Travelog

Kelenteng Eng An Kiong, Jejak Komunitas Tionghoa di Malang

Untuk ketiga kalinya saya kembali mengunjungi Kelenteng Eng An Kiong di Jalan Martadinata, Kota Malang. Kunjungan pertama 2022 lalu, sementara dua kunjungan terakhir, Februari dan Juni tahun 2023. Tentu saja, bukan tanpa sebab saya bisa datang lagi ke tempat ini. Saya berkesempatan datang ke kelenteng sewaktu mengikuti walking tour bertema Eksplorasi Kuliner Legendaris Malang

Sebenarnya, saya sendiri tak menyangka Kelenteng Eng An Kiong menjadi salah satu rute yang akan dikunjungi. Yang jelas, hati saya bungah begitu mengetahui akan diajak masuk ke kelenteng. Dibanding dua kunjungan sebelumnya, saya merasa kunjungan yang ketiga ini lebih istimewa dibanding sebelumnya. Mengapa? Karena saya mendapat pengetahuan baru tentang kelenteng tersebut dan daerah sekitarnya yang tidak saya dapat dari dua kunjungan sebelumnya.

Meskipun hari Minggu, suasana sekitar kelenteng ramai akan lalu-lalang kendaraan. Ya, maklum saja, Jalan Martadinata adalah salah satu jalan utama di Malang. Belum lagi Kelenteng Eng An Kiong berada di perempatan jalan. Di area kelenteng sendiri relatif sepi. Hanya ada beberapa pengunjung.

Kelenteng Eng An Kiong terletak di kawasan Pecinan Lama, tepatnya di Kebalen. Dahulu Kebalen bersama daerah sekitarnya termasuk kawasan Pecinan Lama. Makanya, di Kebalen masih bisa dijumpai beberapa toko milik orang Tionghoa. Pada tahun 1924, kawasan Pecinan bergeser sedikit ke barat seiring kehadiran Pasar Besar. Inilah yang kemudian disebut dengan Pecinan Baru.

Kelenteng Eng An Kiong, Jejak Komunitas Tionghoa di Malang
Para beserta walking tour berfoto bersama di depan Kelenteng Eng An Kiong/Panitia

Sejarah Keberadaan Kelenteng

Kami tak langsung masuk kelenteng. Terlebih dahulu kami mendengarkan penjelasan dari pemandu tur tentang kawasan tempat Eng An Kiong berdiri. Saya hanya mengangguk kecil ketika Irawan Paulus selaku pemandu tur berbicara.

“Orang-orang Tionghoa memilih mendirikan kelenteng di lokasi saat ini karena mereka menemukan arca Dewi Durga di tempat itu. Arca Dewi Durga yang bertangan banyak inilah dipercaya sebagai Dewi Kwan Im yang dikatakan bertangan,” jelas Irawan Paulus.

Letak Eng An Kiong yang berada di Kebalen berdekatan dengan bekas pusat Kerajaan Tumapel, Kutho Bedah. Tidak mengherankan di kemudian hari banyak ditemukan sisa-sisa peninggalan Kerajaan Tumapel, seperti arca. Cerita semacam ini yang tidak saya dapatkan di kedatangan sebelumnya. Mendengarnya tentu saja membuat saya terperangah sekaligus antusias.

Keberadaan Klenteng Eng An Kiong di Kota Malang menjadi penanda perkampungan orang-orang Tionghoa waktu itu. Kelenteng dibangun pada tahun 1825, yang dipelopori  Letnan Kwee Sam Hway. Pangkat letnan di sini tidak merujuk pada pangkat di kemiliteran, tetapi hanya gelar yang diberikan pemerintah kolonial kepada pemimpin-pemimpin komunitas saat itu.

Dahulu orang-orang Tionghoa yang datang ke Malang banyak yang berasal dari suku Hokkian. Umumnya, mereka bekerja sebagai petani. Untuk itulah dewa utama yang disembah di Kelenteng Eng An Kiong adalah Dewa Bumi. Selain memiliki keahlian bertani, mereka juga mempunyai pengetahuan dalam bidang perkayuan, sehingga hingga pemerintah kolonial Belanda di Kota Malang memanfaatkan mereka sewaktu membangun rel kereta api.

Mulanya, bangunan kelenteng hanya berupa ruang altar Dewa Bumi yang berada di tengah. Karena jumlah orang Tionghoa makin banyak, diputuskan untuk menambah bangunan di sayap kanan dan kiri. Eng An Kiong juga menjadi rumah bagi tiga agama, yaitu Buddha, Tao, dan Konghucu.

  • Kelenteng Eng An Kiong, Jejak Komunitas Tionghoa di Malang
  • Kelenteng Eng An Kiong, Jejak Komunitas Tionghoa di Malang

Altar-altar di dalam Kelenteng Eng An Kiong

Selesai mendengar kata pengantar dari pemandu tur, saya lalu berjalan menuju pintu masuk yang berada di sebelah kanan. Adapun pintu keluar terletak di bagian kiri. Bersama peserta lain, kami langsung diarahkan ke ruang sembahyang yang terletak di teras bangunan utama kelenteng. Sebuah meja altar dengan papan bertulis Tuhan Yang Mahaesa yang dilengkapi dengan dupa, tiga piring berisi buah-buahan, dan beberapa lembar kertas kuning. Beberapa waktu kemudian, baru saya ketahui kalau lembaran-lembaran kuning itu adalah uang kertas atau cii jien yang digunakan untuk mengirim uang kepada leluhur.

Irawan Paulus mempraktikkan kepada kami tata cara beribadah. Ia mengambil sebuah hio lalu memasukkannya ke dalam mangkok bening berisi api dan cairan. Tangannya kemudian mengibas-ngibas hio tersebut hingga mati kemudian mulutnya komat-kamit seperti sedang merapal doa. Selesai sembahyang, ia kemudian beranjak ke navicula (wadah dupa yang terbuat dari tembaga) untuk menaruh hio.

Kelenteng Eng An Kiong, Jejak Komunitas Tionghoa di Malang
Irawan Paulus sedang menjelaskan ritual ciam si/Dewi Sartika

Saat kami hendak ke altar berikutnya, datang seorang lelaki berbaju batik. Pak Rudi, itulah namanya saat Irawan Paulus mengenalkannya kepada para peserta. Pak Rudi merupakan seorang pengurus Yayasan Kelenteng Eng An Kiong. Ini menjadi kesempatan kedua bagi saya bertemu dengannya. Pertemuan pertama terjadi pada 2022 tatkala saya mengikuti tur bertema Pecinan.

Ditemani Pak Rudi, kami menuju altar yang terdapat patung Dewa Bumi. Inilah ruang sembahyang utama. Dibanding altar di depan, tentu saja, ruangan altar utama ini dipenuhi dengan berbagai ornamen mewah yang didominasi warna merah. Sementara pada bagian dinding terdapat 46 gambar. Gambar-gambar tersebut bercerita tentang seorang anak yang berbakti kepada orang tua. 

“Itu ada gambar seorang anak masuk ke ruang tidur. Karena saat itu belum ada obat nyamuk, maka si anak masuk terlebih dahulu ke ruang tidur dengan maksud agar nyamuk-nyamuk menggigit si anak. Setelah nyamuknya tidak ada, orang tuanya baru masuk ke dalam,” kata Pak Rudi sembari telunjuknya mengarah ke salah satu gambar di tembok.

Kami lalu menuju bagian belakang ruang altar utama melalui pintu di sebelah kiri. Ada sejumlah altar di sini. Tiap altar yang berupa ruangan tersebut terdapat patung dewa yang berbeda-beda. Salah satu altar yang kami masuki adalah ruang ibadah kepada Dewi Kwan Im. Di ruangan ini Pak Rudi menjelaskan tentang ciam si. Sebuah ritual untuk meminta petunjuk. Dahulu, orang-orang Tionghoa melakukan ritual ciam si untuk meminta petunjuk terkait kehidupan. Salah satunya, meminta petunjuk sewaktu sakit.

Kelenteng Eng An Kiong, Jejak Komunitas Tionghoa di Malang
Pak Rudi (tengah) bersama para peserta tur/Dewi Sartika

Kembali Irawan Paulus maju mempraktikkan ciam si kepada kami. Tangannya meraih dua bilah kayu di meja lalu dilempar. Agar proses ciam si masih berlanjut, syaratnya kedua bilah kayu tersebut harus dalam posisi tertelungkup dan terbuka. Ini menggambarkan posisi yin dan yang. Pemohon diberi kesempatan sebanyak tiga kali untuk melempar bilah kayu. Jika  kedua bilah kayu itu tidak menggambarkan posisi yin dan yang, maka pemohon tidak bisa meneruskan ciam si dan baru bisa melakukannya kembali setelah jeda beberapa hari.

