Interval

Memberantas Disinformasi Sejarah Melalui Media Sosial

Sejarah memang seringkali menarik untuk disimak. Melihat bagaimana perjalanan manusia dalam lintas masa, budaya, hingga teknologi dengan pelbagai peristiwa yang terjadi. Sejarah kemudian tidak hanya menjadi kenangan masa lalu, tetapi akhirnya menjadi disiplin ilmu pengetahuan untuk melihat peristiwa yang telah lalu sebagai pembelajaran berharga untuk masa depan.

Suatu ketika saat berselancar di jagat Twitter, saya menemukan sebuah akun yang membahas sejarah dengan bahasan yang ringan, diselingi beberapa pendapat dari sejarawan, serta referensi buku-buku sejarah. Berulang kali, akun tersebut mengupas sejarah dari sudut pandang ilmu sejarah yang sarat dengan banyak sisi. Akhirnya, saya memutuskan untuk mengikuti akun tersebut, bermedia sosial sekaligus belajar. 

Kumpulan thread dari @mazzini_gsp

Akun tersebut bernama @mazzini_gsp. Sembari mengikuti berbagai twitnya seputar sejarah, saya jadi penasaran, siapakah orang yang berada di balik akun ini? Mengikuti rasa penasaran ini, akhirnya saya memberanikan diri untuk berkenalan secara pribadi melalui pesan langsung. 

Namanya Muhammad Saddam. Ia seorang pegiat sejarah dan jurnalis yang bekerja di salah satu media online. Baginya, topik sejarah sudah menjadi kecintaannya semenjak dahulu. Rasa penasaran akan kejadian masa silam, membuatnya berkelana dari satu bacaan ke bacaan lainnya. Dia kemudian mencoba untuk menuliskan pengetahuan sejarah yang ia pelajari secara singkat melalui media Twitter pada 2019.

“Waktu itu kalau nggak salah, saya nge-twit tentang sejarah VOC sama lengsernya Gus Dur pada 2019. Ternyata tanggapannya lumayan banyak nih, dan orang-orang juga tidak terlalu konsen dengan itu, jadinya banyak pertanyaan-pertanyaan menarik (dari netizen),” terang Saddam. Antusias ini akhirnya menumbuhkan semangat Saddam untuk menekuni penulisan twit sejarah di Twitter.

Kesukaannya pada sejarah membawanya bertemu dengan komunitas-komunitas sejarah. Meskipun pembelajaran sejarah yang ia dapat dari komunitas yang berbagai macam, ada satu hal yang menurut Saddam masih kurang. Pengetahuan sejarah yang dia dapatkan terasa hanya dari klaim sepihak seperti klaim Borobudur adalah peninggalan Nabi Sulaiman, harta karun Bung Karno, dan sebagainya. Namun, semakin dia masuk lebih dalam, semakin merasa adanya penyimpangan yang terjadi.

“Akhirnya saya keluar, dan lebih menggali lagi sejarah yang benernya,” terang Saddam. Sejarah memang seringkali menjadi ladang hoaks yang paling subur, karena narasi-narasi yang dituturkan lebih bergelora dibandingkan dengan kejadian aktual. Saddam memfokuskan diri untuk belajar dan membaca literasi sejarah dari sumber-sumber yang lebih kredibel. 

Sebagai seorang influencer bidang sejarah, Saddam merasa ada tanggung jawab untuk mengentaskan narasi-narasi sejarah hoaks yang ada di media sosial. Barang kali, kita semua sering menemukan narasi sejarah yang hanya mengandalkan cocoklogi, pun di media sosial, narasi tersebut seringkali memantik percakapan yang ramai hingga dipercayai sebagai sebuah fakta.

Muhammad Saddam/@mazzini_gsp

Saddam, dalam pembuatan sebuah utas bacaan di Twitter, melakukan riset-riset yang cukup banyak terkait sebuah topik yang akan dibawakannya. Beberapa kali dia juga mencantumkan twit lain untuk mendukung topik yang ia bahas, banyak di antaranya adalah twit dari sejarawan. Saddam leluasa untuk menentukan topik apa yang ingin dibahas, bisa mengikuti keadaan yang viral (riding the wave) atau mengambil momentum tertentu (hari besar, kejadian besar, atau tragedi).

“Jadi dari part-part yang lagi saya baca,intisari hari itu dari buku yang saya baca. Akhirnya saya tentukan sendiri dan kemudian saya tuangkan dalam tulisan di thread (utas).”

“Tapi kalau sekarang kebanyakan melihat obrolan di beranda, di media sosial. Pembahasan sejarah apa sih yang lagi rame, yang lagi diomongin orang,” tambahnya.

Ide lainnya kadang didapatkan dari beberapa orang yang mengirim pesan langsung ke Saddam, mereka meminta penjelasan Saddam apakah cerita sejarah yang mereka dapatkan itu benar. Saddam mengedepankan sikap berhati-hati dalam menjawab pertanyaan tersebut.

“Kalau saya memang ada bukunya, atau saya pernah baca arsipnya, atau saya tahu cara akses arsipnya di konteks peristiwa itu ya akan saya jawab. Tapi kalau nggak biasanya saya kasih ke teman-teman pegiat sejarah atau sejarawan yang lain.”

Salah satu twit Saddam yang membahas sejarah Talangsari
Salah satu twit Saddam yang membahas sejarah Talangsari/@mazzini_gsp

Ada keresahan dalam diri Saddam ketika melihat suatu sejarah yang dipelintir atau dikaitkan dengan sesuatu yang tidak ada hubungannya. Hal tersebut juga menjadi perhatian kolega-kolega Saddam lain. Hal-hal mistis dan supranatural memang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan kita berbangsa dan bertanah air, ada banyak hal di luar nalar yang terjadi di sekeliling kita yang sering kali tidak dapat dijelaskan secara ilmiah. Saddam dan kawan-kawan lainnya ingin bahwa informasi tersebut boleh asal jadi informasi tambahan atau selintas saja. Jangan dicampur seolah olah informasi tersebut adalah peristiwa sejarah yang patut diketahui.

“Ini yang kadang-kadang nggak kita biasakan. Harusnya lu bahas mistisnya ya bahas aja tapi lu bahas juga konteks sejarahnya dengan data yang ada,” ucapnya.

Saya kemudian bertanya, apakah dengan penyajian konten cerita seperti itu bisa—atau setidaknya sedikit— meningkatkan antusiasme publik pada sejarah. Saddam menjawab dengan gamblang, tidak.

“Sudah banyak konten seperti ini, bahkan sebelum ada kita-kita lah, di TV itu kan berseliweran, sekarang pindah platform aja kan. Sudah dari dulu tayangan TV swasta melakukan itu tapi minat sejarah juga nggak terbangun, malah justru konteks sejarah yang ada di pembahasan itu jadi tertutup.”

Dari pemaparan Saddam, saya jadi mengetahui kenapa kita lebih mengetahui Candi Prambanan dibuat oleh Bandung Bondowoso dalam waktu semalam atau patung Malin Kundang yang ada di Pantai Air Manis, Padang adalah asli. Sedari kecil kita banyak dijejali dongeng-dongeng tanpa diimbangi dengan penjelasan aktual mengenai kejadian sebenarnya. Tentunya hal ini mempengaruhi cara pandang dan pola pikir kita ketika dewasa. Keseimbangan informasi itu perlu.

Beberapa kali Saddam berjibaku untuk perang argumen dengan twit viral terkait salah satu bangunan cagar budaya yang dipercayai “berhantu”. Padahal, ada hal yang lebih urgensi yang perlu diketahui oleh semua orang, bahwa kepengurusan bangunan cagar budaya tersebut carut marut dan tidak terurus dengan baik. Dengan konten yang lebih mengedepankan mistis, tentunya orang-orang semakin tidak peduli akan bangunan cagar budaya.

“Orang taunya itu tempat setan, orang nggak paham kalau itu tuh cagar budaya yang kepengurusannya tidak jelas diurus oleh siapa.”

Contoh konkrit lainnya yang disebutkan Saddam adalah Gudang Timur Batavia. Total ada empat gudang. Dua gudang dibongkar untuk diubah menjadi jalan tol oleh pemerintah orde baru. Dua gudang lainnya, salah satunya mengalami kerusakan yang fatal pada 2005 karena ketidaktahuan masyarakat dan keacuhan pemerintah. Tersisa satu gudang yang bernama Graanpakhuizen, itu pun dengan kondisi yang serba jomplang dan memprihatinkan.

“Masyarakat taunya itu tempat setan.Boro- boro nih mau ngeliat tempat itu, atau peduli dengan tempat itu, liat aja mereka takut. Karena narasi-narasi yang tercipta dari konten-konten yang di TV,” papar Saddam.

Berdasarkan tulisan yang dimuat di Historia.id, yang membahas nasib kawasan Batavia yang tergerus zaman, wawancara yang dilakukan dengan penduduk sekitar mengamini bahwa gudang itu memang berhantu dan seringkali dibuat tempat syuting untuk beberapa program misteri.

Hal ini menjadi perhatian tersendiri bagi para sejarawan atau pegiat-pegiat sejarah. Alangkah mengerikan jika pemahaman ilmiah tidak dipopulerkan, bisa-bisa gedung-gedung bersejarah akan diruntuhkan karena dianggap berhantu. Saddam berharap para pembuat konten kedepannya akan lebih bijak dalam pembuatan konten, khususnya konten yang menyangkut sejarah. Jangan sampai konten yang sudah diolah, justru tidak memberi banyak manfaat dalam menambah pengetahuan.

Sejarah memang sudah menjadi disiplin ilmu yang mempunyai metodologi-metodologi tertentu untuk menentukan keakuratan suatu pendapat tentang peristiwa sejarah. Ilmu pengetahuan bergerak dinamis, sewaktu-waktu ia bisa berubah dengan adanya bukti-bukti baru yang sudah diteliti. Intinya, kita harus mampu menyaring informasi yang masuk dan mencari padanan informasi yang serupa dengan sumber-sumber lain.
Tapi barangkali sejarah memang terdiri dari penemuan-penemuan separuh benar, atau separuh salah, hingga kemajuan terjadi.” — Goenawan Mohamad.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.
Artikel Terkait
Interval

Dukuh Atas dan Citayam Fashion Week

IntervalPilihan Editor

Wisata Kumuh untuk Mengekspos Kemanusiaan

IntervalPilihan Editor

Merajut Serpihan Sejarah Kalimantan Selatan yang Tercecer

IntervalPilihan Editor

Tani Jiwo: dari Hostel ke Pemberdayaan Literasi Dieng

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Worth reading...
KRMT. L. Nuky Mahendranata Nagoro: Geliat Sejarah dalam Literasi Media Sosial