Travelog

Melepas Penantian di Pantai Sulamanda

Setiap pertemuan akan ada perpisahan. Begitu pula yang saya rasakan sekitar 2 tahun silam. Setelah lulus Sekolah Menengah Atas (SMA), saya tak lagi bertemu dengan seorang teman karib karena ia merantau ke Jakarta demi melanjutkan pendidikan sekolah kedinasannya. Kami hanya berkirim kabar melalui telepon seluler. 

2 tahun berlalu tanpa tatap muka langsung dengan dirinya. Hingga tepat, 22 Mei 2021 lalu. Dia pulang kembali ke Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dia mengajak saya untuk bertemu di Pantai Sulamanda, Jalan Parawisata, Desa Mata Air, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Jarak dari Kota Kupang menuju Pantai Sulamanda kurang lebih sekitar 11 km dengan memakan waktu sekitar 30 menit. Cukup jauh memang, namun tak saya hiraukan karena rindu yang begitu menggebu-gebu untuk bertemu dia. Dengan berpatokan pada Google Maps, saya melewati beberapa tempat yaitu Matani, Bimoku, dan Tarus. 

Setelah itu, tibalah saya di Desa Mata Air. Jalan masuk menuju Pantai Sulamanda tidak terlalu jauh, namun karena jalan yang sempit dan berbatu membuat saya melajukan motor dengan pelan dan hati-hati. Karena kondisi jalan cukup sempit, agak sulit rasanya jika masuk menggunakan mobil, apalagi ada dua mobil yang saling bertemu. Percayalah, sulit sekali. 

Sepanjang jalan masuk, persawahan yang luas terbentang menyambut saya, seakan-akan sawah itu mengiringi langkah saya menuju pantai. Sepanjang jalan, langit tampak cerah, burung-burung sawah, padi, pohon kelapa dan berbagai jenis sayuran yang ada di sawah ini. Seakan-akan, sebelum menikmati keindahan Pantai Sulamanda, Desa Mata Air menyajikan persawahan indah sebagai hidangan pembukanya. 

Setibanya di Pantai Sulamanda, tulisan SULAMANDA dan Bumdes INA HUK menyambut. Kata orang-orang di sana, SULAMANDA memiliki kepanjangan “Sudah Lama Menanti Anda.” Berdasarkan penafsiran saya, makna dibalik itu adalah seolah-olah pantai tersebut telah menanti kedatangan saya dan secara tak langsung, saya mengetahui alasan mengapa teman saya meminta untuk bertemu di pantai ini. Seperti penantian atas dua tahun tidak bertemu.

Lalu, berdasarkan hasil penelusuran saya, BUMDES singkatan dari Badan Usaha Milik Desa dan INA HUK sendiri diambil dari bahasa Timor yang berarti “satu ibu,” diharapkan pantai ini dapat menjadi seorang ibu yang mampu menyusui dan mengayomi seluruh anak-anak Desa Mata Air agar nanti dapat tumbuh menjadi sejahtera. Makna yang dalam.

Bumdes INA HUK di depang gerbang/Resti Seli

Setelah itu, saya langsung mencari teman saya di tempat yang sudah ia beritahu sebelumnya. Mencari-cari tempat tersebut, saya melihat cukup banyak lopo atau gazebo di pantai ini dan ada banyak kios-kios kecil berjejer menjajakan makanan. Mulai dari makanan ringan, kopi hingga susu tersedia di sini. Namanya juga pantai, kurang afdol jika tak ada kelapa. Semua kios di sini menjual air kelapa dan bisa langsung diminum dari buahnya.

Bukan hanya itu, di sini juga disediakan mic lengkap dengan audio. Instrumen lagu apa saja dapat diputar, sisanya siapapun bisa bernyanyi dengan bebas dan volume yang tidak main-main besarnya. Sehingga, jika bertandang ke pantai ini memang akan terkesan ramai dan ribut karena suara karaoke tersebut.

Sama seperti waktu kedatangan saya, seorang pengunjung meminta untuk bernyanyi sebuah lagu “Robeklah dada ini sayang, bila hatimu ragu, lihatlah di dalam batinku, hanya ada satu namamu, ku lukis dengan dengan tinta emas.” Dan pengunjung lainnya pun ikut bernyanyi, seperti lirik dalam lagu tersebut mewakili isi hati mereka.

Lopo Kecil Sulamanda/Resti Seli

Saya juga melihat sebuah tempat dengan bentuk hati di tengahnya, cocok untuk berfoto bersama pasangan, sahabat atau orang terkasih. Di sini juga terdapat dua toilet yang cukup bersih serta beberapa tempat sampah yang terbuat dari drum besar. Secara keseluruhan, pantai ini benar-benar tertata rapi, kebersihannya pun dijaga. Para pedagang juga ramah. Menambah kesan nyaman.

Tak lama kemudian, saya berjumpa dengan teman yang sudah menunggu saya di sebuah lopo. Terpancar senyum hangat dari wajah kami. Saya duduk dan memulai perbincangan seru kami. Kuliah, teman dan lingkungan baru, kesulitan-kesulitan yang dihadapi, dan pelbagai macam cerita lain selayaknya dua sejoli yang sudah lama terpisah. Sembari bercerita, kami memesan air kelapa muda dan menikmati pemandangan pantai yang semakin sore, semakin ramai dengan pengunjung.

Ada yang berenang dan berfoto. Ada juga tim pemain bola yang berlatih di ujung pantai sana.

Senja dan Siluet Orang-Orang/Resti Seli

Senja di pantai ini juga tak kalah indah. Senja dan siluet orang berlalu-lalang di ujung sana, seperti memberi kesan manis yang wajib dipotret.

Kami pun semakin larut dalam perbincangan. Seolah-olah cerita selama 2 tahun belakangan ini, kami simpan dengan rapi untuk diceritakan saat itu. Dan Sulamanda, menjadi tempat yang menanti-nanti kedatangan kami. Jika suatu saat kami berpisah kembali, Sulamanda akan menjadi tempat yang selalu dikenang dan dirindukan, atas penantian, segudang kisah, dan segala macam keindahannya.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Resti Seli adalah seorang perempuan muda yang sedang suka-sukanya menulis, fotografi, olahraga, dan travelling.

Resti Seli adalah seorang perempuan muda yang sedang suka-sukanya menulis, fotografi, olahraga, dan travelling.
    Artikel Terkait
    Pilihan EditorTravelog

    Sepenggal Cerita dari Selatan Pulau Timor—Fatubraun

    Travelog

    Dari Sipon Menuju Dermaga Calingcing

    Travelog

    Sejenak Kembali ke Pangkuan Tanah Asal di Kawasan Toba

    Travelog

    Menyusuri Masa Lampau di Situs Warungboto

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Worth reading...
    Senja dan Harapan Baru Diujung Pantai Nunhila