Pilihan EditorTravelog

Memacu Adrenalin ke Pantai Banyu Anjlok

Menjadi mahasiswa merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan tersendiri. Berbagai aktivitas ditawarkan mulai dari berbau akademik hingga non akademik. Termasuk bergabung ke dalam sebuah UKM (Unit Kreativitas Mahasiswa) yang biasa disebut sebagai organisasi. Perasaan lelah akan rutinitas begitu saya dan rekan seorganisasi pernah rasakan. Sehingga kami memutuskan untuk sejenak menyegarkan pikiran yang mutlak diperlukan. Alhasil berbagai rekomendasi tempat wisata di Malang kami ajukan. 

“Gimana kalau ke Bromo?” Ucap seorang pria bertubuh jangkung menghentikan pergulatan sengit adu pendapat. “Aduh, jangan, terlalu mainstream, emang motor kalian kuat buat nanjak?” Tanya saya membuat kebingungan melanda.

“Bagaimana kalau ke pantai? Tapi ke pantai mana?” Sahut seorang pria berkemeja batik coklat. “Bagaimana kalau ke Pantai Banyu Anjlok? Katanya ada air terjunnya. Tapi aku belum pernah kesana sih, itung-itung petualangan ke tempat baru,” ujar saya memberikan pilihan. “Wah, boleh boleh,” sorak semua orang menandakan keputusan sudah bulat.

Perjalanan dimulai saat matahari belum meninggi, lebih tepatnya pada pukul 08.00 WIB. Dengan mengendarai lima sepeda motor, kami membawa diri hanya dengan bermodalkan keberanian dan petunjuk dari Google Maps. Kami melewati hutan lindung yang terletak di kawasan Malang Selatan. Sajian tebing batu kapur, persawahan, dan perkebunan juga memanjakan mata. Kami sempat tersesat dan berusaha bertanya kepada warga sekitar.

Rute Perjalanan ke Pantai Banyu Anjlok Menantang

Pantai Banyu Anjlok
Pantai Banyu Anjlok/Melynda Dwi

Pantai Banyu Anjlok terletak di Dusun Lenggoksono, Desa Purwodadi, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang. Ternyata pantai ini terletak di antara Pantai Lenggoksono dan Pantai Bolu Bolu yang menjadi lokasi spot snorkeling. Kami menghentikan kendaraan di Pantai Lenggoksono untuk memperoleh informasi perihal arah jalan ke Pantai Banyu Anjlok.

Ada dua opsi rute perjalanan untuk menuju Pantai Banyu Anjlok, yaitu melalui jalur laut, menyewa perahu nelayan dari Pantai Lenggoksono dengan biaya sekitar lima puluh ribu rupiah per orang. Serta melalui jalur darat dengan menggunakan motor pribadi atau menggunakan jasa ojek.

Tanpa pikir panjang, kami memacu kendaraan untuk segera meluncur ke Pantai Banyu Anjlok. Pada awalnya perjalanan tampak biasa saja, tidak ada yang istimewa. Karena mayoritas dari kami sudah pernah ke pantai di daerah Malang Selatan. Sehingga jalan berbatu dan berlumpur bukanlah hambatan.

Namun jantung kami serasa dipompa lebih cepat ketika melewati jalanan setapak licin berlumpur yang di salah satu sisinya terdapat jurang. Selain itu, kami harus melalui dua kali kecil tanpa jembatan yang tentunya dipenuhi dengan lumut. Sehingga menambah peluang untuk mencelakakan diri.

Benar saja, salah satu teman saya harus terjatuh saat melewati jalan berlumpur. Hingga kakinya harus menopang beban berat motor dan membiru. Sungguh perjalanan diluar dugaan, harus dipastikan bahwa pengendara motor sudah sangat pro.