Bilah kayu yang dilempar Irawan Paulus tidak berhasil mencapai posisi yin dan yang, tetapi ia tetap meneruskan proses ciam si sebagai contoh kepada kami. Sesudah meletakkan bilah kayu, ia lalu mengambil sebuah wadah menyerupai gelas berisi batang bambu dengan tulisan nomor pada salah satu sisi batang. Kemudian ia mengocoknya hingga salah satu bambu jatuh ke lantai.

Irawan Paulus lalu memungut batang bambu tersebut untuk melihat nomor yang tertera. Nomor itulah yang kemudian dicocokkan dengan lembar-lembar kertas di lemari kecil yang tertempel di dinding. Lembaran kertas diberi nomor. Masing-masing berisi tentang penyakit yang diderita dan resep obat. Sesudah mengetahui jenis penyakit dan obatnya, si pemohon lalu membawa resep obat tersebut ke toko obat.

Kelenteng Eng An Kiong, Jejak Komunitas Tionghoa di Malang
Gambar pada ruang sembahyang Dewa Bumi/Dewi Sartika

Misi Utama Kelenteng Eng An Kiong

Sesudah menyaksikan proses ciam si hingga akhir, kami melanjutkan tur mengelilingi kelenteng ditemani Pak Rudi. Hanya berjarak sekitar 10 meter dari altar pemujaan Dewi Kwan Im, langkah saya terhenti di depan beberapa prasasti yang tertempel pada dinding. Prasasti-prasasti ini berisi nama-nama donatur kelenteng. Saya hampir tak memercayai bahwa nama-nama yang terukir di prasasti tersebut sudah dimulai sejak tahun 1901 sebagaimana yang tertulis di atasnya.

Selesai mendengar cerita Pak Rudi, saya beserta yang lain kemudian bergerak menuju bagian belakang kelenteng. Di sini terdapat semacam aula terbuka yang biasanya digunakan untuk latihan barongsai dan tari tradisional. Hebatnya lagi, menurut keterangan Pak Rudi, kegiatan ini bisa diikuti siapa saja tanpa dikenai biaya alias gratis. 

Kelenteng Eng An Kiong, Jejak Komunitas Tionghoa di Malang
Prasasti berisi nama-nama donatur kelenteng/Dewi Sartika

“Ada tiga misi yang dibawa oleh kelenteng. Pertama, misi agama sebagai tempat ibadah Konghucu, Tao, dan Buddha. Misi kedua, budaya, di mana kelenteng juga melestarikan budaya Tionghoa, seperti barongsai dan budaya nusantara dengan mengadakan kursus tari tradisional. Sementara misi terakhir adalah sosial. Pihak kelenteng menyediakan balai pengobatan gratis yang berada di samping kelenteng,” jelas Pak Rudi.

Mendengar pernyataan Pak Rudi, saya makin dibuat terkesan sekaligus mengapresiasi misi yang diemban Kelenteng Eng An Kiong. Apalagi Pak Rudi juga memberitahu kepada kami bahwa siapa pun bebas melihat latihan barongsai dan tari. Dalam hati, saya berpikir suatu saat nanti akan mengajak dua anak saya ke sini. 

Puas melihat-lihat bagian belakang, selanjutnya kami diajak menuju ke ruangan bagian depan dekat pintu masuk. Kami mendatangi ruang ibadah Tao yang terlihat lengang karena orang-orang Tao sudah selesai menjalankan ibadah. Begitu pula saat kami mendatangi ruang ibadah Buddha yang berada dekat pintu keluar. Suasananya juga sepi.

Selesai berkunjung ke dua ruangan tersebut, kami lalu beranjak keluar. Sebenarnya kurang puas mengelilingi kelenteng dan mendengar cerita dari Pak Rudi. Namun, kami harus pergi. Sebelum berlalu, kami menyempatkan foto bersama di pelataran depan kelenteng. Tentu saja, meski sudah ketiga kalinya saya ke sini, saya berharap semoga suatu saat nanti saya bisa berkunjung ke Eng An Kiong kembali sembari mendengarkan lebih banyak lagi kisah dari Pak Rudi.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Dewi Sartika, ibu rumah tangga yang tinggal di Malang. Menyukai hal-hal yang berhubungan dengan sejarah dan menulis tulisan "historical fiction". Menjadi anggota komunitas literasi serta telah menghasilkan sejumlah antologi.

Dewi Sartika, ibu rumah tangga yang tinggal di Malang. Menyukai hal-hal yang berhubungan dengan sejarah dan menulis tulisan "historical fiction". Menjadi anggota komunitas literasi serta telah menghasilkan sejumlah antologi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Menapaki Bandar Grissee dalam Lintasan Zaman