Travelog

Lari Sore dan Menikmati Senja di Bukit Cinta Kupang

Sore itu, Kota Kupang, tempat saya tinggal sekarang, cerah berawan namun tidak terlalu panas. Waktu menunjukkan pukul 15.30 WITA. Saya pikir, mungkin saya bisa mengisi waktu dengan berolahraga. Karena topografi Kupang seperti perbukitan, saya memilih untuk lari sore jarak dekat saja, yaitu dari pinggir Jalan Claret sampai finish di Bukit Cinta.

Di Kupang, berlari di pinggir jalan masih bisa jadi pilihan karena udara masih bersih dan tersedia pemandangan hijau untuk dinikmati. Namun kita tetap harus hati-hati sebab pengendara motor dan mobil masih banyak yang ugal-ugalan.

bukit cinta kupang
“Signage” Bukit Cinta/Yudha Eka Nugraha

Sekilas mata memandang, akses jalan di Kota Kupang ini berangsur-angsur membaik. Jalanan utamanya sudah diaspal dan memungkinkan pejalan kaki untuk bergerak dengan nyaman. Namun, dari Jalan Claret perjalanan menuju Bukit Cinta lumayan berat. Saya harus berlari dengan lintasan yang menanjak. Jadi lumayan melelahkan.

Saya sebenarnya cukup penasaran dengan Bukit Cinta. Kalau ke sana mengendarai motor, tempat itu hanya akan terlihat seperti perbukitan biasa dengan papan nama “Love Hill” yang sangat tidak menarik di bagian depan. Namun, setiap sore tempat itu pasti selalu ramai. Saya yang tinggal di Jalan Claret dan sering lalu-lalang melewati tempat itu tentu saja penasaran dan ingin mengenal Bukit Cinta Kupang lebih jauh.

Bukit Cinta yang menghampar luas bak permadani hijau

Setelah berlari kurang lebih tiga puluh menit, saya tiba di Bukit Cinta Kupang. Saya terkejut ketika melihat ke belakang. Ternyata Bukit Cinta tidak seperti yang saya kira selama ini. Bukit Cinta yang saya pikir sempit, sekadar bukit bertuliskan “Love Hill,” aslinya sangat luas. Ditambah rumput yang sedang hijau maksimal sebab sekarang sedang musim penghujan, Bukit Cinta tak ubahnya seperti hamparan permadani hijau yang melayang-layang menaungi Kupang.

bukit cinta
Lari sore di Bukit Cinta/Yudha Eka Nugraha

Saya melanjutkan berlari di tengah hamparan padang rumput Bukit Cinta Kupang, melewati para pengunjung yang mayoritas muda-mudi dari penjuru NTT. Beberapa pendatang juga datang silih berganti ke tempat ini untuk berfoto. Jeli mengambil kesempatan, terkadang satu, dua orang membawa kamera datang menghampiri para pelancong untuk menawarkan jasa memotret.

Tapi, bukit ini bukan hanya tempat untuk berfoto. Di tempat ini juga banyak yang olahraga (saya salah satunya). Olahraga yang biasa dilakukan di sini adalah jogging. Walaupun belum ada lintasan khusus, berlari di Bukit Cinta tetap terasa asyik sebab kita bisa berolahraga sembari menikmati pemandangan alam yang menyenangkan.

Saya juga menjumpai beberapa orang yang hanya sekadar duduk untuk menikmati sunset, bercengkerama dan berkumpul bersama orang terkasih. Memang banyak muda-mudi yang datang ke sini untuk berpacaran. Konon, tempat ini dinamai Bukit Cinta karena banyaknya muda-mudi setempat yang memadu kasih di sini.

bukit cinta
Padang rumput yang hijau di musim penghujan/Yudha Eka Nugraha

Kebetulan saya datang berdekatan dengan Hari Valentine. Beberapa muda-mudi yang merayakan Hari Kasih Sayang itu tampak mengungkapkan rasa sayangnya dengan memberikan boneka beruang sebesar galon Aqua kepada kekasihnya. Sebagian lain sekadar mempersembahkan bunga, cokelat, dan mengabadikan momen dengan berfoto bersama di hamparan hijau Bukit Cinta.

Selalu ramai sebab belum ada tiket masuk

Bagi mereka yang sangat menyukai momen tenggelamnya matahari, Bukit Cinta adalah lokasi yang pas untuk melihat fenomena alam tersebut. Selain itu, penikmat sejarah juga pasti akan senang ke Bukit Cinta, sebab di sini ada peninggalan sejarah berupa bunker dan goa Jepang. Konon, kedua peninggalan itu dahulunya adalah lokasi persembunyian tentara pendudukan Jepang ketika perang. Sayang sekali sekarang nasibnya kurang diperhatikan; hanya jadi alas untuk melihat sunset.

bukit cinta
“Bunker” peninggalan Jepang/Yudha Eka Nugraha

Bukit Cinta Kupang berada di perbatasan Kota Kupang dan Kabupaten Kupang, tidak jauh dari Bandara El Tari, hanya terpaut sekitar tiga kilometer saja. Dari bandara, hanya perlu membayar antara Rp 5.000-10.000 naik ojek. Naik angkot jurusan Penfui hanya Rp 2.000. Kedekatan tempat ini dengan bandara membuat saya dan pengunjung lain dapat leluasa melihat pesawat yang berlalu-lalang, baik yang hendak take off maupun landing.

Tempat ini selalu ramai terutama di sore hari, barangkali karena belum ada biaya masuk. Siapa pun bebas menjelajah Bukit Cinta dan melakukan aktivitas yang mereka suka selama tidak menganggu ketertiban umum.

Jika pengujung butuh sesuatu, mereka bisa membelinya di kios-kios dan kafe-kafe di sekitar Bukit Cinta. Pohon-pohon besar juga tumbuh dengan rindang di sekitar puncak, cukup untuk berteduh atau berhenti sejenak sekadar menikmati angin semilir.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Avatar

Tinggal di Kota Kupang, NTT. Bekerja di Politeknik Negeri Kupang sebagai PNS.
Related posts
Travelog

Mencari Kesegaran di Taman Sidhandang

Travelog

Perjumpaan Pertama dengan Ranu Kumbolo

Travelog

Perjalanan Menuju Baduy Dalam

Travelog

Mencari Udara Segar di Gunung Penanggungan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *