Travelog

Mencari Sejarah yang Terkubur di Kuburan Londo, Sukun

Meskipun terkesan menyeramkan, rupanya bukan keputusan yang salah ketika saya memutuskan untuk berjalan-jalan di kawasan TPU Nasrani Sukun di Kota Malang. TPU yang juga dikenal sebagai Kuburan Londo tersebut rupanya terkubur beberapa sejarah dan juga menyingkap bukti sejarah di Kota Malang. 

Ketika saya pertama kali berkunjung ke sana dan bertemu dengan salah satu pengurus kuburan, yakni Pak Andri, saya dibuat terkejut ternyata banyak sekali tokoh-tokoh penting baik di Kota Malang maupun di kota-kota lainnya yang dimakamkan di sini. Pemakaman yang dulunya dikhususkan sebagai pemakaman orang-orang Belanda maupun keturunan Belanda, kini telah beralih menjadi makam bagi umat Nasrani.

Area pemakaman/Lutfia Indah Mardhiyatin

Pak Andri menceritakan dan menunjukkan beberapa makam tokoh-tokoh penting kepada saya dengan mengendarai sepeda motor. Pak Andri sempat menolak ketika saya memintanya untuk berjalan kaki saja, rupanya di luar bayangan, makam di area tersebut sangatlah luas. 

Mulai dari tokoh pendiri salah satu rumah sakit tua di Kota Malang yaitu RS Lavalette, pendiri Sekolah Pendeta Balewiyata, hingga makam Mami Dolly yang merupakan tokoh penting dari pendirian lokalisasi di Kota Surabaya pun disemayamkan di pekuburan ini. 

Makam dari tokoh pendiri Sekolah Pendeta Balewiyata Dr. B. M. Schuurman/Lutfia Indah Mardhiyatin

Pak Andri pun tak lupa untuk menceritakan salah satu kisah dari tokoh pendiri Sekolah Pendeta Balewiyata yang bernama Dr. B. M. Schuurman. Sekilas yang saya ingat, beliau adalah seorang Belanda yang sangat mencintai tradisi maupun kebudayaan Jawa. Kecintaannya tersebut dituangkan dengan membuat buku yang berjudul Pambiyaking Kekeraning Ngaurip. Berkat buku tersebut, ia harus menanggung risiko dijadikan oleh Bangsa Jepang sebagai kambing hitam dan dianggap telah melakukan provokasi kepada pribumi untuk melakukan perlawanan kepada Jepang.

Ternyata bukan hanya menyimpan bukti kehadiran Belanda di Kota Malang, Kuburan Londo juga menyimpan kenangan penduduk maupun tentara Jepang yang gugur dalam Perang Dunia II. Menurut cerita dari Pak Andri, para ksatria Jepang yang gugur tersebut terkubur di bawah sebuah monumen yang akrab dengan sebutan Tugu Jepang. 

Setiap Bulan September, khususnya sebelum pandemi, rombongan dari Konsulat Jenderal Jepang dari Surabaya dan berbagai pengusaha Jepang yang tinggal di Indonesia datang ke Tugu Jepang untuk melakukan penghormatan kepada leluhur mereka yang terkubur di Tugu Jepang. Kebetulan Pak Andri juga merupakan pengurus Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kuburan Londo dan pernah mengikuti kegiatan tersebut. Pak Andri bercerita bahwa rombongan akan berkumpul di tenda yang didirikan di depan tugu. Pimpinan Konsulat Jenderal Jepang akan menyampaikan pidato sekaligus bertujuan untuk mendoakan para leluhur. Barulah setelah itu rombongan secara bergantian melakukan penghormatan kepada peziarah lain yang datang dan kepada leluhur atau disebut ojigi.’

Selain Tugu Jepang, Kuburan Londo juga memiliki kompleks kepastoran yang merupakan area pemakaman untuk pemuka agama Katolik. Di area tersebut bersemayam tiga pemuka agama Katolik yang merupakan orang Eropa. Kemudian pada sekitar tahun 2020 lalu uskup pertama di Kota Malang yang merupakan orang Indonesia yakni Mgr. Fransiscus Xaverius Sudartanta Hadisumarta disemayamkan di samping tiga makam utama. Setiap bulan November aka nada prosesi misa arwah untuk mendoakan biarawati maupun pastor yang dimakamkan di sana.

Beberapa makam milik orang Belanda, salah satu ciri khasnya terdapat penutup di atasnya/Lutfia Indah Mardhiyatin

Yang lebih membuat saya tercengang dan kaget adalah, ternyata Kuburan Londo juga menjadi bukti hadirnya kelompok Freemason di Kota Malang. Fakta tersebut dibuktikan dengan adanya lambang khas Freemason yang ditemukan di tiga makam orang Belanda di Kuburan Londo.

Kelompok Freemason identik dengan lambang atau simbol jangka dan penggaris siku, dan lambang tersebut ditemukan di dua pusara di Kuburan Londo, sedangkan bukti lainnya adalah lambang daun akasia yang juga diduga sebagai ciri khas dari kelompok Freemason ditemukan di salah satu makam tak bernama. Lambang tersebut ditemukan di pusara milik Pieter Allaries, dan Dr. Eyken bersama sang istri yang tak diketahui namanya.

Saat saya bertanya kepada Pak Andri perihal mengapa tidak tertulis nama di makam istri Dr. Eyken, Pak Andri menjawab bahwa Kelompok Freemason meskipun berpikiran bebas dan terbuka, namun mereka merupakan organisasi yang tertutup dan eksklusif. Karena itulah terkadang orang awam menganggap bahwa organisasi tersebut merupakan organisasi sesat.

Makam salah satu tokoh freemason, Dr. Eyken yang ditandai dengan simbol jangka dan penggaris siku/Lutfia Indah Mardhiyatin

Rupanya, Dr. Eyken dulunya adalah seorang dokter yang bekerja di dalam bidang apoteker, dahulu ia sempat menjalankan tugas sebagai apoteker di Rumah Sakit Militer yang berada di Malang.

Sebenarnya masih banyak sekali tokoh-tokoh penting yang raganya terkubur di Kuburan Londo dan beberapa sumbangsihnya masih terasa hingga saat ini. Menurut Pak Andri, dahulu masih banyak ditemukan pernak-pernik seperti patung malaikat, marmer di setiap dinding pemakaman Orang Belanda di sini, namun telah hilang karena adanya penjarahan yang dilakukan oleh warga lokal. 

Pak Andri juga menjelaskan bahwa biasanya jasad-jasad masyarakat Belanda akan dikubur bersama harta benda yang mereka miliki. Hal inilah yang pada jaman dahulu sekitar tahun 1980-an banyak makam yang dirusak, dibongkar untuk diambil barang berharganya. 

Meskipun demikian, alih-alih mendapatkan kesan yang menyeramkan, nyatanya berjalan-jalan di Kuburan Londo membuat saya mendapatkan pengalaman yang tak akan terlupakan. Banyak pengetahuan yang saya dapatkan ketika mengunjungi pemakaman tersebut, bahkan hadirnya Kuburan Londo dapat mengungkap fakta sejarah yang terkubur di Kota Malang.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Lutfia Indah, perempuan yang sedang senang.

Lutfia Indah, perempuan yang sedang senang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Batu Runcing: Jejak Purba, Budaya yang Terlupa