Travelog

Mengunjungi Kampung-Kampung Tematik di Kota Malang dalam Perayaan Festival Sungai Brantas

Untuk memperingati Hari Sungai Nasional sekaligus menggerakkan kembali roda perekonomian, beberapa kampung tematik di Kota Malang menyelenggarakan Festival Kali Brantas yang digagas oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat. Festival tersebut telah diselenggarakan sejak tanggal 24-27 Juli 2022 di kampung-kampung tematik yang dilintasi oleh aliran Sungai Brantas.

Kebetulan, saya mendapatkan kesempatan untuk hadir di 3 kampung tematik tersebut, yaitu Kampung Putih, Kampung Biru Arema, dan Kampung Jodipan. Berbagai rangkaian acara pun dilaksanakan sekaligus untuk mengkampanyekan kebiasaan hidup bersih dengan merawat Sungai Brantas yang selama ini hidup berdampingan dengan masyarakat di kampung-kampung tematik tersebut.

Kampung Biru Arema
Kampung Biru Arema

Pertama, pada hari Senin tepatnya tanggal 25 Juli 2022 saya berkunjung ke Kampung Putih yang terletak persis di samping Rumah Sakit Saiful Anwar Kota Malang. Event ini merupakan awal mula bagi Kampung Putih untuk bangkit kembali akibat pandemi dan juga banjir bandang yang memporak porandakan sebagian kampung pada November 2021 lalu. Saat saya menginjakkan kaki kembali ke Kampung Putih, rumah-rumah warga yang ambruk telah berdiri kembali, namun sayangnya salah satu taman yang berada di ujung kampung bernama Taman Daya’ tak dapat diselamatkan, kondisinya rata dengan tanah.

Mural di Kampung Putih
Mural di Kampung Putih

Pada rangkaian kegiatan tersebut, anak-anak dengan memukul kentongan dari bambu dan diikuti oleh pengunjung di belakangnya, berjalan mengelilingi kampung menuju ujung kampung tepatnya di pinggiran kali yang juga dekat dengan bekas Taman Daya’. Saat saya berjalan mengikuti iring-iringan anak-anak pemukul kentongan, sepanjang perjalanan terdapat beberapa warga yang berdiri di rumah masing-masing membawa kertas yang berisi tulisan atau ajakan untuk menjaga lingkungan sungai. Di pinggir sungai, anak-anak Kampung Putih pun menunjukkan bakat mereka untuk menari dengan dipandu oleh satu orang dewasa. Acara tersebut juga dimeriahkan oleh penampilan-penampilan musik dari pihak luar yang turut mendukung kegiatan di Kampung Putih. 

Sesuai dengan namanya, Kampung Putih dikonsep sebagai perkampungan yang setiap rumahnya berwarna seragam dominan putih dengan sentuhan warna hijau. Sayangnya, pencanangan Kampung Putih sebagai destinasi pariwisata dapat dikatakan belum cukup maksimal. Hal ini dilihat dari banyaknya cat-cat yang terdapat di rumah warga mulai memudar. Untung saja, permasalahan tersebut dapat diakali dengan mural yang dilakukan selama kegiatan berlangsung. Meskipun tidak dilakukan di seluruh tembok warga, setidaknya hal tersebut dapat sedikit membantu memperindah Kampung Putih.

Salah satu spot foto di Kampung Putih
Salah satu spot foto di Kampung Putih

Berikutnya pada Hari Selasa, 26 Juli 2022 saya kembali mengikuti rangkaian Festival Kali Brantas di Kampung Biru Arema. Kampung dengan warna serba biru melambangkan tim sepak bola kebanggaan Arek Malang ini telah menjadi kampung tematik sejak tahun 2018 yang juga dilewati oleh aliran Sungai Brantas. Berbeda dengan Kampung Putih, kegiatan yang ada di Kampung Biru Arema ini lebih untuk menghibur warga setempat dan upaya pulih dari kondisi usai pandemi.

Ketika saya sampai di lokasi, nyanyian-nyanyian dari anak-anak Kampung Biru Arema ramai terdengar. Diiringi dengan tabuhan drum, hingga iringan musik angklung, chant-chant suporter meriah dinyanyikan bersama-sama. Menariknya, tidak hanya warga Kota Malang saja yang hadir, namun turis dari luar negeri pun turut mengikuti kegiatan tersebut dengan sumringah.

