

Di Pulau Jawa, khususnya Provinsi Jawa Tengah, Gunung Sumbing mungkin termasuk gunung yang memiliki jalur pendakian resmi paling banyak untuk menggapai puncak tertinggi dan kalderanya. Di setiap kabupaten yang mengelilinginya, mulai dari Magelang, Wonosobo, dan Temanggung, total ada belasan jalur—baik yang sudah resmi untuk umum ataupun masih menjadi jalur warga lokal—dengan karakteristiknya sendiri dan bertemu menjadi satu di puncak. Tak terkecuali jalur Dukuh Seman, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung, yang akhir-akhir ini kerap jadi buah bibir warganet di media sosial.
Sejak dibuka pertama kali untuk umum pada Januari 2021, pengelola Base Camp (BC) Bumi Makukuhan Wonosari (Bimawari) terlihat menunjukkan tekad kuat untuk berbenah membuat jalur pendakian yang nyaman untuk pendaki. Aula balai dusun beratap limasan, yang terletak di ketinggian 1.351 mdpl, menjadi pertanda jelas kalau BC Bimawari menjadi satu dari sedikit tempat singgah yang paling representatif untuk pendaki, termasuk saya. Bahkan mungkin melebihi base camp lain yang di bawah pengelolaan taman nasional atau balai-balai kehutanan milik pemerintah.
Saya berbincang sejenak dengan Ketua BC Bimawari, Wardoyo (45), sebelum mendaki hari Sabtu (16/5/2026). Yoyok, sapaan akrabnya, ada faktor sejarah yang menyebabkan jalur Dukuh Seman belakangan dibilang nyaman, bersahabat, lebih banyak trek landai, dan enak oleh sebagian pendaki.
“Jadi, memang dulu [jalur Dukuh Seman] itu kita buka untuk jalur sepeda motor,” kata Yoyok. Yang ia maksud adalah motor trail, yang memang didesain untuk medan-medan ekstrem di hutan atau gunung.
Namun, karena dianggap bisa merusak ekosistem hutan dan mata air Gunung Sumbing, pihak Perum Perhutani KPH (Kesatuan Pemangkuan Hutan) Kedu Utara selaku pemangku kawasan meminta masyarakat Dukuh Seman menutup jalur motor tersebut. “Akhirnya [oleh Perhutani] dan rekan-rekan punya gagasan [untuk] membuka jalur pendakian Gunung Sumbing via Dukuh Seman,” lanjut Yoyok.


Dukuh Seman: salah satu jalur religi Gunung Sumbing
Saya dan Emmy, istri saya, mendaki Gunung Sumbing lewat jalur Dukuh Seman bersama tiga orang lainnya: Evelyne (dari Purbalingga), serta Hamzah dan Maia (keduanya dari Jogja). Kami melakukan pendakian santai, dengan ritme langkah yang tidak tergesa. Target kami berkemah di Camp Anggrek (2.546 mdpl).
Setelah membayar biaya registrasi pendakian sebesar Rp35.000 per orang, kami memutuskan naik ojek ke pintu hutan. Tarif jasa ojek Rp25.000 sekali jalan sangat sepadan bila ingin menghemat tenaga untuk jarak sejauh 1,6 kilometer, dengan medan makadam membelah kebun tembakau. Waktu tempuh sekitar 10–15 menit dengan kontur agak menanjak. Jika jalan kaki, waktu tempuhnya jauh lebih lama, sekitar 1–1,5 jam.
Kami memulai pendakian dari pintu hutan (1.631 mdpl) sekitar pukul 9 pagi. Batas hutan–ladang warga ini juga jadi ujung perjalanan dengan ojek, ditandai dengan gapura dan jembatan kecil. Tanjakan berundak yang dibuat zig-zag menyambut pendaki di bawah naungan hutan pinus. Cocok buat pemanasan fisik di awal pendakian menuju Pos 1 (1.645 mdpl) sejauh 250 meter—jarak terpendek di rute ini dengan waktu tempuh 15–20 menit—yang ditandai dengan sebuah gubuk sederhana untuk berteduh.


Selain untuk pendakian umum, jalur Dukuh Seman juga dikenal sebagai jalur spiritual. Mungkin, status ini juga jadi pertimbangan Perhutani maupun beberapa pihak pemerhati konservasi dan budaya mendesak masyarakat Dukuh Seman menutup pintu untuk kegiatan motor trail. Di masa yang jauh sebelum itu, nama besar Ki Ageng Makukuhan agaknya menjadi piweling (pengingat) agar masyarakat tetap mendapat manfaat ekonomi sekaligus melestarikan hutan Gunung Sumbing. Membuka jalur pendakian sebagai wisata minat khusus juga berarti menjaga jalur spiritual yang telah lama digunakan penduduk setempat. Jalur Dukuh Seman ini bertemu dengan jalur klasik Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu—yang juga jalur ziarah—di Pos 5 atau Watu Lawang (sekitar 3.100 mdpl).
Menurut Yoyok, pengetahuan kolektif masyarakat lokal mengenang Ki Ageng Makukuhan sebagai salah satu penyebar agama Islam di Temanggung. Selain berdakwah—berdasarkan informasi sejumlah masyarakat di lereng Sumbing dan literatur lokal—sosok beretnis Tionghoa dan bernama asli Ma Kuw Kwan ini juga diduga memelopori budi daya tembakau. Sehingga, Temanggung juga dikenal sebagai daerah penghasil tembakau terbaik.
Di area kawah Gunung Sumbing, terdapat peninggalan religi berupa petilasan atau maqam (tempat bekas seseorang pernah berpijak), atau sebagian memercayainya sebagai makam yang di bawahnya terbaring jasad Ki Ageng Makukuhan. Di atas base camp, dekat tempat parkir mobil dan motor, juga terdapat makam—konon—murid langsung Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga (anggota Wali Songo) itu. Sepengetahuan Yoyok, kurang lebih ada 13 titik yang dipercaya menjadi petilasan (maqam) dan makam. Di daerah Kedu, sekitar 6 kilometer dari Alun-alun Temanggung, juga ada jejak makamnya.
“Sulit [mengetahui lokasi makam] pastinya di mana,” ujar Yoyok merujuk pada terbatasnya informasi dan literatur sejarah yang ia pegang. Ia menambahkan, sebagai bentuk kesepakatan bersama, makam Ki Ageng Makukuhan di kawah Gunung Sumbing dijadikan jalan tengah oleh orang-orang tua zaman dulu sebagai pusat peziarah. Konsensus ini dibentuk tanpa mengurangi kekhidmatan masyarakat untuk turut berziarah dan berdoa di belasan petilasan yang lain.


Tiga tahun lalu, saya dan sejumlah kawan sempat menyinggahi makam yang terletak di kawah Gunung Sumbing, ketika dalam perjalanan ke Puncak Rajawali (3.371 mdpl). Saat itu kami mendaki lewat jalur Banaran, Kecamatan Tembarak, Temanggung. Atas kesadaran dan penghormatan terhadap tradisi lokal, saya pun turut berdoa di dekat pusaranya.
Namun, kali ini kami mungkin tidak akan sampai sejauh itu mendaki ke puncak. Kami ingin lebih menikmati perjalanan, menghirup udara segar khas pegunungan, dan mengagumi tutupan hutan yang masih cukup rapat di lereng gunung ini.
Saya juga mengapresiasi keberadaan patok hektometer (HM) yang terpasang setiap jarak 100 meter. Patok bercat putih-merah ini menopang plang segi enam berwarna kombinasi merah-kuning. Di atasnya memuat informasi yang cukup lengkap, mulai dari ketinggian (altitude), total panjang jalur dan jarak yang dipijak saat ini, zonasi kawasan hutan, dan kode nama setiap pos. Patok HM ini sangat membantu pendaki untuk mengatur strategi perjalanan hari itu, termasuk memberikan posisi lebih presisi yang memudahkan saat evakuasi atau penanganan kondisi darurat pada pendaki.


Tantangan pendakian di jalur Dukuh Seman
Kami tiba di Pos 2 (1.897 mdpl) setelah berjalan sekitar 1 jam 15 menit dari Pos 1. Tempat ini ditandai dengan shelter sederhana dari kayu beratap seng, tetapi kurang ideal untuk istirahat lebih lama karena terlalu sempit.
Di pertengahan jalur antarpos, terdapat titik peristirahatan yang dinamakan Rest Area Sicindai (1.774 mdpl). Tidak ada informasi yang jelas alasan pemberian nama itu. Menurut Yoyok, nama-nama unik yang melekat ke suatu pos atau tempat—seperti Sicindai atau bahkan nama “Seman”—sebenarnya merupakan istilah lokal yang disepakati bersama. Katanya, ini mengacu pada sebuah area atau petak tanah tertentu yang dulu pernah dimiliki perorangan.
“Nama dusun kami sebenarnya hanya disebut ‘Dukuh’ saja, kata ‘Seman’ ditambahkan supaya mudah diingat pendaki,” jelas Yoyok. Namun, ia pun mengakui tidak tahu persis asal-usul sahih dari istilah-istilah lokal di jalur ini.
Di Pos 2, kami istirahat cukup lama, sekitar setengah jam. Di sini kami juga bertemu dan bercengkerama dengan puluhan anggota rombongan pendaki senior dari Tulungagung, Jawa Timur, yang didampingi cukup banyak pemandu merangkap porter. Kami mengisi ulang energi dengan buah anggur hijau hingga camilan ringan seperti kurma, kismis, dan cokelat kerikil khas Arab. Sebab, kata Yoyok saat briefing di base camp, jarak dari Pos 2 ke Pos 3 sangat jauh, paling memeras keringat, serta menguji ketahanan pundak dan lutut untuk menuju Camp Anggrek.


Dari Pos 2, mulanya kami berjalan menurun melewati aliran sungai berbatu yang kering saat kemarau. Jalur kemudian kembali menanjak zig-zag—sesekali melandai—dengan tingkat kemiringan yang masih relatif bersahabat. Pola jalur bekas lintasan motor trail inilah yang jadi ciri khas Dukuh Seman, yang meski lebih jauh, dianggap pendaki lebih “manusiawi” ketimbang jalur Garung atau Banaran yang didominasi tanjakan terjal konstan dan nyaris tanpa bonus.
Dalam perjalanan ke Pos 3, terdapat dua titik penting yang dilewati: Simpang Curug (ketinggian 1.938 mdpl, sekitar 20 menit dari Pos 2) dan Pos Air (ketinggian 2.039 mdpl, sekitar 25 menit dari Simpang Curug). Jika ada waktu dan fisik lebih, bisa mengunjungi air terjun kecil yang tidak terlalu jauh dari percabangan jalur. Saat debit air melimpah di musim hujan, bisa digunakan sebagai bekal air tambahan.
Kemudian yang paling krusial adalah Pos Air. Yoyok dan tim BC Bimawari memasang empat keran air yang bisa digunakan pendaki. Pihaknya juga menyediakan selter sederhana untuk sekadar berteduh atau melepas lelah. Kami menyempatkan makan siang bekal nasi bungkus dari warung BC dan rehat lebih lama di sini.




Pos air Banyu Panguripan di antara Simpang Curug menuju Pos 3. Terdapat selter untuk tempat istirahat pendaki/Rifqy Faiza Rahman
“Di pos ini satu-satunya sumber air yang stabil sepanjang tahun, karena air di Camp Anggrek sifatnya musiman dan hanya tersedia saat musim hujan,” kata Yoyok. Kalaupun ada, biasanya hanya genangan kecil dan keruh. Oleh karena itu, ia menyarankan pendaki membawa air sebanyak-banyaknya dari pos ini untuk stok air selama pendakian.
Selain beban air, tantangan jalur Dukuh Seman tentu saja perjalanan yang melelahkan dari Pos 2 ke Pos 3. Panjangnya mencapai 1,5 kilometer. Jika melihat peta, konturnya cukup rapat sehingga akan menemui banyak tanjakan meski sesekali melintasi jalur zig-zag seperti sebelumnya.
Kami tiba di Pos 3 (2.303 mdpl) setelah berjalan dua jam dari Pos 2 (di luar waktu istirahat). Pos ini hanya ditandai gubuk kecil yang perlu pembenahan serius, termasuk sampah-sampah anorganik yang berserakan. Tempatnya juga sempit di tepi tanjakan, yang meskipun cukup teduh karena vegetasi masih rapat, kurang begitu ideal untuk istirahat.


