Travelog

Menyapa Tahun Baru di Gunung Latimojong

Cuy, taun baruan naik gunung yuk!” ajak temanku, ketika aku sedang tidur-tiduran di dalam masjid. Saat itu, aku masih duduk di bangku SMA kelas 11. “Ke mana?” tanyaku kepadanya, Argo, yang memang pada saat itu merupakan salah satu sahabat pendakianku. “Latimojong, Sulawesi,” jawabnya dengan semangat. Tanpa berpikir dua kali aku langsung mengiyakan tawaran tersebut. Momen pendakian Gunung Latimojong ini sekaligus menjadi agenda liburan tahun baru 2017.

Gunung Latimojong berada di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Latimojong merupakan gunung tertinggi di Sulawesi dengan puncak bernama Bulu Rantemario di ketinggian 3.478 mdpl.

Pegunungan Latimojong membentang dari selatan ke utara. Bagian baratnya berada di Kabupaten Enrekang, utaranya berada di Kabupaten Tana Toraja. Bagian selatannya, berada di Kabupaten Sidenreng Rappang dan bagian timurnya berada di Kabupaten Luwu hingga pinggir pantai Teluk Bone.

Kami berenam—aku, Argo, Wahyau, Duni, Kar, dan ayahnya Argo—berangkat menggunakan pesawat dari bandara Soekarno-Hatta di Jakarta menuju bandara Sultan Hasanuddin di Makassar. Untuk bisa sampai di Basecamp Gunung Latimojong, kami harus melakukan perjalanan jauh dari Kota Makassar menuju Kecamatan Baraka. 

Dengan kendaraan pribadi yang kami sewa sebelumnya—banyak travel yang menawarkan dengan kisaran biaya 1-2 juta rupiah tergantung negosiasi—perjalanan kami tempuh sekitar 7 jam, sebelum akhirnya tiba di Kecamatan Baraka. Begitu tiba pada malam hari, kami sesegera mungkin mempersiapkan perlengkapan, lalu beristirahat.

Salah satu hal seru di perjalanan menuju Gunung Latimojong adalah kami menumpang mobil jip untuk melanjutkan perjalanan ke Desa Karangan. Jalan yang berliku-liku, naik dan turun menemani perjalanan kami sembari menikmati pemandangan hamparan perbukitan Enrekang. “Hajar… Hajarrr… Eeaaa…” teriak pendaki lain asal Sulawesi menyemangati jip yang kami tumpangi melewati jalan rusak dan berlumpur. 

Beberapa jam kemudian, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki untuk sampai basecamp di Desa Karangan. Di sinilah pendaki bisa beristirahat sembari mempersiapkan pendakian. Sederhana, basecamp pendakian berbentuk rumah panggung, pemiliknya yakni salah satu warga Desa Karangan. Kami menginap semalam di sana untuk mempersiapkan logistik. Esok paginya, barulah kami memulai pendakian ke Gunung Latimojong.

Pos demi Pos Gunung Latimojong

Pagi hari setelah sarapan dan pemanasan tubuh, kami memulai pendakian dari Desa Karangan menuju Pos 1. Durasinya sekitar 90 menit dengan medan jalan aspal dan tanah. Tak buruk, kendaraan bermotor masih bisa melewati jalan ini. Di kanan kiri jalan, masih banyak rumah dan ladang masyarakat sekitar. Para petani dari desa, biasa pergi ke ladang juga melewati jalan ini. Tutur sapa antara kami dengan warga menghiasi pagi hari. 

Untuk menuju pos selanjutnya, kami membutuhkan waktu sekitar dua jam. Semakin jelasnya suara aliran sungai dan bertemu sebuah jembatan menjadi pertanda bahwa kami akan tiba di sana. Begitu tiba di Pos 2, Gua Pak-Pak menyambut kedatangan kami. Di sini juga terdapat sebuah air terjun yang menjadi salah satu sumber air bagi pendaki.

Perjalanan kami lanjutkan ke Pos 3 dengan durasi sekitar 50 menit. Kami mengeluarkan tenaga lebih saat perjalanan ini karena jalurnya cukup terjal. Dari sini hingga Pos 5, tidak ada sumber air. Oleh karenanya, kami harus menghemat persediaan air yang kami bawa. Beberapa kali kami beristirahat untuk mengatur tempo pernafasan agar tidak terlalu cepat lelah.

  • Hutan lumut
  • Jembatan kayu
  • kabut

Setelahnya, kami bertemu dengan yang cukup datar dan lumayan curam saat menuju Pos 4. Kurang lebih, satu jam kami berjalan di hutan yang banyak tumbuh lumut. Dari sini, kami melanjutkan perjalanan selama dua jam menuju Pos 5. Kaki kami mulai terasa pegal dan kram. Wajar saja, jalur pendakian Gunung Latimojong di dominasi oleh tanjakan semua. Hujan menemani kami begitu tiba, tenda pun langsung kami dirikan. Selain luas, di Pos 5 juga terdapat sumber mata air sehingga cocok untuk camp site.

Makan malam kami siapkan. Usai perut kenyang, tidur menjadi pilihan karena esok kami akan melanjutkan pendakian menuju puncak Gunung Latimojong. Rante Mario kami datang!

Perjalanan Menuju Puncak

Udara dingin dan mata yang masih menahan kantuk harus aku paksakan. Setelah menyiapkan beberapa logistik barang yang akan kami bawa ke puncak, kami melanjutkan perjalanan. Menuju Pos 6, hutan lumut kembali menyambut. Jalur pendakiannya cukup menanjak dengan estimasi waktu 90 menit. Untuk menuju ke Pos 7 pun sama, perjalanan pendakian melewati hutan lumut, yang tampak semakin menarik dalam bidikan lensa kamera.

Balok besar di atas batu bertuliskan “Rantemario 3478 MDPL” menjadi penanda bahwa kami sudah tiba di puncak. Akhirnya, setelah perjalanan panjang, tiba juga kami di sana.

Sebelumnya tidak pernah terpikirkan dalam benakku untuk mendaki gunung di luar Pulau Jawa. Mungkin rasa penasaran mendaki gunung-gunung selain di Jawa menjadi pemantiknya. Apalagi setiap gunung memiliki karakteristik masing-masing. Tentunya, melalui pendakian ini aku merasa makin terpanggil untuk turut melestarikannya. Supaya generasi kita selanjutnya, masih bisa menapakinya.

Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Seorang pemimpi yang belajar dari perjalanan, pengalaman dan kenangan untuk menjadi manusia yang merdeka.

Seorang pemimpi yang belajar dari perjalanan, pengalaman dan kenangan untuk menjadi manusia yang merdeka.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Ke Perkebunan Teh Tegalega untuk Sekadar Menikmati Sunyi

    Travelog

    Cerita dari Atas KM Dobonsolo

    Travelog

    Menjajal Joging ‘Track’ Baru Lapang Merdeka

    Travelog

    Ambon Jawa dan Rumah Hobbit di Tengah Pulau

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Worth reading...
    ‘Camping’ Ceria di Hutan Pinus Loji Blitar