Travelog

Lancar di Cipatat, Tersendat di Rajamandala

Angkot kuning dari arah Padalarang, yang membawa cuma beberapa gelintir penumpang, terlihat ngacir meliuk-liuk saat harus melewati sejumlah tingkungan dengan posisi terus menurun di sepanjang Jalan Raya Cipatat, Bandung Barat, Minggu (27/3/2022) pagi—satu pekan sebelum tibanya bulan Ramadhan 1443 H. Lalu-lintas yang masih lengang pagi itu membuat sang pengemudi angkot dapat memacu kendaraannya dengan kencang. Tak cuma angkot kuning itu, kendaraan-kendaraan lain juga tampak melaju kencang.

Angkot Padalarang-Rajamandala/Djoko Subinarto

Dari mulut jalan Kompleks Latihan Militer Cipatat, seorang prajurit TNI yang mengendarai sepeda motor memperlambat laju sepeda motornya. Kemungkinan ia baru saja lepas dari tugas piket dan akan segera pulang. Begitu Jalan Raya Cipatat terlihat lowong, ia segera mengarahkan sepeda motornya ke arah kanan, dan melaju ke arah Padalarang.

Tak jauh dari jalan masuk Kompleks Latihan Militer Cipatat, sekitar 20-an meter ke sebelah barat, dua gerobak penjual makanan terparkir. Ada tenda sederhana menaungi dua gerobak itu. Lengkap dengan sejumlah bangku. Gerobak yang satu, di sisi selatan, berisi bubur ayam. Sedangkan gerobak satunya lagi, yang di sisi utara, berisi kupat tahu bumbu kacang.

Saban pagi, kedua gerobak itu tak pernah sepi dari para pembeli. Sejumlah pemotor dan pemobil yang kebetulan tengah dalam perjalanan menuju Cianjur atau Sukabumi, tak jarang terlihat singgah sebentar untuk sekadar mengisi perut dengan jajan bubur ayam atau kupat tahu di tempat itu.

Jalan Raya Cipatat adalah jalan yang menghubungkan Padalarang dan Rajamandala. Jarak Padalarang ke Rajamandala sekitar 18 kilometer. Rute Padalarang-Rajamandala dan sebaliknya dilayani oleh angkot berwarna kuning. Sepanjang jalan Padalarang-Rajamandala berjejer kios makanan maupun restoran. Juga tak ketinggalan minimarket. Jadi, tidak perlu khawatir dalam soal urusan perut ketika sedang berada di jalur ini. Tinggal pilih saja sesuai selera. Mau menu makanan tradisional maupun menu modern, mau makanan ringan atau makanan berat, mau makan di tempat ataupun dibungkus, tak jadi soal. Yang paling penting uang di kantong tersedia.

Lalu lintas kerap tersendat di Rajamandala/Djoko Subinarto

Salah satu yang khas di jalur Padalarang-Rajamandala, terutama di daerah Cipatat, yaitu jejeran kios yang menjajakan peuyeum atau tape dari ketela pohon. Selain itu, ada pula kios-kios basajan di sisi kiri dan sisi kanan jalan yang menjajakan buah alkesa (Pouteria campechiana). Penduduk setempat kerap menyebutnya sebagai sawo walanda. Alkesa mentah berwarna hijau. Adapun yang matang berwarna kuning. Di daerah Cipatat, alkesa dijual dalam bentuk ikatan. Per ikat dijual antara Rp15.000,00 – Rp20.000,00. Satu ikat terdiri dari 10-12 buah alkesa. Jika sedang musim, beberapa penjual buah alkesa juga menyediakan buah sirsak atau cempedak.

Dengan posisi jalan yang menurun, kendaran dari arah Padalarang yang melintas di Jalan Raya Cipatat rata-rata melaju kencang. Hanya saja, begitu mendekati Pasar Rajamandala, terutama di jam-jam sibuk di pagi hari, kendaran-kendaraan yang tadinya melaju kencang itu kemudian mulai melambat. Bahkan, tak jarang harus berhenti total.

Begitu pula angkot kuning yang pagi itu sempat terlihat ngacir di sepanjang Jalan Raya Cipatat. Tatkala mendekati Pasar Rajamandala, angkot itu langsung melambat. Antrean kendaraan, baik yang mengarah ke Cianjur dan yang mengarah ke Padalarang mengular di depan Pasar Rajamandala pagi itu. Titik pusat kemacetannya persis di persimpangan Jalan Raya Rajamandala dan Jalan Ciburahol, yang menuju TPA Sarimukti.

Saban hari, dari pagi hingga menjelang petang, puluhan truk besar mengangkut sampah melintas di Jalan Raya Rajamandala. Truk sampah ini menuju TPA Sarimukti. Sampah-sampah dari kawasan Bandung Raya dibuang ke TPA Sarimukti. Setiap truk sampah melintas, aroma ”harum semerbak” bakal langsung tercium oleh para pengguna jalan lainnya.

Ada dua truk sampah beriringan pagi itu yang sedang berupaya belok ke arah Jalan Ciburahol. Sementara itu, seorang polisi lalu-lintas sibuk mengurai kemacetan yang terjadi. Di pinggir jalan, seorang ibu dan anaknya hendak menyeberang. Polisi lalu lintas lantas membantunya. Dengan salah satu tangannya, ia memberi isyarat kepada para pengemudi kendaraan agar memberi jalan kepada si ibu. Namun, seorang pengendara motor tiba-tiba nyelonong di saat si ibu sedang menyeberang.

“Eureun heula, atuh” (Berhenti dulu, dong), hardik polisi kepada si pengendara motor. Namun, si pengendara motor terlihat cuek dan terus memacu kendaraanya ke arah Cianjur.

Di sela-sela kendaraan yang mengular, terdengar raungan bunyi sirine mobil patwal. Tak lama, terlihat mobil patwal dari arah barat, yang diikuti oleh sebuah kendaraan berplat hitam, kemungkinan ditunggangi pejabat penting. Boleh jadi ada tugas penting pula dan genting yang perlu segera diselesaikan oleh sang pejabat penting, sehingga perjalanannya perlu dibantu oleh mobil patwal agar dapat sampai ke lokasi tujuan secepat mungkin. 

Tugu Perbatasan/Djoko Subinarto

Dari pusat kemacetan yang ada di sekitar persimpangan Jalan Raya Rajamandala dan Jalan Ciburahol, saya bergerak ke arah barat. Kendaraan-kendaraan yang melaju ke arah Cianjur dan tadi sempat tersendat, kini mulai dapat melaju lebih lancar. Namun, untuk yang ke arah Rajamandala, antrean kendaraan masih tetap mengular. Saya kemudian menyeberang jalan dan melihat tugu perbatasan Kabupaten Bandung-Kabupaten Cianjur, yang terlihat agak kurang terawat. Tak jauh dari tugu perbatasan, melintang jembatan Citarum. Di sisi timur jembatan, tertera angka penunjuk kilometer ke arah Bandung dan Cianjur. Terbaca jelas: Bdg 39, Cjr 25. 

Dari atas jembatan, saya melongok ke bawah, sebuah rakit bambu ditumpangi seorang pria tengah melaju perlahan. Rakit itu digunakan oleh pria tersebut untuk menjala ikan di tengah-tengah Sungai Citarum, yang airnya tampak tenang, berwarna kehijauan. 

Munggahan naik mobil bak terbuka/Djoko Subinarto

Saya arahkan pandangan ke arah timur, antrean kendaraan yang menuju arah Rajamandala justru malah bertambah panjang. Di antara antrean itu terlihat beberapa mobil bak terbuka yang disesaki penumpang. Mereka adalah warga lokal yang tampaknya sedang melakukan perjalanan untuk munggahan. Ini adalah tradisi yang biasa dilakukan oleh sebagian masyarakat kita dalam menyongsong datangnya bulan Ramadhan. Selain diisi dengan acara saling memohon maaf, munggahan juga kerap diisi dengan acara ziarah kubur, berkumpul dan makan-makan bersama kerabat dan sahabat, hingga piknik ke suatu tempat


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Solo — Jogja: Naik KRL, Berangkat dari Stasiun Gawok

    Travelog

    Menyusuri Lawang Sewu di ‘Kota Atlas’

    Travelog

    Mencari Sejarah yang Terkubur di Kuburan Londo, Sukun

    Travelog

    Menyambangi Gedung Sate Menjelang Momen Puncak Reformasi 1998

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    Di Bandung Sebenarnya Pelancong Bisa Ngapain Aja, Sih?