Travelog

Menyaksikan Laga PSM Makassar di Stadion Manahan Solo

Sebagai orang yang terlahir di tanah Sulawesi Selatan, ada suatu kebanggaan tersendiri melihat salah satu klub sepak bola—PSM Makassar—masih eksis dan bersaing di Liga 1, kasta tertinggi persepakbolaan Indonesia. PSM Makassar menjadi satu-satunya klub dari Indonesia timur yang masih bertahan sepeninggal Persipura Jayapura yang terdegradasi ke Liga 2 musim lalu.

Atas dasar kebanggan melihat PSM inilah yang kemudian mendorong saya untuk menonton pertandingannya secara langsung melawan Persis Solo di Stadion Manahan Solo, Jawa Tengah. Dengan mengendarai motor yang telah terisi dengan BBM Pertalite tiga liter, saya bersama kawan saya—Asrijal—berangkat menuju Solo tepat pada jam 12.30 WIB (Kamis, 29/9/2022).

Ini memang bukan perjalanan yang singkat, tapi demi klub kebanggan, jarak kurang lebih 60 km tak menjadi halangan. Paling, punggung jadi pegal karena berkendara sekitar dua jam.

Stadion Manahan Solo
Stadion Manahan Solo/Ammar Mahir Hilmi

Kami lalu tiba di Stadion Manahan, Kota Surakarta, atau yang lebih akrab disebut Solo. Setelah membayar tarif parkir stadion sebesar Rp3.000, kami langsung menemui perwakilan kelompok suporter The Macz-Man zona Jogja untuk menukarkan tiket yang telah kami pesan beberapa hari sebelumnya. Harga tiket sebesar Rp70.000 untuk kelas VIP sayap selatan. Harganya sebanding, bahkan tergolong murah untuk ukuran Stadion Manahan yang telah berstandar Internasional.

Sembari menikmati sore hari di tribun stadion, saya kagum melihat bagaimana mewahnya stadion ini berdiri. Sulawesi Selatan sendiri, belum punya stadion bertaraf internasional. Bahkan untuk sekedar menggelar pertandingan skala nasional Liga 1, PSM harus bekerja keras hingga menit-menit akhir batas waktu verifikasi Stadion B.J. Habibie di Kota Parepare agar masuk kategori “layak” menggelar pertandingan.

Entah apa yang ada di dalam pikiran para pemangku kebijakan sehingga tidak tampak niatan membangun stadion berstandar Internasional di sana. Para suporter setia PSM—termasuk saya—hanya bisa mengelus dada setiap kali ada agenda awayday di Pulau Jawa dan menyaksikan sendiri stadion-stadion di sini lebih apik.

Sungguh situasi yang sangat bertolak belakang dengan yang ada di Sulawesi Selatan. Semoga kelak ide membangun stadion tidak hanya menjadi wacana yang terus menerus diulang setiap kali menyambut pilkada demi meraih suara rakyat.

Kembali ke Stadion Manahan, mulai dari check in dan pemeriksaan barang bawaan di pintu masuk, hingga masuk ke area tribun, kita akan disuguhi dengan desain dan tata kelola stadion yang bersih, rapi, dan modern. Meski pada rancangan model stadion yang masih menggunakan lintasan atletik, kursi penonton telah menggunakan single seat dan bercorak batik kawung khas Solo berwarna biru, kuning, dan merah.

Skor babak pertama antara Persis Solo versus PSM Makassar berkedudukan imbang 1-1. Langit telah mulai gelap ketika kick off babak kedua dimulai. Pada momen ini lagi kita dapat melihat keunggulan fasilitas Stadion Manahan, yang membuat kami suporter PSM Makassar kembali iri. Kapasitas lampu yang mencapai 1.500 lux yang berstandar FIFA menambah kesan mewah stadion yang juga akan menjadi salah satu venue Piala Dunia U-20 tahun 2023. Dengan pencahayaan yang merata di semua titik dan tidak membuat silau, keseruan pertandingan tetap dapat kita nikmati tanpa harus khawatir kekurangan pencahayaan.

Berbagai fasilitas yang ada, tambah dengan jalannya pertandingan yang seru dengan saling jual beli serangan, kiranya tidak sia-sia telah menginvestasikan uang dan waktu untuk motoran jauh dari Jogja menuju Solo untuk menyaksikan pertandingan ini. Tampak kelompok suporter baik dari tuan rumah Persis Solo maupun PSM Makassar tidak henti-hentinya menyanyikan yel-yel masing-masing sebagai bentuk dukungan ke tim kebanggan. 

Meski terdapat beberapa kali insiden antar pemain yang membuat beberapa kali pertandingan sempat terhenti, kedua suporter tetap aman dan damai, bahkan berbagi tribun di area VIP sayap selatan stadion. Pemandangan dan sikap supporter inilah yang harus ada di setiap pertandingan sepak bola. Kiranya sepak bola adalah pemersatu dan hiburan rakyat, maka sudah layaknya rivalitas hanya 90 menit di lapangan. Selebihnya semua kembali melebur jadi satu sebagai saudara.

Koridor Stadion
Koridor stadion/Ammar Mahir Ilmi

Hingga akhir babak kedua, tidak ada lagi tambahan gol yang tercipta. Kedua tim praktis berbagi satu poin di klasemen liga. Seperti tradisi-tradisi klub sepak bola setiap kali pertandingan selesai, tiap tim akan menyempatkan untuk menyanyikan anthem-nya masing-masing sebagai tanda terima kasih kepada suporter yang telah hadir dan mendukung timnya. Tidak terkecuali PSM dan Persis yang melakukan hal serupa secara bergantian setelah pertandingan berakhir.

Setelah menyanyikan anthem tim kebanggan, satu per satu supporter mulai berjalan keluar stadion untuk selanjutnya pulang ke rumah masing-masing. Begitupun saya dengan teman saya Asrijal yang langsung motoran, pulang kembali ke Jogja pada malam itu juga. Terima kasih kepada masyarakat Kota Solo atas jamuannya dan juga kepada tim kebanggan PSM Makassar yang telah memberikan hiburan malam ini.

Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Sedang menempuh pendidikan di Yogyakarta. Senang membaca, berdiskusi, menulis, memotret, dan berkelana mengunjungi tempat-tempat baru.

Sedang menempuh pendidikan di Yogyakarta. Senang membaca, berdiskusi, menulis, memotret, dan berkelana mengunjungi tempat-tempat baru.
Artikel Terkait
Travelog

Ke Perkebunan Teh Tegalega untuk Sekadar Menikmati Sunyi

Travelog

Cerita dari Atas KM Dobonsolo

Travelog

Menjajal Joging ‘Track’ Baru Lapang Merdeka

Travelog

Ambon Jawa dan Rumah Hobbit di Tengah Pulau

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
‘Tektok’ Gunung Merbabu via Wekas