Durasi perjalanan dari Pantai Lenggoksono menuju Pantai Banyu Anjlok, terhitung kurang lebih selama 30 menit. Kami begitu kelelahan di tengah perjalanan yang sangat panjang. Baru kali ini rasanya saya ke salah satu pantai di Kabupaten Malang dari Kota Malang dengan total waktu perjalanan selama empat jam lamanya.

Kami tiba ketika adzan dari salah satu smartphone teman saya telah berkumandang. Ya, tidak ada rumah yang terlihat apalagi mushola. Yang ada hanyalah perbukitan dan rimbun pepohonan yang mengelilinginya. Mulai dari tanaman cengkeh, kopi, dan pisang. Saya tengok arah jarum jam telah menunjukkan pukul 12.00 WIB. Belum lagi ketika menuju Pantai Banyu Anjlok, kami masih harus berjalan kembali menuruni bukit.

Memiliki Keunikan Tersendiri

Pantai Banyu Anjlok
Aliran air terjun Pantai Banyu Anjlok/Melynda Dwi

Di Malang sendiri hanya ada satu pantai yang mempunyai air terjun menghadap ke laut. Yaitu Pantai Banyu Anjlok ini, sedangkan di Pacitan ada Pantai Banyu Tibo. Apabila sudah biasa dengan pemandangan pantai di Malang Selatan yang mayoritas hampir sama. Di Pantai Banyu Anjlok, akan ada perbedaan yang membuat diri tidak ingin meninggalkannya.

Kami disambut sebuah gugusan tebing tidak terlalu tinggi yang mengalirkan air dengan sangat deras. Terdapat pula papan bertuliskan ‘Yo Iki Pantai Banyu Anjlok’ yang artinya ialah ‘Ya, Ini Pantai Banyu Anjlok’.

Banyu anjlok yang berarti air yang jatuh menandakan pemaknaan dari air terjun. Ingin rasanya segera membebaskan air untuk mengalir menerjang badan kami. Namun sayang, kami tidak membawa persiapan baju ganti. Aliran air yang begitu deras membentuk jalur di atas pasir putih seperti sebuah sungai.

Di bagian atas tebing terdapat kumpulan air tawar yang membentuk cekungan seperti sebuah kolam. Rasanya seperti memiliki kolam pribadi yang ada di alam. Selain itu, apabila curah air tidak terlalu deras, akan terlihat sebuah goa di balik air terjun. Pesona pantainya jangan pernah dilupakan. Pantai Banyu Anjlok tidak memiliki karakteristik seperti pada umumnya pantai yang menghadap langsung ke Samudera Hindia. Pantai Banyu Anjlok memiliki ombak yang terlihat tenang. Sehingga, jika ingin berenang masih diperbolehkan asal tetap selalu waspada.

Suhu udara telah memanas, menandakan matahari semakin terik. Kami meninggalkan Pantai Banyu Anjlok dengan perasaan tidak rela tepat pada pukul 14.00 WIB. Ya, kami hanya beristirahat selama dua jam sebelum pada akhirnya harus kembali pulang.

“Aduh, harus lewat jalan yang tadi,” keluh seorang teman. Ternyata hanya kami satu-satunya yang melalui jalur darat. Semua pengunjung lebih memilih menggunakan perahu. “Wah, kita petualang sejati dong,” seru saya agar membakar semangat. “Kapok, gak mau lagi deh, lewat jalan ini,” ujar seorang teman yang jatuh di perjalanan. Sontak saja kami bersama-sama menertawakan kemalangannya.

Melynda Dwi Puspita adalah sebutir pasir pantai asal Probolinggo, Jawa Timur.

Melynda Dwi Puspita adalah sebutir pasir pantai asal Probolinggo, Jawa Timur.
Artikel Terkait
Travelog

Menyusuri Titik Nol Kota Banjarmasin

Travelog

Pantai Pulodoro, Sebuah Kesunyian

Travelog

Mencoba Berjalan di Jembatan Gantung Terpanjang se-Asia Tenggara

Travelog

Perjalanan Menyusuri Pulau Rote

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *