INTERVALURBAN FUTURES

Mendambakan Pasar Inklusif di Kota Bandung

Setiap dua minggu sekali, Alifa Aulia Shalsabilla menemani ibunya pergi berbelanja kebutuhan dapur ke Pasar Sederhana, Kota Bandung. Dari rumah mereka di Kelurahan Pasteur, Kecamatan Sukajadi, keduanya naik angkot menuju pasar yang berada di Jalan Jurang. Rutinitas itu tampak sederhana bagi kebanyakan orang. Namun, bagi Alifa, setiap perjalanan adalah latihan untuk mengingat sekaligus menghindari berbagai rintangan.

Alifa adalah perempuan muda dengan disabilitas sensorik penglihatan (low vision). Mata kanan Alifa tidak dapat melihat sama sekali. Sementara mata kirinya hanya berfungsi 20 persen dengan jarak pandang efektif sekitar satu hingga satu setengah meter. Kondisi itu membuat aktivitas sederhana seperti berbelanja di pasar tradisional menuntut kewaspadaan ekstra.

Ketika ibunya tidak bisa mendampingi, Alifa sesekali pernah berangkat sendiri dengan mengandalkan ingatan serta petunjuk yang pernah diberikan sang ibu atau relawan pendamping. Ia mengingat bagian-bagian pasar yang harus dihindari untuk menuju kios bahan pangan yang dituju: jalan yang licin dan becek, lorong yang gelap karena minim penerangan, hingga anak tangga yang terlalu tinggi.

Keterbatasan fisik membuat Alifa harus sangat berhati-hati ketika belanja di pasar tradisional. Akhir pekan dan waktu antara subuh hingga pukul sembilan pagi adalah puncak keramaian pasar. Pada jam-jam itu, Pasar Sederhana dipenuhi pedagang dan pembeli yang memenuhi sudut-sudut dan lorong pasar. 

Daripada mengambil risiko, Alifa memilih untuk berbelanja di supermarket atau menyerahkan urusan dapur kepada ibunya.

“Yang saya rasakan selama ini, tidak ada penataan ruang yang jelas (di pasar tradisional). Kalau di pasar modern aku merasa lebih nyaman. Sekalipun saya low vision (tidak bisa melihat label harga), tetapi display section atau penataan produknya lebih jelas,” ujar Alifa.

Meski lebih sering didampingi, Alifa mengaku mobilitasnya di pasar swalayan lebih mudah daripada di pasar tradisional. 

Pengalaman serupa juga dialami Windy Hefitrianti. Windy adalah orang dengan disabilitas cerebral palsy ringan serta mengalami gangguan skoliosis dan gagap bicara. Setiap dua hingga empat kali dalam satu bulan, Windy harus pergi berbelanja kebutuhan pangan di Pasar Leuwipanjang, yang berjarak sekitar lima menit naik angkot dari rumahnya di Kebon Lega, Bandung.

Windy berusaha mandiri. Terkadang ia pergi sendiri, sesekali diantar adik atau ayahnya. Akan tetapi,kemandirian itu ternyata sering kali berbenturan dengan kondisi pasar yang belum ramah bagi pengunjung dengan keterbatasan mobilitas.

Ketika pasar sedang ramai atau cuaca hujan, Windy tetap memerlukan pendamping untuk membawa barang belanjaan. Jalan yang licin, genangan air, dan tangga menjadi tantangan yang harus dihadapi setiap kali pergi ke pasar tradisional.

“Tantangan saya mungkin ada di komunikasi dan fisik. Misalnya, untuk pergi ke pasar, jalannya becek dan banyak tangga untuk menaikinya. Sementara ke supermarket mungkin tidak terlalu banyak tantangan,” ujar Windy, yang juga menjadi anggota divisi publikasi Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Jawa Barat.

