ItinerarySampah Kita

Jangan Bakar Sampahmu, Cukup Pastikan Terbuang pada Tempatnya

Hujan mulai reda sejak subuh, matahari bersinar cukup terik, membiarkan tenda-tenda basah menguapkan sisa rintik hujan yang meresap di beberapa bagian. Sebagian kelompok pendaki pun mulai keluar untuk merapikan barang-barang mereka, mengepak yang tidak basah, menandakan mereka siap untuk melanjutkan perjalanan atau kembali pulang ke basecamp.

Mereka mulai memunguti sampah yang sempat berserakan terkena angin atau terbawa hujan, dan mengemasnya dalam kantong sampah yang sepertinya telah disiapkan.

“Dan, mau diapain sampahnya?” Salah satu dari pendaki itu bertanya tentang sampah yang telah Ia kumpulkan kepada rekannya.

“Dibawa turun, taruh di situ aja Mat, nanti ku bawa sekalian.” Orang dipanggil Dan itu masih sibuk membersihkan lokasi tempat mereka mendirikan tenda.

“Enggak kita bakar aja sambil nunggu teman-teman yang lain selesai packing?” Pendaki tadi kembali bertanya

“Jangan, Mat. Kalo dibakar, ntar sisa bakarannya mengeras di tanah dan tidak bisa terurai.” Tungkas orang yang dipanggil Dan.

Aku cukup senang masih ada pendaki seperti Dan, yang peduli bagaimana sebaiknya sampah dikelola dengan bijak. Memang sebagai pendaki, kita sudah tahu betul bahwa ada aturan yang diceritakan turun temurun tentang tidak boleh meniggalkan apapun selain jejak, terutama sampah sisa pendakian.

pendakian minim sampah
Memungut botol minum sekali pakai/Senna R

Sampah yang paling mudah ditemukan sebagai sisa pendakian adalah botol-botol plastik air mineral yang digunakan untuk mengemas air minum dari basecamp atau dari sumber air yang ada di dekat lokasi campground. Botol ini sebagaimana kita tahu berbahan dasar Polypropylene, sebuah bahan kimia yang sulit terurai dalam waktu singkat. Dan salah satu cara untuk mengurainya adalah dengan menggunakan panas, dalam hal ini tentu saja dibakar.

Setidaknya itu yang kita ketahui secara sederhana, sayangnya hal ini tidak cukup bersahabat bagi lingkungan. Pertama, plastik yang dibakar tersebut tidak benar-benar hilang, hanya berubah bentuk menjadi kepingan, yang sebagaimana dijelaskan oleh Dan, tidak bisa terurai. Kedua, plastik yang dibakar akan melepaskan gas karbon monoksida yang tidak baik bagi kesehatan, dan belum lagi resiko yang muncul akibat pelepasan gas karbon monoksida untuk lingkungan.

Hal ini bukan hanya berlaku bagi botol plastik, tapi juga untuk sampah kemasan lain yang butuh pengolahan lebih lanjut, sebut saja seperti kemasan makanan ringan yang menggunakan lapisan aluminum. Sampah seperti ini butuh pengolahan tahap lanjut yang hanya bisa dilakukan di satu tempat, yaitu di tempat pembuangan akhir. Lagipula dengan alasan apapun, kita dilarang untuk menyalakan api di lingkungan hutan, ini berlaku untuk semua lokasi pendakian manapun. Setidaknya untuk mencegah resiko kebakaran hutan, yang membahayakan bagi kehidupan semua makhluk hidup, termasuk pendaki itu sendiri.

Lantas, apa yang sebaiknya kita lakukan untuk sampah-sampah pendakian? Hal yang sama seperti yang disarankan oleh Dan, kemas semua sampahmu dalam satu buah tempat atau kantung, dan bawa kembali turun ke basecamp, atau kalau bisa, benar-benar jauh dari lokasi gunung tempat kita berkemah.

Untuk kasus botol plastik, kita bisa menggulung botol-botol sampah tersebut menjadi ukuran terkecil. Cara ini cukup ampuh menghemat ruang, sehingga kita bisa mengemas sampah lain. Memisahkan sampah plastik termasuk langkah bijak dalam mengolah sampah pendakian, seperti memisahkan tutup botol dengan botol plastiknya. Walau sama-sama plastik, materialnya jelas berbeda, pengolahannya tentu akan berbeda juga.

Bersihkan sampah tersebut dari sisa makanan, terutama untuk makanan basah, kita bisa mengubur sisa sampah organik tersebut untuk membantu tanah di sekitar lokasi basecamp tetap subur. Dan untuk kemasan pembungkusnya kita lipat agar tidak mengeluarkan bau.

Kemudian sampah-sampah tadi dikemas dalam kantong plastik yang setidaknya diikat dan di lapisi kembali dengan plastik lainnya. Cara ini untuk memastikan tidak ada kebocoran atau sampah tidak berceceran selama perjalanan kembali ke basecamp untuk kemudian dibuang ke tempat pembuangan.

Dari pendaki seperti Dan, kita bisa belajar bahwa peduli pada lingkungan bisa dimulai dengan sesuatu yang kecil. Dan menularkan semangat yang tepat tentang bagaimana seorang pendaki sebaiknya tidak menganggap remeh perkara membuang sampah di lokasi pendakian ini, setidaknya dengan tidak membakar dan meninggalkan sisa bakaran tersebut.

Seperti kelompok pendaki Dan dan Mat yang sudah selesai berkemas, kami pun merapikan semua perlengkapan kami, memastikan tidak ada yang tertinggal, termasuk sampah-sampah sisa. Memasukan ke dalam satu tempat, dan membawanya turun, Kami lega, dengan kegiatan pendakian ini, tidak ada lingkungan yang dirugikan.

Dan kami berharap dengan langkah seperti ini tetap bisa menjaga tempat bermain kami yang menyenangkan ini tetap asri untuk kami kunjungi lagi di masa depan, dengan kelestarian yang tetap terjaga tanpa ada kekurangan apapun. Dengan semangat, aku mengangkat carrier dan kantong sampah, beranjak pulang.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
ItineraryNusantarasa

Sepiring Hidangan yang Tak Biasa

Itinerary

5 Tips Memilih Tempat Makan di Destinasi Wisata

IntervalSampah Kita

Alam Bebas Sampah sebagai Esensi Kawasan Wisata

Itinerary

Mengenal Desa Boti, Nusa Tenggara Timur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *