Travelog

Mendatangi Rumah yang Ada di Gambar Uang Sepuluh Ribu

Pukul 23.00 tengah malam, ditemani rintik hujan yang tak kunjung usai, saya memutuskan untuk beristirahat hingga esok hari di salah satu hotel di Kota Palembang. Perjalanan panjang sedari pagi dari Kabupaten Jambi dan dua kali salah arah karena mengikuti jalan rekomendasi dari Google Maps. 

Siapa sangka, pemandu jalan yang kami percayai ini malah membawa kami bergerak menjauh melintasi hutan yang hanya bisa dilalui oleh mobil jenis 4×4. Tak ada tempat bertanya, kanan kiri dipenuhi oleh rimbunan semak, bahkan untuk putar balik saja sulit karena jalur yang sangat rusak, ban mobil berputar penuh tenaga saat kendaraan masuk ke dalam lubang yang dalam. Saya bersyukur ketika menemukan polsek setempat untuk bertanya jalur mana yang bisa ditempuh agar kami aman menuju Kota Palembang. 

Lintas Sumatra merupakan jalur umum yang dilalui para pengendara, tapi bagi yang tidak terbiasa seperti saya dan keluarga, bantuan aplikasi Google Maps sangat menjadi acuan untuk melintas. Namun apa daya, hari ini saya sedikit terkejut dengan rekomendasinya. Sinyal yang hilang timbul juga jadi tantangan tersendiri.

Di jalur ini, saya punya prinsip untuk tidak boleh berhenti sembarangan dan bertanya kepada seseorang, tentunya demi menjaga keselamatan diri dan keluarga. Berbagai macam kejahatan di jalan harus diwaspadai. Beruntungnya saya bisa menemukan dengan cepat polsek terdekat. Langit gelap dengan rintik hujan yang semakin rapat akhirnya menyambut kami tiba di Kota Palembang. 

Rumah limas
Rumah limas di Museum Balaputeradewa/Atika Amalia

Pagi hari di Palembang, sisa hujan semalam masih tergenang di jalanan. Sepertinya hujan cukup lama, saya dan keluarga yang sudah kelelahan sepertinya tertidur pulas di kamar hotel. Bumi Sriwijaya sebutan lain untuk Kota Palembang ini terkenal dengan panganan pempeknya, satu potong pempek kapal selam yang disiram kuah cuko lalu ditaburi potongan mentimun segar sudah mulai menghiasi pikiran. Perut yang juga memberi kode untuk diisi menggerakan otak saya untuk melaju namun lamunan itu buyar, masih pagi belum boleh makan kuah cuko ucapan mama yang sedari saya kecil selalu beliau ucapkan. 

Pilihan untuk sarapan pagi di hotel kemudian check out menurut saya lebih baik dari pada harus mules gara-gara minum cuko di pagi hari. 

Semua anggota keluarga sudah kembali segar, perut kenyang, barang-barang sudah kembali disusun rapi di bagasi sementara jam masih menunjukan pukul sembilan pagi. Saya yang berencana akan menyeberang dari Bakauheni ke Merak sudah memperhitungkan perkiraan waktu perjalanan dan masih ada sekitar 4 jam untuk menelusuri Palembang. Pilihan pertama adalah menuju kedai Pempek Candy, bingkisan pempek beku nanti akan jadi oleh-oleh untuk kerabat di Jakarta. 

Tak lupa pula, saya membeli pempek yang sudah digoreng untuk disantap di dalam mobil. Setelahnya, saya juga sudah berencana untuk mendatangi sebuah rumah yang pernah saya lihat di uang sepuluh ribu rupiah bernama rumah limas. Peta digital Google kembali saya pergunakan, semoga kali ini saya tidak dibuat pusing lagi olehnya.

Kota Palembang tampak ramai. Saya diarahkan untuk melintasi jalan utama. Jalur MRT  terlihat kokoh berdiri diatasnya. Tak lama kemudian, tibalah saya di sebuah museum yang cukup terkenal di Palembang yaitu Museum Negeri Sumatra Selatan atau  Museum Balaputradewa, berlokasi di Jalan Sriwijaya I No. 288, RW 5, Srijaya, Kecamatan Alang-Alang Lebar, Kota Palembang, Sumatra Selatan.  Cukup dengan membayar Rp2.000,00 bagi pengunjung dewasa dan Rp1.000,00 untuk pengunjung anak.

Harga yang ditawarkan sangat kecil dibanding cerita sejarah yang mereka simpan di dalam museum ini. Kesan pertama yang saya rasakan ketika masuk museum adalah gerah. Iya siang ini matahari cukup panas. Seorang teman sewaktu SMA yang sempat saya kabari pun juga sudah tiba. Hampir 10 tahun kami tak kunjung bersua, akhirnya kami bertemu di Kota Palembang. Selalu ada hal-hal yang tak disangka di setiap perjalanan. 

Tujuan utama saya adalah melihat rumah limas seperti yang ada di uang sepuluh ribu lama. Rumah itu terlihat sama. Sambil merogoh kantong, saya mencari uang kertas sepuluh ribu, tapi saya tidak menemukan yang seri lama. Nyaris sedih, saya mencoba  kembali merogoh kantong kecil dari dalam tas, sebuah uang kertas seri lama yang saya harapkan pun muncul. Uang itu saya buka lebar tepat di depan rumah limas. Dalam hati berucap, ”Wah sama banget ya!”  Rumah yang terbuat dari kayu ini sudah dibangun sejak tahun 1830. 

Rumah limas punya banyak sekali keistimewaan, bahkan rumah limas pernah dicetak pada uang pecahan sepuluh ribu rupiah. Pada bagian atap terdapat ornamen berbentuk simbar, bukan banyak sebagai hiasan tetapi juga digunakan untuk menangkal petir. Simbar memiliki jumlah yang berbeda, setiap bilangannya memiliki arti. Dua melambangkan Adam Hawa, tiga melambangkan matahari, bulan dan bintang, empat melambangkan sahabat nabi, dan lima melambangkan rukun Islam. Dari luar bangunan, ventilasi udara  juga berguna untuk mengintip tamu yang datang tapi sebaliknya dari arah luar tamu tidak bisa melihat kedalam.

Dilansir dari laman Indonesia.go.id bahwa rumah limas memang mempunyai banyak filosofi yang mendalam, terdiri dari lima tingkat dengan makna dan fungsi yang berbeda-beda. Lima tingkatan ruangan diatur menggunakan filosofi kekijing, di mana setiap ruangannya diatur berdasarkan penghuninya, yaitu usia, jenis kelamin, bakat, pangkat, serta martabat.

Tingkat kedua atau disebut jogan merupakan tempat berkumpul diperuntukkan bagi anggota keluarga pemilih rumah yang berjenis kelamin laki-laki. Masuk lebih dalam atau pada kekijing ketiga, lebih memiliki privasi dibanding ruangan sebelumnya. Posisi lantainya lebih tinggi dan bersekat. Ruangan tingkat tiga ini hanya digunakan oleh tamu undangan khusus ketika pemilik rumah sedang mengadakan hajat. 

Khusus orang yang dihormati dan memiliki ikatan darah dengan pemilih rumah, dipersilahkan untuk ke tingkat keempat. Seperti para dapunto dan datuk, tamu undangan yang dituakan. Terakhir, tingkat kelima atau disebut gegajah memiliki ruangan paling luas dibanding ruangan lainnya. Ruangan ini lebih istimewa dan lebih bersifat privasi, hanya dimasuki oleh orang yang mempunyai kedudukan sangat tinggi dalam keluarga maupun masyarakat. Di dalamnya terdapat undukan lantai untuk bermusyawarah yang disebut amben, dan kamar pengantin jika pemilik rumah mengadakan pernikahan.

Hal menarik lainnya, rumah limas dibangun menghadap ke arah timur dan barat. Bagian yang mengarah ke barat disebut dengan matoari edop atau berarti matahari terbit yang melambangkan kehidupan baru. Sedangkan yang menghadap ke timur disebut dengan matoari mati yang berarti matahari terbenam atau melambangkan akhir dari kehidupan. 

Walau jaman sekarang orang-orang sudah jarang membangun rumah limas namun bukan berarti sudah tidak ada. Jika kita melintasi daerah yang berada di sepanjang aliran Sungai Batang Hari, sebagian besar masyarakat masih tinggal di rumah limas dan mereka juga sudah merenovasi ke bangunan batu yang lebih permanen. Selain tinggi, masyarakat juga terlindungi jika suatu waktu air sungai meluap. 

Matahari mulai naik semakin tinggi, waktu azan zuhur pun akan tiba , saya memutuskan untuk menyudahi  tur rumah limas ini. Setiap melakukan perjalanan melintasi berbagai kota, saya begitu menikmati sekali beragam tradisi, adat, kuliner dan kebiasaan masyarakatnya dan semakin yakin bahwa Indonesia sangat kaya akan budaya dan masyarakat adat yang ramah. Semoga suatu saat nanti saya bisa menelusuri sudut lain kota Palembang. 


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Atika Amalia yang kini tinggal di Jakarta. Disela-sela kesibukannya sebagai Ibu Rumah Tangga, Atika juga menekuni hobi fotografi.

Atika Amalia yang kini tinggal di Jakarta. Disela-sela kesibukannya sebagai Ibu Rumah Tangga, Atika juga menekuni hobi fotografi.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Menyusuri Lawang Sewu di ‘Kota Atlas’

    Travelog

    Mencari Sejarah yang Terkubur di Kuburan Londo, Sukun

    Travelog

    Menyambangi Gedung Sate Menjelang Momen Puncak Reformasi 1998

    Travelog

    Dari Jogja ke Blora, Melawat ke PATABA

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.