Kesulitan bicara juga membuat komunikasi Windy dengan pedagang tidak selalu berjalan mudah. Meski sudah berusaha keras menyusun kalimat untuk bertanya tentang produk atau komoditas yang ingin dibeli, tidak jarang sejumlah pedagang malas untuk menanggapinya. Bahkan pertanyaan Windy sering diabaikan.

Berbeda dengan berbelanja di supermarket, petugas keamanan maupun pegawai toko umumnya lebih sigap menawarkan bantuan dan mengarahkan pengunjung yang membutuhkan.

Windy (kiri) berinteraksi dengan pedagang sayur di Pasar Cihapit (Dokumentasi Simpang Belajar)
Windy (kiri) berinteraksi dengan pedagang sayur di Pasar Cihapit/Dokumentasi Simpang Belajar

Aksesibilitas pasar yang belum merata

Cerita Alifa dan Windy memperlihatkan persoalan yang sama. Akses terhadap pangan tidak hanya ditentukan oleh keberadaan pasar, tapi juga oleh kemampuan setiap orang untuk menjangkaunya secara aman, nyaman, dan mandiri. Keberadaan pasar sebagai fasilitas publik ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas aksesibilitasnya.

Bagi Putri Nabila, Sekretaris Cabang Koalisi Perempuan Indonesia Se-Kota Bandung, inklusivitas bukan hanya dilihat dari fasilitas fisik yang ada di pasar tradisional. Melainkanjuga pengalaman setiap orang saat menggunakan ruang publik tersebut secara utuh. 

Ia mencontohkan Pasar Kosambi, yang disebut menunjukkan upaya lebih baik ke arah yang lebih inklusif.

“Di bagian depan sudah tersedia akses yang menunjukkan adanya perhatian terhadap kebutuhan penyandang disabilitas. Sebagai warga Kota Bandung, tentu saya mengapresiasi langkah tersebut karena menunjukkan bahwa isu aksesibilitas mulai menjadi perhatian dalam pembangunan fasilitas publik,” kata Putri.

Meski demikian, menurut Putri, upaya itu masih bersifat parsial. Setelah memasuki bagian dalam pasar, berbagai hambatan masih mudah ditemukan. Ada banyak ruang-ruang yang perlu perbaikan lebih serius. Tangga dengan elevasi yang berbeda-beda menyulitkan pengguna kursi roda, lansia, ibu hamil, maupun orang dengan mobilitas terbatas. Bahkan bagi pengunjung umum, kondisi itu tetap berisiko menyebabkan tersandung dan jatuh.

Putri menambahkan, selain ruang gerak yang sempit, di sejumlah titik, lantai juga terlihat basah dan licin. Bagi sebagian orang kondisi itu mungkin dianggap biasa, tapi bagi orang dengan disabilitas, lansia, atau ibu hamil, situasi itu memberikan risiko keselamatan yang lebih tinggi. Putri juga menambahkan, banyaknya kios yang tutup membuat beberapa sudut pasar terasa gelap. Dari perspektif perempuan, pencahayaan dan visibilitas ruang juga merupakan bagian penting dari rasa aman ketika berada di ruang publik.

“Selama ini konsultasi publik sering kali dilakukan sebagai formalitas. Padahal perempuan, penyandang disabilitas, lansia, dan komunitas akar rumput perlu dilibatkan sejak tahap desain hingga evaluasi. Karena mereka yang paling memahami kebutuhan dan hambatan yang dialami sehari-hari,” ujar Putri.

Suasana salah satu lorong dagangan di sudut Pasar Kosambi (kiri) dan Pasar Cihapit/Dokumentasi Simpang Belajar

Upaya pasar agar lebih inklusif

Data resmi dari Perumda Pasar Juara Kota Bandung mencatat, saat ini setidaknya ada 37 pasar tradisional di Kota Bandung, dengan lebih dari 27 ribu ruang dagang yang melayani kebutuhan jutaan warga.

Keberadaan pasar sebagai pusat distribusi bahan pangan dan penunjang kegiatan ekonomi harusnya bisa diakses oleh siapa saja, tanpa terkecuali. Namun, pengalaman Alifa dan Windy menunjukkan bahwa akses terhadap pangan belum selalu berjalan beringan dengan akses terhadap ruang.

Di antara puluhan pasar yang dikelola Perumda Pasar Juara, Pasar Kosambi dan Pasar Cihapit menjadi dua contoh yang mulai berupaya membangun ekosistem pasar yang lebih inklusif.

Selain memperbaiki wajah pasar melalui penataan kawasan dan pengembangan ruang publik, keduanya mulai menghadirkan fasilitas yang ramah disabilitas.

Di Pasar Kosambi, misalnya, pengunjung dapat menemukan jalur landai bagi pengguna kursi roda, guiding block untuk orang dengan disabilitas netra, toilet umum, serta penataan kios berdasarkan jenis komoditas. Zona buah, sayur, ikan, dan daging dipisahkan sehingga lebih mudah dikenali pengunjung.

Kepala Pasar Kosambi, Yayan Agustina Gunawan, mengatakan upaya tersebut dilakukan untuk mengembangkan pasar agar menjadi lebih inklusif. “Kita rutin melakukan perbaikan lantai-lantai pasar karena sudah agak bolong-bolong, menjaga kebersihan agar tidak becek, dan menjaga keamanan agar pengunjung dan pedagang merasa aman.”

Pengelola Pasar Kosambi juga rutin bekerja sama dengan Puskesmas setempat. Kerja sama dilakukan dalam hal melakukan pengecekan suhu dan kelembaban udara di dalam pasar. Selain itu, kegiatan pelayanan masyarakat seperti donor darah, pemeriksaan kesehatan gratis, hingga fasilitasi sertifikasi halal bagi pedagang, juga rutin dilakukan untuk memperkuat fungsi pasar.

Di Pasar Cihapit, upaya untuk membuat ekosistem pasar agar lebih bersahabat juga dilakukan. Kepala Pasar Cihapit, Maman Suherman, mengatakan pihaknya sejak awal telah merancang Pasar Cihapit agar ramah disabilitas. Penyediaan jalur masuk dari area depan hingga ke dalam pasar bebas dari hambatan fisik, seperti tanjakan atau sekat. Sayangnya, beberapa pedagang seringkali masih menjual barang dagangan di jalur masuk yang berpotensi mengganggu akses jalan masuk dan keluar bagi pengunjung umum maupun orang dengan disabilitas.

“Saat ini kami akan ada penambahan (fasilitas), seperti informasi titik masuk dan keluar, dan penunjuk arah,”ujar Maman. Menurutnya, ketersediaan fasilitas dan aksesibilitas ramah disabilitas ini juga merupakan salah satu poin penilaian dalam lomba pasar rakyat nasional. Selain itu, Maman juga mewajibkan setiap tenant untuk melakukan pembersihan di masing-masing area selepas tutup toko, termasuk wastafel.

Pintu utama Pasar Cihapit (kiri). Pengunjung harus melewati lorong sempit untuk menuju bagian dalam pasar/Dokumentasi Simpang Belajar

Harapan dari para penyandang disabilitas Kota Bandung

Bagi Alifa dan Windy, perubahan yang dibutuhkan tidak selalu rumit. Mereka menaruh harapan agar jejak inklusivitas bisa diikuti oleh pasar tradisional lainya. Mulai dari ketersediaan guiding block, penerangan yang memadai, ramp (jalur pengganti anak tangga), hingga zonasi produk yang lebih tertata sesuai dengan komoditasnya.

Alifa menyarankan setiap pasar memiliki petugas pendamping yang dapat membantu pengunjung menemukan lokasi kios atau mendampingi orang dengan disabilitas ketika diperlukan.

“Kalau memungkinkan setiap section ada petugasnya. Walaupun kita tidak harus dipandu dari awal datang ke pasar sampai pulang, tetapi ada petugas yang siap untuk kita tanya-tanya. Misalnya, ‘Pak, saya mau beli ayam, tukang ayam atau tempat beli ayam sebelah mana, ya? Boleh saya minta tolong diantar?’,” ujar Alifa, yang juga lulusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

Keberadaan petugas atau pendamping khusus bisa menambah rasa aman bagi orang dengan disabilitas saat beraktivitas di dalam pasar, tambah Alifa.

Harapan serupa juga disampaikan Windy, menurutnya pasar bukan hanya sekadar tempat jual beli, tapi juga bagian dari kehidupan masyarakat. Oleh karenanya, pasar harus menjadi ruang publik yang benar-benar inklusif, bukan hanya untuk orang dengan disabilitas, tapi juga untuk lansia, ibu hamil, dan anak-anak.

“Saya harap pemerintah [sebagai] pengelola pasar daerah, pedagang, dan organisasi penyandang disabilitas bisa bekerja sama agar pasar menjadi tempat yang nyaman dan dapat diakses semua orang,” ujar Windy.

Pengalaman Alifa dan Windy menunjukkan bahwa persoalan akses terhadap pangan tidak selalu berhenti pada soal ada atau tidaknya pasar. Dalam konteks kota, persoalan tersebut berkaitan dengan bagaimana sistem pangan dirancang dan siapa saja yang dapat mengaksesnya. Pangan tidak cukup hanya tersedia dan terjangkau, tetapi juga perlu memastikan setiap warga dapat memperoleh pangan tanpa menghadapi hambatan yang seharusnya dapat dihindari.

Aktivitas jual beli bahan pangan di Pasar Kosambi (Dokumentasi Simpang Belajar)
Aktivitas jual beli bahan pangan di Pasar Kosambi/Dokumentasi Simpang Belajar

Persoalan inklusivitas itu menjadi salah satu temuan dalam In-depth Assessment Urban Futures Indonesia pada 2024. Kajian tersebut memetakan bahwa salah satu masalah yang perlu ditangani Kota Bandung adalah keterlibatan orang muda dan sistem pangan yang belum sepenuhnya inklusif.

Temuan tersebut menjadi bagian dari konteks kerja Urban Futures di Bandung. Bandung dipilih bukan hanya karena persoalan pangannya, tapi karena kota ini memiliki hubungan erat dengan wilayah penunjang di sekitarnya. Karena itu, persoalan pangan di perkotaan tidak dapat dilihat hanya dari apa yang terjadi di satu pasar atau satu lingkungan saja.

Dalam konteks itu, pasar menjadi salah satu ruang penting untuk melihat apakah sistem pangan benar-benar bekerja untuk semua orang.

Urban Futures Indonesia kemudian mendorong berbagai upaya bersama untuk membangun sistem pangan yang lebih inklusif. Pendekatannya tidak hanya menyasar pasar, tapi juga ekosistem pangan yang lebih luas. Program yang dijalankan antara lain pendampingan bisnis kepada Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), mendorong sistem pertanian berkeadilan melalui Community Support Agriculture (CSA), pelibatan orang muda untuk mendorong kebijakan publik, dan kampanye digital untuk memperluas percakapan mengenai sistem pangan perkotaan.

Kerja tersebut mempertemukan berbagai kelompok yang selama ini berada di titik berbeda dalam sistem pangan: pemerintah, komunitas, pelaku usaha, petani, orang muda, hingga kelompok yang menghadapi hambatan dalam mengakses pangan dan ruang publik.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah ruang publik seperti pasar bukan hanya ditentukan oleh banyaknya pedagang atau ramainya transaksi. Lebih dari itu, pasar bisa disebut sebagai ruang publik ketika setiap orang yang apapun kondisinya, dapat datang, berbelanja, dan pulang dengan rasa aman dan nyaman.

Artikel ini dapat tersusun berkat dukungan dari Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial melalui program Urban Futures.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

TelusuRI

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Avatar photo

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Kebun Belajar: Langkah Orang Muda Merawat Pangan Lokal Manggarai Barat