Di Kampung Biru Arema, terdapat patung singa besar berwarna emas sebagai ikon atau ciri khas kampung tersebut. Di sana juga dipenuhi dengan mural yang berisi dukungan terhadap tim sepak bola Arema serta gambar para pemain. 

Terakhir, pada Festival Kali Brantas ini saya juga berkunjung di Kampung Jodipan yang sudah dikenal sebagai pelopor munculnya kampung tematik di Kota Malang. Acara yang diselenggarakan pada 27 Juli 2022 ini merupakan puncak dari festival karena bertepatan dengan Hari Sungai Nasional. Kondisi lokasi sangat padat dengan pengunjung maupun masyarakat setempat yang tinggal di sana. Rangkaian acara mulai dari tari-tarian di bibir Sungai Brantas, hingga pawai lampion pada malam harinya membuat acara menjadi sangat menarik perhatian para pengunjung.

Lampion di Kampung Warna Warni Jodipan
Lampion di Kampung Jodipan

Untuk memperingati hari sungai, sebelum kegiatan hiburan, para warga terlebih dahulu melakukan kerja bakti untuk membersihkan kali yang melintasi perumahan warga tersebut. Barulah setelah itu pada sore harinya warga kembali berkumpul untuk menyaksikan penampilan tari kreasi. Untuk memperindah lokasi hiburan, di pinggir-pinggir sungai dihiasi dengan obor yang menjadikan suasana menjadi semakin syahdu. 

Sayangnya, saya tidak dapat mengikuti kegiatan di Kampung Jodipan hingga selesai sehingga dengan terpaksa harus melewati festival lampion di sana. Sekilas yang saya lihat sebelum beranjak dari kampung tersebut, lampion-lampion yang dibawa oleh warga setempat berasal dari olahan barang bekas. Mungkin saja, hal ini juga melambangkan ajakan kepada masyarakat untuk meminimalisir adanya sampah yang terbuang dan mengotori wilayah sungai.

Jadi, seperti itulah perjalanan saya mengikuti beberapa rangkaian Festival Kali Brantas yang dipelopori oleh Pokdarwis Kota Malang. Kota Malang memang tidak memiliki wisata alam seperti yang dimiliki oleh dua saudaranya, yakni Kota Batu dan Kabupaten Malang. Namun Kota Malang tetap ingin memajukan perekonomian masyarakat melalui sektor pariwisata, akhirnya tercetuslah ide untuk menggagas kampung-kampung yang awalnya kumuh menjadi kampung wisata tematik. 

Meskipun menurut saya gagasan di beberapa kampung tematik Kota Malang masih belum dapat tertata dan berjalan dengan baik, setidaknya inisiator dan pemeran utama dalam perencanaan tersebut ialah berasal dari masyarakat setempat itu sendiri. Konon, gerakan yang berasal dari akar rumput jauh lebih kuat daripada kebijakan yang bersifat top-down atau diusung langsung oleh pemerintah kepada warganya. 

Tapi, Kota Malang tidak dapat menjadi kota yang maju hanya dalam 10 atau 20 tahun, begitu pula dengan kampung-kampung tematik yang ada di dalamnya, yang secara hitungan belum mencapai usia 10 tahun menjadi kampung tematik. Kampung-kampung tematik di Kota Malang ini masih mencoba merangkak dan berjalan dengan lancar hingga akhirnya lambat laun dapat berlari kencang untuk menjadi faktor penunjang ekonomi rakyat.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Lutfia Indah, perempuan yang sedang senang.

Lutfia Indah, perempuan yang sedang senang.
    Artikel Terkait
    Arah SinggahTravelog

    Diplomasi Sepakbola Timur

    Arah SinggahTravelog

    Memulai Kebun Pertama di Mekko

    Arah SinggahTravelog

    Harap Cemas Penantian Mekko

    Arah SinggahTravelog

    Lontar, Kacang Hijau, dan Gula Sabu

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    11 Jam Menuju Surabaya: Adu Cepat di Pemalang dan Mati Lampu di Semarang