Setelah mengeksplorasi kantor SJS Pengapon di Kota Semarang, saya dan Albertus Kriswandhono mengeksplorasi beberapa landhuis (rumah kongsi) yang tersisa, yakni rumah kongsi Tan Djing Hien di Kelengan Besar, Tan Ing Tjong di Wot Gandul, dan Goei Ing Hie di Gajahmungkur. Tidak lupa juga kami lakukan pelacakan makam Tionghoa milik keluarga Tan Hing Gie dan Tan Gie Tjiang di Jalan Penjawi, Sidorejo Lor, Salatiga.
Tujuan pertama kami rumah kongsi milik keluarga Tan. Tepatnya di Kampung Kelengan Besar No. 48, Kecamatan Kembangsari.


Kisah Marga Tan dan Goei di Kota Semarang dan Salatiga
Merujuk Liem Thian Joe dalam bukunya Riwayat Semarang, diketahui jika Tan dan Goei merupakan marga cabang atas di Kota Semarang. Tan Tiang Tjhing, putra dari Tan Bing—seorang pengusaha gula— merupakan Eerste Majoor titulaire der chineezen Semarang atau Mayor Tionghoa pertama Kota Semarang.
Meski lahir di Semarang, tetapi ia menghabiskan masa mudanya di Tiongkok. Tan Tiang Tjhing kembali ke kota ini karena diminta sang ayah membantunya mengurus bisnis pacht opium, garam, dan gula keluarga. Sebagai wujud tanggung jawab, ia pun melanjutkan bisnis tersebut setelah sang ayah wafat. Puncaknya tahun 1809, Tan Tjiang Tjhing dipercaya oleh Pemerintah Belanda menjabat sebagai Letnan Tionghoa untuk mengurus masyarakat Tionghoa, menarik pajak, serta penyambung lidah antara masyarakat Tionghoa dan Pemerintah Belanda di Kota Semarang.
Pertengahan tahun 1814, sebagai wujud penghormatan kepada leluhurnya, Tan Goa Kong (jenderal perang kekaisaran Tiongkok) dan wujud syukur atas kesuksesannya, ia berinisiatif mendirikan Kelenteng Tan Seng Ong (kini Hwie Wie Kong) sekaligus sebagai balai leluhur di Jalan Sebandaran No. 1, Kota Semarang.
Tahun 1829, Tan Tjiang Tjhing kembali menerima kenaikan jabatan sebagai Kapitan Tionghoa menggantikan saudaranya, Tan Tiang Khong yang mengundurkan diri akibat usia. Tidak lama kemudian, Tan Tjiang Tjhing kembali mendapat kenaikan jabatan tertinggi sebagai Mayor Tionghoa pertama di Kota Semarang. Ketika Perang Jawa (1825–1830) meletus, ia diketahui berperan cukup vital menjaga keselamatan dan kenyamanan masyarakat Tionghoa di Kota Semarang.
Selain itu, ia dikenal dermawan kepada masyarakat dan tamu kenegaraan sebagai upaya menjaga ikatan kekerabatan. Kediamannya diketahui menempati sebagian gudang gula miliknya, Gedong Gula (kini kampung Sebandaran), di selatan Sungai Semarang. Penamaan wilayah menurut Kris disesuaikan status pekerjaannya sebagai bandar pacht garam, opium, dan gula.
Tak ayal, ia mampu mendirikan kediaman yang luas dan mewah, mendirikan kelenteng, dan balai leluhur. Kini, kediamannya sudah hilang menyisakan Kelenteng Hwie Wie Kong. Marga Tan lain yang cukup berperan di Kota Semarang adalah Tan Ing Tjong di Wot Gandul.


