Semasa CoronaTravelog

Mengunjungi Taman Safari Prigen Semasa Corona

Sabtu 15 Mei 2021 lalu saya dan keluarga mengunjungi Taman Safari Jawa Timur yang terletak di Prigen, Pandaan. Berhubung saya berdomisili di Sidoarjo, pergi ke Pandaan bukanlah sesuatu yang rumit. Lewat jalan tol, dalam waktu sekitar satu jam kami sudah bisa sampai di pintu gerbang gading gajah ikonik Taman Safari yang lokasinya berada di pinggir jalan raya. Dari sini, kami masih harus menempuh jarak lima kilometer lagi untuk masuk ke dalam kawasan Taman Safari Prigen.

Taman Safari Prigen/Eunike Dewanggasani

Karena minggu itu adalah long weekend, bisa ditebak bahwa akan ada banyak pengunjung yang datang ke taman wisata ini. Kemacetan sudah menyambut kami sekitar satu kilometer dari gerbang penjualan tiket masuk. Hanya ada dua jalur untuk mobil, dan semua mobil harus maju merambat pelan-pelan karena antrian yang panjang.

Protokol kesehatan yang dijalankan secara tertib

Sebelum masuk ke gerbang penjualan tiket, ada petugas di sebelah kanan dan kiri mobil yang bertugas mengecek suhu tubuh setiap penumpang yang ada di dalam kendaraan. Mereka juga memastikan bahwa setiap orang menggunakan masker.

Selain itu, terdapat bilik khusus yang akan menyemprot setiap bagian luar mobil dengan cairan desinfektan. Pemberlakuan protokol kesehatan ini tentu berperan penting dalam mencegah penyebaran COVID-19.  Selain itu, hal ini membuat setiap pengunjung merasa lebih aman dan tenang.

Setelah petugas menghitung jumlah orang di dalam mobil, mereka akan langsung memberitahu jumlah biaya yang harus dibayar. Biaya ini sudah termasuk biaya parkir mobil.  Kalau tidak membawa uang cash yang cukup banyak, pengunjung bisa menggunakan layanan pembayaran lain seperti kartu debit.

Safari yang dipenuhi keramaian

Setelah membayar, mobil-mobil akan langsung diarahkan masuk menjelajahi area safari. Di sini, kami dapat melihat berbagai macam hewan herbivora dan karnivora hidup di kawasan hutan penangkaran. Jalan pada rute safari cukup lebar, cukup untuk dua mobil dalam satu jalur.

Sayang, kemacetan tidak bisa dihindari karena banyak pengunjung yang berhenti cukup lama untuk memberi makan kepada hewan-hewan yang berada di pinggir jalan. Terkadang, mobil juga tidak bisa maju karena ada hewan yang sedang menyebrang jalan. Suara bising dari klakson mobil akhirnya menjadi suara latar perjalanan safari hari itu.

Di rute terakhir, terdapat kami bisa memberi makan gajah dan jerapah. Jika tertarik, pengunjung bisa membeli apel dan wortel yang telah disediakan. Petugas yang berjaga akan pelan-pelan mengarahkan gajah dan jerapah untuk mendekati mobil.

Tersedia layanan memberi makan gajah/Eunike Dewanggasani

Antusiasme pengunjung mencoba wahana

Setelah keluar dari area safari, kami masuk ke area wahana-wahana yang berisi kebun binatang dan tempat bermain. Karena ramainya pengunjung, mencari tempat parkir adalah sebuah permainan keberuntungan. Area parkir yang dekat dengan wahana sudah penuh, sehingga kami harus berkendara agak jauh ke belakang untuk mendapat tempat parkir.

Ketika masuk ke area wahana, sudah disediakan banyak tempat cuci tangan portable lengkap dengan sabun dan papan instruksi cuci tangan. Booth tempat menjual makanan juga ramai diserbu pengunjung. Karena tiket masuk yang dibeli di awal sudah termasuk tiket terusan untuk wahana, banyak anak-anak yang berlarian kesana kemari mencoba berbagai macam atraksi. Sebut saja bombom car, kursi terbang, mini roller coaster.  Semua penuh oleh antrian orang-orang yang hendak naik.

Karena di gerbang tiket umumnya pengunjung masuk menggunakan harga tiket normal—yang nantinya akan diberi gelang kertas berwarna merah—di dalam taman terdapat beberapa atraksi yang hanya bisa diakses gratis untuk pemilik gelang kertas berwarna hitam—yang harga tiketnya lebih mahal. Untuk bisa menikmatinya, pengunjung dengan gelang merah harus merogoh kocek tambahan.

Bagian sepi dalam Taman Safari

Zona Australia yang sepi/Eunike Dewanggasani

Di dalam taman, area kebun binatang seperti taman burung, taman ular, dan baby zoo harus diraih melalui jalan naik dan jaraknya lumayan jauh. Mungkin karena faktor ini, banyak yang memutuskan untuk tidak mengunjungi area tersebut. Lantas, area tersebut lebih sepi dibandingkan daerah bawah yang dipenuhi atraksi dan permainan.

Di ujung taman terdapat area bernama Zona Australia. Terdapat shuttle bus yang melakukan antar jemput dari area ramai menuju ke Zona Australia. Pun ada layanan yang memudahkan agar pengunjung tidak lelah. Zona ini terbilang sangat sepi, tak banyak pengunjung yang singgah.

Seperti namanya, Zona Australia adalah tempat tinggal hewan-hewan khas dari benua Australia. Di area kanguru, kami bisa berinteraksi langsung dengan mamalia tersebut. Di depan pintu gerbang terdapat booth penjual makanan. Nantinya pembeli akan diberi mangkok berisi makanan kanguru dan dapat diberikan kepada hewan-hewan tersebut di dalam taman.

Aquatic Land, favorit keluarga

Berkebalikan dengan Zona Australia, Aquatic Land adalah tempat yang ramai dipenuhi oleh pengunjung khususnya mereka yang datang bersama anak-anak. Didesain mirip sebuah kapal, Aquatic Land menampilkan berbagai macam hewan air non-ikan seperti berang-berang, anjing laut, dan penguin.

Penguin adalah atraksi utama yang menarik minat banyak anak-anak. Di sini, kami bisa melihat pinguin dari atas atau dari bawah melalui kaca yang memperlihatkan bagian dalam kolam. Sama seperti wisata safari, di sini juga disediakan layanan berbayar untuk memberi makan penguin. Perbedaan yang paling mencolok adalah dikenakannya kuota pemberian makanan, sehingga pengunjung harus menunggu giliran yang agak lama jika ingin memberi ikan kepada para penguin di kolam.

Pinguin sebagai atraksi utama Aquatic World/Eunike Dewanggasani

Pandemi tidak menghalangi seseorang untuk menikmati seluruh layanan dan fasilitas yang disediakan oleh Taman Safari Prigen. Semua pengunjung tertib menggunakan masker, dan layanan hand sanitizer serta bilik cuci tangan tersedia di mana-mana. Jika ingin melepas kepenatan sejenak dari kehidupan kota, silahkan berkunjung ke taman ini.  Namun, tetap ingat untuk selalu memperhatikan protokol kesehatan dan menjaga diri.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

mahasiswa tingkat akhir di jurusan Sastra China. Saat ini sedang berdomisili di Jawa Timur, Eunike terkadang menulis untuk mengisi waktu luang.

mahasiswa tingkat akhir di jurusan Sastra China. Saat ini sedang berdomisili di Jawa Timur, Eunike terkadang menulis untuk mengisi waktu luang.
Artikel Terkait
Travelog

Bersumpah Berhenti Merokok di Bibir Jonggring Saloko

Travelog

Liburan Indie di Kakek Bodo Campground, Pasuruan

Travelog

Purun yang Menjadi Nyawa Kampung Purun

Semasa CoronaTravelog

Bersepeda Pagi Menuju Stadion Manahan Surakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Jalan-jalan ke Batu Secret Zoo, Inilah 6 Hal yang Bisa Kamu Lakukan selain Melihat Hewan-hewan Lucu