TRAVELOG

Mencari Teduh di Hutan Jati Cileungsi

Sabtu sore (13/6/2026), kusempatkan diri menuju salah satu ruang hijau yang masih tersembunyi di kawasan Cileungsi, Kabupaten Bogor. Lokasinya berada di Kampung Bojongkaso, tidak jauh dari Perumahan Griya Kenari Mas. Tempat ini dapat dicapai melalui dua jalur yang cukup dikenal warga sekitar, yakni dari arah Jalan Raya Narogong maupun melalui akses Bojongkaso dari pusat Cileungsi. Meski jaraknya tidak terlalu jauh dari kawasan yang padat oleh kendaraan dan aktivitas industri, suasana yang kutemui di ujung perjalanan terasa sangat berbeda.

Begitu memasuki kawasan hutan, deretan pohon jati yang menjulang tinggi seolah memisahkanku dari hiruk-pikuk jalan raya yang hanya berjarak beberapa kilometer. Tidak ada deru kendaraan berat yang selama ini begitu lekat dengan citra Cileungsi, yang terdengar justru desir angin yang bergerak di antara pepohonan dan sesekali kicauan burung dari kejauhan.

Tempat ini tidak memiliki papan penunjuk besar, tidak pula ramai dipromosikan sebagai destinasi wisata. Namun, justru itulah daya tariknya. Di tengah kawasan yang terus berkembang menjadi permukiman, pergudangan, dan pusat aktivitas ekonomi, keberadaan hutan jati ini seperti sebuah kejutan kecil.

Setibanya di lokasi, aku melihat sebuah warung sederhana berdiri di tepi hutan. Warung itu dikenal sebagai Warkop Pondok Jati. Beberapa pengendara motor tampak singgah untuk beristirahat, sementara sejumlah keluarga datang untuk bersantai dan menikmati jajanan di warung. Ada yang menyeruput kopi, ada yang menikmati bakso, dan ada pula yang sekadar duduk memandangi deretan pohon jati yang membentang di hadapan mereka. Dari warung inilah perjalanan soreku di Hutan Jati Cileungsi dimulai.

Kupesan segelas es kopi susu, dua gorengan, dan sepotong roti untuk menemani sore itu. Sambil menyeruput kopi dingin dan menikmati gorengan yang masih hangat, aku memandangi batang-batang jati yang menjulang di hadapanku. Angin berembus pelan membawa aroma tanah dan dedaunan kering. 

Di tempat itulah aku bertemu dengan Pak Jay, pemilik lahan sekaligus sosok yang selama puluhan tahun berada di kawasan ini. Pria asal Nias itu menyambutku dengan ramah dan kami pun mengobrol cukup lama mengenai sejarah hutan jati yang kini menjadi tempat singgah banyak orang.

Menyusuri jalan di antara tegakan pohon jati (Rizky Triputra)
Menyusuri jalan di antara tegakan pohon jati/Rizky Triputra

Menanam 15.000 Bibit Pohon Jati

Pak Jay bercerita, dirinya mulai tinggal di daerah ini sejak tahun 1999. Saat itu kondisi Cileungsi masih sangat berbeda dibanding sekarang.

“Dulu masih benar-benar hutan. Listrik juga belum ada,” ujarnya.

Sulit membayangkan kawasan yang kini dipenuhi perumahan dan lalu lintas kendaraan itu pernah menjadi wilayah yang relatif sepi. Dari cerita Pak Jay, aku bisa membayangkan wajah Cileungsi 25 tahun lalu. Jalan-jalan belum seramai sekarang dan ruang terbuka hijau masih mendominasi bentang alamnya.

Lima tahun setelah menetap di sini, tepatnya pada 2004, Pak Jay mulai menanam pohon jati di sebagian lahannya. Jumlahnya tidak sedikit. Sekitar 15.000 bibit jati ia tanam secara bertahap.

Saat itu mungkin tidak banyak yang membayangkan hasilnya akan seperti sekarang. Bibit-bibit kecil tersebut tumbuh perlahan dari tahun ke tahun hingga akhirnya membentuk hutan yang cukup luas. Pohon-pohon itu kini menjulang tinggi dengan batang lurus yang khas, menciptakan lorong-lorong alami yang menarik untuk dijelajahi.

Cahaya sore berpendar di Hutan Jati Cileungsi (Rizky Triputra)
Cahaya sore berpendar di Hutan Jati Cileungsi/Rizky Triputra

Hutan yang Tumbuh dari Kesabaran

Aku berjalan menyusuri salah satu jalur tanah di antara tegakan jati. Cahaya matahari sore menembus sela-sela tajuk pohon dan membentuk pola bayangan yang memukau di permukaan tanah. Di beberapa titik, hamparan daun kering mulai menutupi jalan setapak. Warna hijau daun yang tersisa berpadu dengan kuning dan cokelat yang mulai mendominasi. Meski baru pertengahan Juni, tanda-tanda musim meranggas sudah mulai terlihat.

Menurut Pak Jay, saat ini pohon-pohon jati memang sedang memasuki masa pergantian daun. Karena itulah sebagian tajuk terlihat lebih renggang dibanding biasanya.

“Kalau bulan Agustus nanti lebih bagus lagi,” katanya.

Menurutnya, sekitar Agustus, daun-daun jati akan semakin banyak berguguran sehingga lantai hutan dipenuhi hamparan daun berwarna cokelat keemasan. Di periode tersebut menurutnya menyerupai musim gugur di negara-negara Eropa.

Fenomena ini ternyata merupakan salah satu karakteristik unik pohon jati (Tectona grandis). Berbeda dengan banyak pohon tropis yang tetap hijau sepanjang tahun, jati termasuk jenis pohon yang menggugurkan sebagian besar daunnya pada musim kemarau untuk mengurangi kehilangan air melalui penguapan. Karena itulah hutan-hutan jati di Pulau Jawa sering berubah warna menjadi kuning kecokelatan pada pertengahan tahun, sebelum kembali menghijau ketika musim hujan tiba.

Vegetasi bawah mengisi ruang di antara pohon-pohon jati (Rizky Triputra)
Vegetasi bawah mengisi ruang di antara pohon-pohon jati/Rizky Triputra

Aku sempat teringat bahwa pohon jati juga memiliki hubungan panjang dengan sejarah maritim Nusantara. Sebelum baja mendominasi industri perkapalan, kayu jati dikenal karena kekuatan dan ketahanannya terhadap pembusukan, rayap, serta lingkungan yang lembap. Sifat-sifat tersebut membuatnya menjadi salah satu material penting dalam pembangunan kapal kayu. 

Di Pulau Jawa, hutan-hutan jati bahkan pernah menjadi salah satu sumber daya strategis yang mendukung pembangunan armada dagang dan pelayaran pada masanya. Mendengar kisah Pak Jay tentang menunggu puluhan tahun hingga pohonnya siap dipanen membuatku tersadar. Pohon-pohon di hadapanku sesungguhnya berasal dari jenis kayu yang pernah berperan besar dalam sejarah pelayaran Nusantara.

Sebaliknya, memasuki Oktober hingga November, daun-daun baru akan mulai tumbuh dan hutan kembali menghijau. Siklus itu terus berulang setiap tahun, membuat lanskap yang sama selalu memiliki wajah yang berbeda.

Perbincangan kami kemudian beralih ke masa depan pohon-pohon jati tersebut. Pak Jay menjelaskan bahwa jati bukanlah tanaman yang bisa dipanen dalam waktu singkat.

“Kalau mau bagus, sekitar lima puluh tahun,” ujarnya.

Artinya, pohon-pohon yang kini berdiri tegak itu masih memiliki perjalanan panjang sebelum mencapai usia panen yang ideal. Ada pelajaran menarik dari kisah tersebut. Menanam jati bukan hanya soal menghasilkan kayu bernilai tinggi, melainkan juga tentang kesabaran. Apa yang ditanam hari ini mungkin baru dapat dinikmati puluhan tahun kemudian.

Di tengah obrolan, Pak Jay mengaku senang melihat lahannya kini menjadi tempat yang disukai banyak orang. Ia tidak menyangka hutan yang dulu ditanam untuk investasi jangka panjang justru berkembang menjadi ruang rekreasi sederhana bagi masyarakat sekitar. Pesepeda, komunitas motor, keluarga, hingga pemburu foto datang menikmati suasana yang ditawarkan tempat ini.

Warkop Pondok Jati yang dikelola oleh anak-anak Pak Jay (Rizky Triputra)
Warkop Pondok Jati yang dikelola oleh anak-anak Pak Jay/Rizky Triputra

Pada 2023, ia membangun warung kopi sederhana di tepi hutan. Warung itulah yang kini menjadi titik kumpul para pengunjung. Dari terasnya, orang dapat menikmati secangkir kopi sambil memandang tegakan jati yang tumbuh rapi.

Hal yang paling menarik bagiku justru bukan pemandangan hutannya, melainkan cerita tentang perubahan sebuah wilayah. Selama beberapa dekade terakhir, Cileungsi tumbuh menjadi kawasan penyangga Jakarta yang semakin padat. Nama Cileungsi lebih sering dikaitkan dengan kemacetan, debu, Jalan Raya Narogong, aktivitas truk pengangkut material dari kawasan tambang dan industri, serta ekspansi perumahan yang terus bergerak ke arah timur hingga daerah Cariu. 

Menjelang senja, aku kembali berjalan perlahan di antara batang-batang jati yang mulai diselimuti cahaya keemasan. Bayangan pohon memanjang di atas tanah. Angin bertiup semakin sejuk. Beberapa daun kering jatuh perlahan tanpa suara. Seusai senja, aku meninggalkan Hutan Jati Cileungsi dengan perasaan bahagia. 


Referensi:

Hoadley, R. B. (2000). Understanding wood: A craftsman’s guide to wood technology (2nd ed.). Newtown: Taunton Press. https://archive.org/details/understandingwoo0000hoad.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Rizky Triputra

Rizky Triputra sering menulis dari perjalanan dan perjumpaan kecil di jalan. Sesekali mendaki gunung, lebih sering belajar menunggu. Bermukim di Indonesia, tetapi pikirannya kerap tersesat di antara hutan, kopi, dan pertanyaan yang tidak minta segera dijawab.

Rizky Triputra

Rizky Triputra sering menulis dari perjalanan dan perjumpaan kecil di jalan. Sesekali mendaki gunung, lebih sering belajar menunggu. Bermukim di Indonesia, tetapi pikirannya kerap tersesat di antara hutan, kopi, dan pertanyaan yang tidak minta segera dijawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Toko Buku Bandung: Ruang Kecil bagi Ingatan yang Panjang