Rumah Kongsi Tan dan Goei yang Tersisa di Kota Semarang
Masyarakat sekitar meyakini rumah kongsi Kelengan Besar No. 48 awalnya merupakan kediaman Tuan Klein, seorang pejabat VOC di Kota Semarang, yang kemudian dibeli oleh landhuurder Kebon Dalem, Kapitan Be Biauw Tjoan. Namun, menurut Kris, faktanya tidak demikian.
Surat kabar Soerabaijasch Handelsblad, Vrijdag 18 Februari 1887 menyebutkan kata “klein” di Kelengan Besar tahun 1887. Namun, klein yang dimaksud artinya kecil, merujuk pada pembongkaran klein huistje atau rumah-rumah kecil untuk dibangun ulang sebagai kediaman prajurit militer Fort Prins van Oranje di Kota Semarang, bukan kediaman keluarga Klein.
Lalu surat kabar De Locomotief, Maandag 14 Augustus 1933 bertajuk “Officieel Orgaan, Voetbalbond voor Semarang en Omstreken” menyatakan, jika rumah kongsi tersebut merupakan kediaman Tan Djing Hien yang notabene Aangesloten vereenigingen Voetbalbond van Semarang & Omstreken Union. Sekretaris Asosiasi Sepak Bola Semarang dan sekitarnya (kini PSIS Semarang). Selain Kelengan Besar No. 48, ia tercatat memiliki rumah kongsi di Kampung Seteran No. 1 dan No. 11A.
Kami menduga, Tan Tiang Tjhing berkerabat dengan Tan Ing Tjong, pemilik rumah kongsi Wotgandul Kota Semarang, serta Tan Hing Gie dan Tan Gie Tjian di Salatiga. Dugaan kami berikutnya, Tan Tiang Tjhing juga berkerabat dengan keluarga Dezentje yang tinggal di Kampung Bulu No. 29, Kota Semarang. Lazim jika keluarga landhuurder saling mengenal untuk bekerja sama dan tidak sedikit dari mereka menjalin hubungan kekeluargaan lewat pernikahan putra-putrinya. Tan Djing Hien merupakan generasi ke-VI dari Tan Tiang Tjhing.
“Saya yakin kediamannya didirikan tahun 1800, bukan sejak zaman VOC karena jauh periodenya. Kelengan Besar adalah kampung milik keluarga Tan Djing Hien, bukan bahasa slang dari Klein menjadi Kelengan,” ungkap Kris.
Satu kisah terungkap ketika Tan Tiang Tjhing menjabat sebagai Kapitan Tionghoa, ia menjalin kekerabatan dengan keluarga Goei. Salah satunya Goei Hing Gie, pemilik rumah kongsi Gajahmungkur. Letaknya di sudut simpang Jalan Slamet dan Jalan Letjen. S. Parman (timur Taman Gajahmungkur), atau selatan Ereveld Candi.


Leluhur Tan dan Goei diketahui menjabat sebagai titulaire bagi masyarakat Tionghoa Kota Semarang. Leluhur tua keluarga Goei merupakan Luitenant der Chineezen Goei Poen Kong. Sayang, tidak banyak catatan tentangnya. Satu yang pasti, rumah kongsi Gajahmungkur dirancang Liem Bwan Tjie, arsitek Tionghoa terkemuka di Hindia Belanda.
Mahakarya lain Liem Bwan Tjie di Gajahmungkur adalah Villa Helly (kini Puri Gede). Keduanya satu kampung, hanya berjarak satu kilometer. Kampung Gajahmungkur, menurut Kris, awalnya adalah Desa Gajahmungkur.
“Pendiri dan inisiatornya Dr. W.T. de Vogel, H.F. Tillema, dan R.M. Soenario. Upacara peresmian dilaksanakan di Alun-alun Tillema atau Taman Gajahmungkur oleh Wali Kota Semarang H.E. Boisseva pada 21 November 1939,” jelas Kris.
Cerita lengkap mengenai Kampung Gajahmungkur tercatat dalam fisik surat kabar de Indische Courant, November 21, 1939 bertajuk “Semarang in Jubileumstemming, de Drie Pionniers van Nieuw-Tjandi gehuldigd. Steneen Bank aan Hen Gewijd”.