Sebelum hari terlalu sore, kami melanjutkan pendakian menuju Camp Anggrek. Dari Zona Hutan Campuran, kami melewati area pepohonan mlandingan gunung (sejenis lamtoro) dengan sarang-sarang semut melekat di ranting-ranting kecilnya. Semak-semak dan perdu liar juga menghiasi tepian jalur. Jalur tidak seberat seperti Pos 2–Pos 3, tetapi cukup panjang, hampir satu kilometer.
Tepat pukul 16.30, setelah berjalan sekitar satu jam, kami tiba di Camp Anggrek (2.546 mdpl). Area camp cukup ramai karena masih banyak kelompok pendaki yang baru akan bersiap turun. Kami mendirikan dua tenda—masing-masing berkapasitas dua dan tiga orang—di sisi timur camp, dekat jalan setapak menuju puncak.
Kabut dan mendung yang hampir menyelimuti seluruh perjalanan hari itu pun tersingkap. Tebing dan sabana Sumbing ke arah puncak perlahan terlihat. Samar-samar Gunung Sindoro menampakkan diri dalam balutan kelabu. Suhu petang mulai menusuk kulit, membuat kami bergegas masuk tenda, berganti pakaian kering, menyiapkan makan malam, dan menyeduh minuman hangat.
Sepertinya, setelah hari yang cukup panjang, tidur nyenyak malam itu lebih masuk akal daripada memaksakan diri pergi ke puncak esok pagi.


Mencukupkan diri di Camp Anggrek
Tidak ada yang bangun pagi buta keesokan harinya. Tidak seperti kelompok pendaki dari tenda-tenda tetangga di area berkemah, yang kaki-kakinya melangkah mantap menyisir jalan setapak di atas tenda kami. Saya dengar sayup-sayup suara derap dari balik kehangatan sleeping bag. Saya sempat berusaha memicingkan mata, mengecek jam di layar ponsel: pukul 03.30.
Saya hanya terbangun sejenak sekitar pukul lima pagi untuk salat Subuh. Hamzah ikut terbangun, menyusul ibadah dua rakaat pengawal hari.
Usai salat, saya sempatkan memanggil tenda sebelah, menyapa nama penghuninya satu per satu. “Emmy? Mbak Evelyne? Maia?”
Saya ulang dua kali. Tidak ada jawaban. Pasti masih tidur, tampaknya kelelahan setelah perjalanan panjang menuju Camp Anggrek.




Tenda-tenda pendaki di Camp Anggrek dengan latar sabana dan tebing berbatu di area puncak Sumbing (kiri) serta pemandangan Gunung Sindoro terlihat jelas dari tenda kami/Rifqy Faiza Rahman
Sesuai diskusi semalam, tidak akan ada agenda ke puncak pagi itu. Kami bersepakat Camp Anggrek akan jadi pemberhentian terakhir, batas pendakian terjauh yang bisa kami tempuh saat ini. Seperti kata kebanyakan pendaki, puncak tidak akan ke mana. Segoro Wedi itu akan tetap di sana, di tempatnya, menjadi titik temu jalur Dukuh Seman dan Cepit di bawahnya.
Langit biru, pemandangan Gunung Sindoro di barat laut, dan menu sarapan yang masih berlimpah merupakan kenikmatan yang harus disyukuri. Tak ada yang lebih nikmat dan melegakan dibanding melihat kenyataan, bahwa setiap personel tim masih dalam keadaan sehat dan cukup kuat untuk turun gunung sebelum cuaca berubah pikiran. Itu melebihi segalanya.
Kami hanya ingin tiba di base camp ketika hari masih terang. Kami mau melihat pemandangan sore dari aula Dukuh Seman. Panorama yang mungkin dahulu juga—bahkan lebih syahdu—dinikmati Ki Ageng Makukuhan saat menyebarkan agama Islam di Bhumi Phala.
Foto sampul: Perjalanan menuju Camp Anggrek melewati kawasan vegetasi mlandingan gunung dan semak-semak. Tampak di kejauhan tebing cadas di sisi utara dinding kaldera Gunung Sumbing (Rifqy Faiza Rahman)
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Seorang penulis perjalanan, pemerhati ekowisata, dan Content Strategist di TelusuRI. Penikmat kopi. Gemar mendaki gunung demi gemintang, matahari terbit dan tenggelam.


