foto, jelas Ricky Martin, bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu deskriptif dan naratif.

Cara deskriptif dilakukan dengan menyusun foto yang memaparkan suatu peristiwa atau keadaan namun tidak dengan alur cerita yang lengkap namun tetap bersifat informatif.

Sementara, jika memakai cara naratif, foto-foto disusun membentuk sebuah hubungan saling terkait, memiliki alur cerita, dan membentuk sebuah makna tertentu bagi yang melihat. Lebih dalam lagi, ada tiga bentuk foto naratif: essay (esai), menjelaskan sudut pandang pemotret terhadap sebuah keadaan atau peristiwa; series (serial), memotret objek-objek yang berbeda namun menggunakan sudut pandang dan teknik foto yang sama; dyptich (diptik), menyandingkan dua buah foto yang berbeda untuk menghasilkan makna baru.

“Setiap foto, jika memiliki deskripsi atau penjelasan, akan lebih mudah untuk dipahami publik,” ujar Ricky.

Dua jam berlalu tanpa terasa saat menyimak “Tips Fotografi Perjalanan.” Menurutku, materi-materi dasar fotografi perjalanan di kelas itu sangat berguna bagi fotografer amatir dan pemula. Selain yang kutulis di atas, sebenarnya masih banyak materi menarik lain dari Ranar Pradipto dan Ricky Martin. Jika penasaran, silakan simak video yang sudah diunggah di kanal YouTube TelusuRI.

Tinggal di kaki Gunung Wali, tapi tak pernah bosan dengan indahnya dataran tinggi. Gemar memanjakan lensa mata dengan potret indah untuk disimpan.

Avatar

Tinggal di kaki Gunung Wali, tapi tak pernah bosan dengan indahnya dataran tinggi. Gemar memanjakan lensa mata dengan potret indah untuk disimpan.
Artikel Terkait
Events

Tur Virtual ke Desa Sejahtera Astra Kendal

Events

Talkshow: Peran Perempuan dalam Pengembangan Pariwisata di Indonesia

Events

Diskusi Daring "Membingkai Mooi Indie: Tamasya di Hindia Belanda"

#dirumahajaEvents

Ngobrol soal "Peduli Pekerja Pariwisata" bareng Jonathan Thamrin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *