Travelog

Menengok Koleksi Militer Museum Brawijaya Malang

Bus pariwisata yang saya tumpangi memasuki halaman Museum Brawijaya. Setelah turun, saya dan teman-teman tidak langsung masuk ke museum. Terlebih dahulu kami mengisi perut sesudah menempuh perjalanan cukup panjang dari sebuah desa di Lamongan. Saya memakan nasi bungkus di halaman belakang museum.

Itulah secuil kenangan tahun 1996 lalu yang masih mengendap dalam pikiran saya. Saat itu sekolah dasar (SD) saya mengadakan rekreasi ke Kota Malang. Berkunjung ke Museum Brawijaya menjadi pengalaman pertama saya ke tempat tersebut. Sebagai anak desa, tentu saja saya sempat ternganga melihat sebuah tank yang berdiri gagah di halaman depan museum.

Kendati kurang lebih 20 tahun tinggal di Kota Malang, nyatanya kedatangan saya hampir tiga dekade lalu menjadi satu-satunya kunjungan saya ke Museum Brawijaya hingga tahun 2022, kali terakhir saya ke sini. Padahal jarak dari tempat tinggal saya sekarang ke museum tidak terlalu jauh. Namun, selama itu saya masih belum punya ketertarikan untuk berkunjung kembali meski beberapa kali melewatinya.

Menengok Koleksi Militer Museum Brawijaya Malang
Tank amfibi milik Belanda di halaman Museum Brawijaya/Dewi Sartika

Berdiri di Bekas Lahan Taman Beatrix

Menjelang akhir April lalu, sembari menunggu jam pulang sekolah si sulung, saya memutuskan mengunjungi Museum Brawijaya kembali. Jarak sekolah anak saya ke museum cukup dekat. Sama seperti kunjungan saya sebelumnya, tak banyak yang berubah dari museum ini.

Letak Museum Brawijaya terbilang strategis, berada di kawasan Jalan Ijen. Kawasan yang tergolong elit, baik pada masa kolonial Belanda maupun masa sekarang. Di sepanjang Jalan Ijen bisa ditemui rumah-rumah berukuran besar dengan halaman luas.

Salah satu ciri permukiman yang dibangun Belanda pada masa itu adalah tersedianya fasilitas pendukung, seperti taman. Begitu pula permukiman yang ada di Jalan Ijen ini. Dulunya terdapat beberapa taman, salah satunya Taman Beatrix (Beatrix Park) yang kini menjadi lokasi berdirinya Museum Brawijaya.

Menurut pegiat sejarah dari Komunitas History Fun Walk Malang, Hannu Ayodya Mamola, jauh sebelum menjadi taman, lokasi ini direncanakan sebagai kolam renang baru (nieuwe zwembad) oleh wali kota Malang saat itu, Ir. Lakemar. Hal ini dilakukan mengingat kolam renang lama di kompleks olahraga yang berada di Jalan Tenes (Tenesweg) tak mampu lagi menampung para pengunjung. Namun, pembangunan ini urung dilakukan karena tidak efisiennya lokasi nieuwe zwembad yang baru. 

Selanjutnya, lahan tersebut digunakan sebagai taman. Sebelum menjadi Beatrix Park, taman ini bernama Smeroe Park. Penamaan Beatrix Park sendiri terjadi pada warsa 1938 atas inisiatif Wali Kota Malang era tersebut, J. H. Boerstra. Pemberian nama itu disengaja karena pada tahun yang sama, lahirlah calon pewaris tahta Kerajaan Belanda, Putri Beatrix.

Tidak hanya menamai taman saja, J. H. Boerstra juga mendirikan sebuah monumen kecil di bagian depan taman. Sayangnya, keberadaan monumen tersebut tak berumur panjang. Masih berdasarkan keterangan dari Hannu Ayodya Mamola—atau akrab disapa Mas Han, ia memperkirakan monumen Beatrix Park dihancurkan sesudah kemerdekaan Indonesia.

Menengok Koleksi Militer Museum Brawijaya Malang
Patung Jenderal Sudirman di teras depan Museum Brawijaya/Dewi Sartika

Benda-benda Militer dari Berbagai Pertempuran

Museum Brawijaya merupakan salah satu dari beberapa museum yang ada di Kota Malang. Namun, yang membuat museum tersebut lebih istimewa dibanding museum-museum lain adalah masa pembangunannya, yaitu mulai didirikan pada 1967. Bisa dibilang, inilah museum tertua di kota ini.

Menurut Hasan Bukhori, pemandu museum yang pernah saya temui pada 2022 lalu, ide pembangunan Museum Brawijaya sendiri dicetuskan Brigjen TNI (pur) Soerahman. Pada tahun 1962, saat masih menjabat Pangdam Brawijaya VII, beliau berkeinginan mempunyai museum. Baru lima tahun kemudian keinginan tersebut terealisasi berkat bantuan Salim Marta, seorang pengusaha dari Pandaan (kecamatan di Kabupaten Pasuruan) yang bersedia menjadi donatur untuk menanggung biaya pembangunan hingga peresmian.

Pembangunan Museum Brawijaya memakan waktu dua tahun (1967–1968) dan berdiri di atas lahan seluas 10.500 meter persegi, yang merupakan hibah dari Pemerintah Daerah Tingkat (Dati) II Malang. Sementara bangunan museumnya memiliki luas 3.200 meter persegi. Peresmiannya berlangsung pada 4 Mei 1968. 

Hasan, lelaki yang telah menjadi pemandu museum sejak 1991, juga menambahkan bahwa museum ini mempunyai semboyan Citra Uthapana Cakra (sinar yang membangkitkan semangat perjuangan). Di beranda depan, pengunjung dapat menyaksikan tank amfibi. Kendaraan perang inilah yang menjadi saksi bisu pertempuran sengit di Jalan Salak pada 31 Juli 1947 silam, antara para pejuang TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) dan tentara Belanda yang hendak menguasai Indonesia kembali lewat Agresi Militer. Menurut cerita, tentara Belanda menggunakan tank ini untuk melindas pejuang TRIP hingga gugur.

Menengok Koleksi Militer Museum Brawijaya Malang
Mobil sedan De Soto yang pernah dipakai Panglima Divisi 1 Jawa Timur, Letkol Soengkono pada masanya/Dewi Sartika

Untuk melihat-lihat koleksi militer lainnya yang ada di dalam museum, pengunjung cukup membayar Rp10.000 per orang. Tiket masuk ini bisa dibayar di ruang lobi setelah menaiki anak tangga yang di tengah-tengahnya terdapat patung Jenderal Sudirman.

Secara keseluruhan, museum ini terdiri dari empat bagian. Di ruang lobi, terdapat sebuah mobil jenis sedan merk De Soto buatan Amerika tahun 1941. Menurut cerita Hasan, sedan ini pernah digunakan Letkol Soengkono (Panglima Divisi 1 Jawa Timur) selama menjabat. Selain mobil, beberapa pigura berisi foto-foto Pangdam Brawijaya dari yang pertama hingga sekarang tertempel di salah satu dinding bagian atas. Begitu pula foto-foto wali kota Malang sejak era kolonial hingga saat ini menghiasi dinding lobi.

Ruangan selanjutnya berada di sebelah kiri dan kanan lobi. Di kedua ruangan tersebut terdapat berbagai macam koleksi yang berasal dari rentang masa 1945–1949 dan tahun 1959 sampai dengan sekarang. Benda-benda tersebut umumnya berhubungan dengan militer atau pertempuran.

Berbagai macam senjata yang diperoleh dari hasil rampasan perang turut terpajang. Semisal senjata jenis SMR Vickers yang dirampas dari tentara Inggris sewaktu pertempuran 10 November 1945. Lalu terdapat alat komunikasi yang digunakan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Tak ketinggalan juga mortar buatan para pejuang yang terbuat dari tiang telepon dan listrik untuk melawan penjajah.

  • Menengok Koleksi Militer Museum Brawijaya Malang
  • Menengok Koleksi Militer Museum Brawijaya Malang
  • Menengok Koleksi Militer Museum Brawijaya Malang

Selain itu, ada satu set meja kursi gubernur yang pernah digunakan untuk perundingan gencatan senjata di Surabaya, antara Indonesia dan pihak sekutu. Kondisinya sendiri terbilang sangat baik. Sementara pada sudut-sudut dinding ruangan terpasang potret para pemimpin militer Indonesia. Salah satunya Supriyadi.

Koleksi lain yang menarik perhatian saya adalah sebuah display yang menyajikan perlengkapan militer TRIP Jatim. Saya menduga bahwa koleksi ini masih baru karena seingat saya dalam dua kunjungan terakhir, display ini belum ada. Di sisi lain kondisi lemari display juga terlihat baru.

Tak hanya koleksi dari masa perjuangan, Museum Brawijaya juga menyajikan koleksi dari operasi militer Seroja Timor-Timur dan Trikora Irian Barat. Rampasan perang dari Operasi Seroja, yaitu sebuah meriam LX Arenal Real Doexercito hingga sebuah bejana besi yang digunakan untuk pembaptisan.

Museum Brawijaya turut menampilkan foto-foto dan cerita operasi militer Trisula untuk menumpas PKI di Blitar. Pun pertempuran-pertempuran melawan gerombolan Kahar Muzakar dan Andi Selle di Sulawesi Selatan.

Namun, koleksi Museum Brawijaya rupanya tidak melulu berkaitan dengan militer. Tempat ini juga memiliki koleksi baru berupa keris. Keris tersebut didapat pada 2021 lalu dari hibah keluarga almarhum Imam Oetomo, gubernur Jatim dua periode (1998–2003 dan 2003–2008) sekaligus Pangdam V/Brawijaya periode 1995–1997. Berdasarkan keterangan Hasan, saya akhirnya mengetahui bahwa benda-benda yang dipamerkan, selain hibah, juga diperoleh dari Dinas Peralatan Kodam (Paldam) Kota Malang yang bertugas mengumpulkan benda-benda terkait.

Menengok Koleksi Militer Museum Brawijaya Malang
Koleksi keris hibah keluarga Imam Oetomo/Dewi Sartika

Gerbong Maut, Ikon Museum Brawijaya

Bagian terakhir dari Museum Brawijaya berada di belakang, berupa ruangan terbuka seperti di bagian depan. Ruangan terbuka ini lebih menyerupai sebuah taman. Pada bagian ini juga terdapat semacam kafe yang didesain dengan tampilan jadul. 

Pada bagian belakang inilah terdapat ikon dari Museum Brawijaya, Gerbong Maut. Berbicara mengenai Gerbong Maut, sebenarnya ada tiga gerbong yang digunakan Belanda pada 23 November 1947 untuk mengangkut para tawanan dari Bondowoso ke Bubutan, Surabaya. Salah satunya ditempatkan di Museum Brawijaya. Kisah mengenai Gerbong Maut tersebut bisa dibilang cukup terkenal.

Gerbong Maut sendiri sebenarnya adalah gerbong untuk mengangkut barang. Dibandingkan dua gerbong lain, gerbong ini yang paling baru. Kala itu tiga gerbong tersebut digunakan Belanda untuk mengangkut 100 tawanan. Masing-masing berisi 30, 32, dan 38 orang. Di antara ketiga gerbong tersebut, gerbong ketiga inilah (isi 38 tawanan) yang paling terkenal dan disebut sebagai Gerbong Maut. Parahnya, meski disesaki banyak orang, gerbong ini tidak memiliki lubang atau ventilasi udara sama sekali.

Menengok Koleksi Militer Museum Brawijaya Malang
Gerbong Maut yang diletakkan di bagian belakang museum/Dewi Sartika

Panas yang menyelimuti para tawanan membuat suasana di dalam gerbong lebih mirip neraka. Tenggorokan yang makin mengering membuat mereka memohon agar tentara Belanda sudi memberi minuman. Namun, permintaan para tawanan tidak dihiraukan walau gerbong sempat berhenti di Jember. Dengan terpaksa, mereka pun meminum air kencing satu sama lain untuk bertahan hidup hingga tiba di Surabaya.

Perjalanan yang memakan waktu 16 jam itu berakhir tragis. Sesampainya di Surabaya, 46 orang meninggal. Beberapa di antaranya juga ada yang sedang dalam kondisi sakit. Hanya 12 orang saja yang masih sehat. Itu saja mereka diperintahkan untuk menggali kuburan para tawanan yang telah meninggal. Selanjutnya, mereka dikirim ke penjara Kalisosok.

Dari ketiga gerbong maut itu, hanya gerbong ketigalah yang diketahui nasibnya. Sementara gerbong pertama dan kedua tidak diketahui rimbanya pascakejadian tragis tersebut. Awalnya, gerbong ketiga berada di bekas Stasiun Bondowoso yang kini juga dibangun museum. Namun, karena diminta pihak Museum Brawijaya, sehingga pada akhirnya di Bondowoso dibangun replikanya.

Tidak hanya Gerbong Maut saja yang menghuni bagian belakang museum, tetapi juga Perahu Segigir. Dulu, perahu ini pernah digunakan sebagai alat transportasi Letkol Chandra Hasan dari Madura menuju Probolinggo pada November 1947, saat terjadi pertempuran melawan Belanda. Kondisi perahu tersebut juga terbilang masih cukup baik.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Dewi Sartika, ibu rumah tangga yang tinggal di Malang. Menyukai hal-hal yang berhubungan dengan sejarah dan menulis tulisan "historical fiction". Menjadi anggota komunitas literasi serta telah menghasilkan sejumlah antologi.

Dewi Sartika, ibu rumah tangga yang tinggal di Malang. Menyukai hal-hal yang berhubungan dengan sejarah dan menulis tulisan "historical fiction". Menjadi anggota komunitas literasi serta telah menghasilkan sejumlah antologi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Kelenteng Eng An Kiong, Jejak Komunitas Tionghoa di Malang