Makam Oriental Keluarga Tan di Salatiga
Menurut Kris, Tan Gee Tjiang merupakan pengusaha otomotif dan pemilik pabrik es di Kota Salatiga. Tahun 1896 perusahaan tersebut merugi akibat dua orang karyawan menderita penyakit kelenjar, hingga harus ditutup demi mencegah penularan.
Tan Gee Tjiang kemudian mencoba peruntungan sebagai pemasok es di Salatiga, setelah izin pendirian pabrik dan pemasok es di Kota Semarang ditolak. Pada 19 Juli 1897, ia memenangkan lelang umum yang diselenggarakan Pemerintah Belanda di Salatiga sebagai pemasok air dan es untuk Departemen Militer di Benteng Willem I Ambarawa (Benteng Pendem Ambarawa), untuk periode 1898–1900. Namun, berkat keuletan dan kerja sama dengan G.J. Michael atas persetujuan residen Kota Semarang, Tan Gee Tjiang mendapat hak penuh memasok es untuk Kota Semarang dan Salatiga.
Tahun 1907, Tan Gee Tjiang berhasil mencapai puncak kejayaannya sebagai pemilik persewaan kapal penyeberangan. Ia juga mendirikan toko De Vriendschap di Kampung Kalioso, Salatiga, yang menjual hewan ternak dan alat musik tradisional Jawa (gamelan pelog dan gamelan slendro).
Lantas siapa Tan Hing Gie? Menurut Kris, ia merupakan salah satu putra Tan Gee Tjiang. Sayangnya, tidak banyak catatan masa lalu Tan Hing Gie yang berhasil ditemukan. Makam Tan Gee Tjiang dan Tan Hing Gie tampak sangat mewah berkat dua monumen di kedua sisi kompleks dan tegel mozaik di depan altar makam utama.




Bongpai makam milik Tan Hing Gie di sebelah utara (kiri) dan Makkum Tiles di depan bongpai utama milik Tan Gie Tjiang/Ibnu Rustamadji
Monumen gaya renaissance itu berhias relief kepala singa di empat sudut, berinskripsi candrasengkala diapit inskripsi angka tahun 1915 Masehi dan 2466 China. Bagian samping kanan dan kiri pintu masuk monumen berinskripsi bahasa Mandarin lain yang mulai pudar dengan hiasan patung singa Ki Lin di dua sisinya.
Sisi utara terdapat altar dewa bumi menghadap makam utama. Tepat di depan makam utama terdapat tegel mozaik dominasi warna biru berhias heraldic buah pala, singa memegang pedang, pedang dilingkari sulur tanaman, simbol dua ouroboros (dua ular melingkar memakan badannya sendiri) mengapit huruf Y dan huruf W—inisial nama Wilhelmina bermahkota.
Simbol tersebut biasa disebut coat of arm. Tegel mozaik bernama Makkum Tiles tersebut diketahui diproduksi oleh Royal Tichelaar Makkum di Kalkoven 1/8754 Makkum Belanda yang sudah eksis sejak tahun 1689. Tegel mozaik sama persis seperti ini ada di Istana Kerajaan Belanda. Bagian atas altar dewa bumi, berelief Kirthimukha layakanya relief pintu masuk candi Hindu Jawa.
Fasad depan gapura masuk, berelief Yin dan Yan. Selatan makam terdapat paseban atau ruang tunggu keluarga untuk berziarah, menghadap makam dan monumen berhias kepala singa. Bentuk akulturasi budaya sebagai penghormatan terakhir. Kami menduga, Tan Gee Tjiang dan Tan Hing Gie lahir antara tahun 1790 hingga 1800. Besar harapan kami, keberadaan rumah kongsi dan makam oriental milik Tan dan Goei tetap terjaga seiring berjalannya waktu.
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Biasa dipanggil Benu. Asli anak gunung Merapi Merbabu. Sering nulis, lebih banyak jalan-jalannya. Mungkin pengin lebih tahu? Silakan kontak di Instagram saya @benu_fossil.


