Travelog

Menengok Bursa Koran Cikapundung

Saat sebagian besar penghuni Kota Bandung masih bermalas-malasan atau bahkan masih terlelap di tempat peraduan, kesibukan justru telah menyeruak dari kawasan Jalan Cikapundung Timur (sekarang bernama Jalan Dr. Ir. Sukarno). 

Jalan ini membentang dari selatan ke utara. Di sisi barat, mengalir Sungai Cikapundung, yang airnya tak pernah kelihatan jernih. Tak jauh dari aliran Sungai Cikapundung, berdiri gedung PLN. Sementara di sisi timur, terdapat Gedung Merdeka.

Tumpukan koran-koran diletakkan di atas trotoar yang dilapisi karton tebal. Ada juga tabloid dan majalah. Sejumlah petugas sub-agen, loper, dan pengecer terlihat sibuk mengambil koran, tabloid dan majalah yang menjadi jatah mereka.

Di sebuah sudut, beberapa orang sedang merapikan koran dan tabloid. Itu adalah koran dan tabloid retur, yang tidak laku.

Pada saat yang sama, di sudut lain, sejumlah petugas agen tengah serius menghitung uang setoran dari pengecer dan loper. Setumpuk uang kertas, uang recehan, buku catatan, dan kalkulator ikut menemani kesibukan mereka.

Dua orang loper terlihat asyik mengobrol sebelum berangkat mengantar koran pagi itu. Loper lain tampak sedang menata koran untuk dibawa menggunakan sepeda. Ada juga loper yang menyempatkan membaca sekilas berita-berita yang terbit di koran hari itu.

bursa koran cikapundung
Mencatat koran yang laku/Djoko Subinarto

Selama berpuluh-puluh tahun, kawasan Cikapundung, yang berjarak sekitar 750 meter dari Alun-alun Bandung, telah menjadi bursa koran terbesar untuk wilayah Bandung Raya. Ia memiliki peran sangat penting dalam peta pemasaran dan peredaran koran, tabloid dan majalah di Kota Bandung dan sekitarnya.

Semua koran, tabloid serta majalah, lokal maupun nasional, di-drop di Cikapundung, sebelum didistribusikan kepada para sub-agen, loper dan pengecer untuk kemudian diedarkan ke seluruh penjuru Kota Bandung.

Selain melayani para sub-agen, loper dan pengecer, agen-agen koran di Cikapundung tetap bersedia melayani konsumen perorangan. Konsumen bukan hanya dapat membeli koran yang terbit hari itu, tetapi juga dapat membeli koran yang terbit di hari-hari sebelumnya. Tentu saja, sepanjang persediaannya masih ada. Tinggal sebutkan nama koran dan edisi tanggal terbitnya, petugas agen dengan senang hati akan mengusahakan mencarikannya.

Beberapa puluh tahun silam, saya termasuk yang getol menyambangi bursa koran Cikapundung hanya untuk membeli koran retur The Indonesia Times dan The Jakarta Post, sebagai sarana belajar memahami teks berita berbahasa Inggris. Harga koran retur sudah barang tentu jauh lebih murah ketimbang jika membelinya dalam edisi hari terbitnya.

Harga The Indonesia Times dan The Jakarta Post waktu itu, pada saat hari terbitnya, di tingkat penjual eceran, yaitu Rp350 per eksemplar. Di masa itu, dengan uang sebesar itu, saya dapat memesan makanan lumayan mewah (untuk ukuran anak kos) di kedai makan yang ada di sisi utara Terminal Ledeng, dekat kampus IKIP Bandung (sekarang UPI) . 

Bursa Koran Cikapunding diambang senja

Sabtu (23/1/2021) pagi silam, di tengah balutan cuaca dingin Bandung, saya kembali untuk kesekian kalinya mengunjungi bursa koran Cikapundung. Saya menuju salah satu agen untuk membeli dua buah koran. Pilihan saya pagi itu sebuah koran nasional dan sebuah koran lokal. Yang koran nasional terbit 16 halaman. Sedangkan yang lokal terbit 12 halaman.

  • bursa koran cikapundung
  • bursa koran cikapundung
  • bursa koran cikapundung
  • bursa koran cikapundung
  • bursa koran cikapundung

Begitu kedua koran sudah ada dalam genggaman, saya ulurkan lembaran dua puluh ribu rupiah.

“Mau beli koran apa lagi?” tanya pria petugas agen berkaus putih, sembari menerima lebaran duapuluh ribu. 

Saya menyebutkan sebuah nama koran lain terbitan Jakarta.

“Sudah lama nggak masuk ke sini, Kang. Nggak ada pembelinya,” katanya. 

“Seperti inilah kondisinya sekarang. Pasar koran semakin lesu,” sambungnya datar sembari memberikan uang kembalian.

Apa yang dikatakan petugas agen koran itu benar adanya. Pasar koran sekarang ini memang semakin lesu. Jongko-jongko koran di tempat-tempat publik di Kota Bandung semakin banyak saja yang tutup.

Agaknya, industri koran cetak memang sudah berada di ambang senja. Ia memasuki apa yang diistilahkan oleh orang-orang Barat sebagai sunset industry.

Faktanya, tiap tahun ada saja penerbit koran cetak di negeri ini yang menutup usahanya. Awal tahun ini, setidaknya sudah ada satu penerbit koran yang memutuskan untuk menghentikan koran edisi cetaknya.

Dalam konteks persaingan kecepatan dalam hal produksi dan pendistribusian informasi, koran cetak memang sudah kalah telak dengan media online maupun media sosial. Berbagai peristiwa yang kita baca di koran hari ini, nyaris semuanya sudah dapat kita ketahui pada hari sebelumnya lewat media online ataupun media sosial.

Artinya, sebagian besar informasi yang tersaji di koran cetak sesungguhnya sudah basi. Aspek inilah yang kini menjadi salah satu kelemahan dan tantangan yang mesti diatasi oleh para pengelola koran cetak.  

Memang konsumen koran cetak masih ada. Tapi, jumlahnya kian susut. Dilihat dari aspek finansial, jumlah konsumen koran yang masih ada sekarang ini tidak berkontribusi signifikan bagi pendapatan perusahaan koran. Bukan rahasia lagi, ongkos produksi masih lebih tinggi dibanding dengan pendapatan dari harga jual koran atau harga langganan koran.

Beban akan kian berat bagi perusahaan koran ketika raihan kue iklan juga bertambah seret. Kalau sudah demikian, tak ada pilihan selain mungkin harus menutup usaha.

Di tengah terus anjloknya jumlah konsumen dan menurunnya jumlah pemasang iklan, sejumlah perusahaan koran masih berupaya sekuat tenaga menerbitkan koran cetaknya. Sejumlah siasat dilakukan demi dapat bertahan. Mengurangi jumlah halaman, misalnya. Lantas, menghentikan edisi hari Minggu. Langkah lainnya, menerbitkan edisi e-paper berbayar. Bahkan, mengurangi jumlah karyawan.

Sembari menenteng dua koran, saya ayunkan langkah kaki menjauhi para personel agen koran di bursa Koran Cikapundung yang masih sibuk dengan sejumlah pekerjaannya pagi itu.

Di sebuah bangku kayu yang terlihat mulai kusam, yang menghadap persis ke Jalan Naripan, saya membuka koran yang baru saya beli.

Dari seberang jalan, sayup-sayup terdengar lagu lawas Berkasih Mesra milik Koes Plus, yang bersumber dari speaker di sebuah jongko kopi kaki lima. Selintas, saya dapat menangkap dengan jelas sebagian liriknya. 

Berkasih mesra

Kita berdua 

Untuk selama-lamanya

Kekasih hati

Kita berjanji

Untuk sehidup semati…

Serombongan pesepeda melintas santuy di depan saya. Empat orang laki-laki menggunakan sepeda gunung. Dua orang perempuan menggunakan sepeda lipat. 

Pandangan mata saya kemudian segera beralih ke halaman utama koran nasional. Headline-nya hari itu berbunyi: “PPKM Belum Bisa Atasi COVID-19”. Kemudian, saya buka koran terbitan lokal. Tertulis: “Penutupan Jalan Diperluas”.

Beberapa tahun kedepan, akankah saya masih bisa duduk di bangku yang sama sembari membaca koran yang sama untuk edisi yang berbeda?

Cuma putaran roda waktu yang bakal menjawabnya.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.

Djoko Subinarto

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.
Artikel Terkait
Travelog

Hidup Produktif bersama Perpustakaan Bung Hatta

Travelog

Melawat ke Makam Kehormatan Belanda

Travelog

Coban Pelangi dan Kenangan Apik

Travelog

P4S Tranggulasi: Bukan Hanya Sekedar Kelompok Tani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *