Travelog

Menelusuri Masjid Kasunyatan, Saksi Bisu Penyebaran Islam di Tanah Jawara

“Berhenti di pinggir jalan ini saja, Pak. Nanti jalannya kecil, bis nggak bisa masuk.” Pak Edi, warga lokal yang hari itu jadi pemandu wisata masjid di Banten, memberi arahan pada supir bis. Setelahnya, saya dan rombongan diminta turun agar bisa segera berjalan menuju tujuan berikutnya, yakni Masjid Kasunyatan.

Penuh batu, jalan tak beraspal itu jauh dari kata mulus. Setelah melangkah sejauh 300 meter menembus permukiman warga, akhirnya kami disambut oleh sebuah gapura putih yang jadi pintu masuk Masjid Kasunyatan, Banten Lama.

masjid kasunyatan
Gerbang Masjid Kasunyatan/Dewi Rachmanita Syiam

Masjid Kasunyatan terdiri dari beberapa bagian. Sebagian besar sudutnya kaya nuansa khas masjid kuno. Saat memasuki areal masjid, saya sudah langsung dapat melihat pemakaman di sisi utara dan timur yang jadi tujuan ziarah orang-orang dari berbagai penjuru. Lewat jalan yang berada di pinggir pemakaman itulah saya mengitari Masjid Kasunyatan.

Sebuah pintu kecil pembatas areal makam dengan sebuah areal yang lebih luas pun saya lewati. Kini yang di depan saya adalah sebuah bangunan dengan ghat seperti di pinggiran Sungai Gangga. Bentuknya segi empat dan dalamnya kira-kira 6,5 meter. Kolam itu dinaungi atap yang disangga oleh beberapa tiang berselimut lumut. Samar-samar, di bawah sana beberapa ekor ikan meliuk-liuk ke sana kemari.

masjid kasunyatan
Berjalan di samping pemakaman/Dewi Rachmanita Syiam

Itu adalah kolam yang dikeramatkan. Mata airnya tak pernah kering. Dari kolam, air dialirkan ke kamar mandi agar bisa digunakan oleh orang-orang yang hendak mandi kembang. Namun, meskipun sudah dilarang Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), masih tetap saja ada pengunjung nakal yang nekat mandi kembang langsung di kolam.

“Tahu-tahu sudah ada kembang aja di kolam,” ujar salah seorang anggota DKM Masjid Kasunyatan.

masjid kasunyatan
Pengunjung tidak diizinkan untuk mendi di kolam/Dewi Rachmanita Syiam

Dibangun di era Sultan Maulana Yusuf

Masjid Kasunyatan jadi tujuan peziarahan bukan tanpa alasan. Masjid yang dulu bernama Al-Fatihah yang berarti “pembuka” ini konon adalah masjid pertama di Banten. Pembangunannya dilakukan di masa kepemimpinan Sultan Maulana Yusuf, antara 1552-1570.

Selain menjadi masjid pelopor, Masjid Kasunyatan juga menjadi penanda datangnya syariat Islam di Banten setelah lama berada di bawah pengaruh kerajaan Hindu. Di masjid ini jugalah dulu para ulama dari penjuru Indonesia bertemu dan menimba ilmu pengetahuan. Maka, tak heran jika masjid sarat sejarah ini dijadikan sebagai cagar budaya.

masjid banten
Mimbar yang berdampingan dengan “grandfather clock”/Dewi Rachmanita Syiam

Menurut Alya Nadya (2017) dalam “Gaya Arsitektur Masjid Kasunyatan, Masjid Tertua di Banten,” nama Kasunyatan berasal dari kata “kasunyian” (tempat menyepinya sultan), “kasunatan” (tempat orang Islam yang disunat), “kanyataan” (tempat yang nyata bagi sultan-sultan), dan dari gelar yang disematkan pada Kyai Dukuh (Pangeran Kasunyatan) yang makamnya berada di kompleks masjid.

Berada di tanah wakaf seluas sekitar 2.544 meter persegi, bagunan utama Masjid Kasunyatan berbentuk segi empat yang menghadap selatan.

Pedang yang dulu kerap dibawa perang/Dewi Rachmanita Syiam

Begitu saya memasuki bangunan utama, gelap menyelimut. Meskipun matahari sedang tinggi, hanya sedikit saja cahayanya yang berhasil menerobos lewat celah-celah di atap masjid; tumpang tiga dengan mamolo di puncak yang disangga empat tiang dengan umpak oktagonal. Barangkali karena zaman dahulu jamaah belum terlalu banyak, ruangan utama Masjid Kasunyatan itu tak begitu besar.

Saya pun duduk di karpet yang tak begitu halus, menghadap lurus ke arah mihrab tempat imam memimpin salat. Objek yang paling mencolok mata adalah mimbar berwarna keemasan yang berdiri berdampingan dengan sebuah grandfather clock. Mimbar itu masih asli. Tiangnya terbuat dari kayu dan tangganya adalah semen berlapis porselen. Di sana dipajang sebuah pedang yang dulu sering dibawa perang.

masjid tertua di banten
Menara masjid yang masih asli/Dewi Rachmanita Syiam

Lalu saya bergerak ke luar menuju salah satu bagian masjid yang keasliannya masih terjaga: menara. Atap bangunan yang menjulang sekira 11 meter itu dilapisi genteng dan dipucuki mamolo. Bentuknya unik, serupa payung sedang dibuka.

Selama beberapa waktu saya berkeliaran di sekitar menara sambil menunggu rekan-rekan seperjalanan yang masih sibuk menyelami sejarah Masjid Kasunyatan. Pikiran saya pun melayang ke sana kemari membayangkan peristiwa-peristiwa apa saja yang pernah terjadi di masjid lintas zaman itu.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Dewi Rachmanita Syiam

Menggemari perjalanan, musik, dan cerita.
Related posts
Travelog

Bermain dan Belajar bersama "Art For Children" di TBY

Travelog

Menelusuri Jejak Sejarah Masa Lalu Kota Lama-Pecinan Semarang*

Pilihan EditorTravelog

Mengulang Waktu di Timur: Pala, Muara, dan Kejora (3)

Pilihan EditorTravelog

Memagari Ombak: Cerita Selancar Sumba

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *