ItineraryNusantarasa

Sehari Memanjakan Perut dengan Beragam Kuliner Khas Sulawesi Selatan

Sudah hampir seminggu saya berada di Gowa, Kabupaten Sulawesi Selatan. Rindu rasanya ingin pulang ke Jawa. Namun seketika sirna saat seluruh rekan mengajak untuk berwisata kuliner di sekitar Kota Makassar.

Bersama teman-teman dari berbagai perguruan tinggi yang ada di Indonesia, tanpa perlu usaha besar untuk kami dalam mencari alat transportasi agar bisa berkeliling. Bermodalkan mobil yang telah disediakan panitia salah satu kampus negeri yang ada di Kota Makassar, kami semua bisa duduk manis dengan fasilitas transportasi memadai. 

Selain menelusuri alam dan budaya di Gowa, berburu kuliner memanglah salah satu kewajiban mutlak yang harus dilaksanakan saat mengunjungi tempat baru. Lalu kira-kira apa saja makanan khas Sulawesi Selatan yang begitu rugi rasanya jika terlewatkan?

Panada, kudapan pengganjal perut

Kuliner Gowa Sulawesi Selatan
Kue Panada/Melynda Dwi

Bangun tidur, perut terasa keroncongan. Bekal makanan ringan yang ada di dalam tas telah ludes tak tersisa. Tidak disangka, rezeki datang tiba-tiba. Suara ketukan pintu menyambar keheningan. “Ini camilan, bentar lagi kita keluar ya,”sahut seorang perempuan berkerudung abu-abu sembari memberikan tiga kotak kardus berwarna putih.

Tanpa pikir panjang, saya membuka kotak itu demi menyembuhkan kelaparan yang melanda. “Wih ada pastel, tapi kok kayak roti?” ucap saya keheranan. “Itu namanya Panada,” sahut perempuan yang tinggal sekamar dengan saya.

Bentuknya mengingatkan saya kepada pastel. Ada pula makanan serupa yang disebut sebagai jalangkote. Panada juga dikenal dengan nama empanada yang artinya roti berisi ikan. Selain menggunakan isian berupa ikan cakalang, isi panada juga hampir sama seperti pastel pada umumnya, yakni campuran bihun dan wortel atau bisa juga menggunakan daging.

Kue ini merupakan hasil akulturasi budaya Spanyol dan Portugis. Bangsa Spanyol memperkenalkan resep camilan ini kepada keturunan asli Minahasa. Pada awalnya, panada menjadi bagian dari kekayaan kuliner Manado, kemudian menyebar ke seluruh wilayah Sulawesi. Jadi, lebih tepat apabila panada disebut sebagai makanan khas Sulawesi.

Coto Makassar, memang nikmat!

Kuliner Gowa Sulawesi Selatan
Coto Makassar/Melynda Dwi

Setelah mengiyakan ajakan untuk kulineran, tentu menyantap panada saja kurang lengkap. Kami lalu memutuskan untuk mencoba makanan khas Makassar yang mungkin terlalu mainstream, yaitu coto Makassar sebagai menu sarapan. Terletak di tengah kota, warung coto Makassar tersebar dan begitu mudah untuk dijumpai.

Selain taburan daging, coto Makassar yang kami jajal pagi itu menawarkan taburan jeroan sapi. Saya yang belum terbiasa mengonsumsi organ dalam sapi, lebih memilih daging. Tidak lengkap rasanya jika makan tanpa nasi (kebiasaan orang Indonesia). Alhasil saya juga memesan seporsi nasi putih. Alternatifnya, kita juga bisa mengganti nasi dengan lontong.

Teman saya menyampaikan jika cara makan lontong dengan coto Makassar bukanlah dengan mencampurkannya ke dalam kuah. Namun dengan memotong lontong dengan sendok dan mencelupkannya ke dalam kuah.Segera saya menyeruput kuah yang nampak menggiurkan. Rasanya benar-benar membuat lidah saya menari-nari. Rasa dan aroma rempah begitu kuat. Ada sekitar 40 jenis rempah dalam ramuan coto Makassar, orang sini menyebutnya ampah patang pulo. Ternyata keistimewaan rasa tidak hanya berasal dari beraneka ragam rempah yang digunakan, namun penggunaan kuali tanah yang disebut korong butta (uring butta)

Pisang Epe, sajian manis dan legit

Kuliner Gowa Sulawesi Selatan
Pisang Epe/Melynda Dwi

Setelah mencoba makanan gurih, rasanya diri ini ingin mencoba kuliner manis. Selain es pisang ijo, Makassar kaya akan kuliner yang berbahan dasar pisang, salah satunya ialah pisang epe. Di sekitar ikon Kota Makassar, yaitu Pantai Losari, banyak penjual pisang epe. Jadilah kami ke sana untuk menyantap yang satu ini.

Ada hal unik saat berkunjung ke kawasan kuliner Pantai Losari. Penjual berlomba-lomba menawarkan barang dagangannya dengan meneriakkan nama makanan yang dijual. Penjual seakan beradu menghasilkan suara paling keras. Kami dibuat kebingungan akan bervariasinya pilihan makanan.Pisang epe merupakan makanan olahan pisang yang dimasak dengan cara memanggangnya di atas bara api. Jenis pisang yang digunakan biasanya adalah pisang kepok. Pisang dibakar setengah matang agar mempertahankan kelembutan tekstur. Kemudian pisang ditekan menggunakan balok kayu hingga berbentuk pipih. Selanjutnya, Pisang epe disajikan dengan pilihan topping, mulai dari kacang, cokelat hingga keju.

Mie Titi, renyah dan lembut

Kuliner Gowa Sulawesi Selatan
Mie TitiMie Titi/Melynda Dwi

“Ayo coba Mie Titi,” ucap salah satu teman asli Makassar. Nama mie itu terdengar asing di telinga saya. Seketika pikiran saya membayangkan kehangatan kuah seperti halnya pada umumnya mie ayam. Ternyata perkiraan saya salah, mie titi terbuat dari mie kering yang disiram kuah kental seperti kuah capcay.

Saya cukup ragu untuk mencobanya, karena bagi saya terlihat aneh jika mengonsumsi sesuatu yang renyah dicampur dengan kuah. Namun keraguan saya terbayar dengan kelezatan yang tersaji. Renyah, lembut, dan gurih berpadu menjadi satu. Harga seporsinya terbilang mahal bagi saya, yaitu mulai dari tiga puluh ribu rupiah. Tetapi sepadan dengan rasanya.

Mie titi pada awalnya merupakan makanan bagi warga Tionghoa yang berdomisili di Masyarakat. Kata “titi” adalah sapaan akrab Angko Tjao, pencetus sekaligus pemilik usaha mie titi. Titi pun bukan nama orang, melainkan sapaan yang berarti ‘adik laki-laki’ dalam bahasa Tionghoa. Ada beberapa cabang rumah makan mie titi, salah satunya di Jalan Boulevard yang saya singgahi.

Sarabba, mengakhiri dinginnya malam

Kuliner Gowa Sulawesi Selatan
Sarabba/Melynda Dwi

Saat malam mulai larut dan langit semakin menggelap, aktivitas manusia di Kota Makassar tidak terhenti. Malah terlihat orang berlalu-lalang seakan tidak terbatas oleh waktu. Hawa dingin malam hari akan sedikit menghilang saat mengonsumsi sesuatu yang hangat, salah satunya ialah sarabba.

Sarabba merupakan minuman hangat yang terbuat dari santan, gula aren, merica dan jahe. Di Jawa, sarabba hampir mirip seperti bajigur. Rasanya perpaduan antara manis dan pedas, menghangatkan tenggorokan serta badan.

Ada tiga varian sarabba yang umum ditemui, yaitu sarabba original, sarabba telur, dan sarabba susu. Serta terdapat dua cara penyajian, panas atau dingin dengan tambahan es batu. Sarabba paling nikmat jika disajikan bersama pisang goreng atau jenis gorengan lain. Menu sarabba menjadi pilihan saat acara nongkrong berkumpul bersama teman-teman. 

Puas meneguk sarabba, kami segera meninggalkan hiruk pikuk perkotaan. Seluruh rasa makanan yang dicoba masih tertanam di dalam pikiran. Hingga membentuk kenangan tak terlupakan.

Artikel Terkait
NusantarasaTravelog

Kisah Kopi Hitam di Warung Tadasih

Itinerary

Menelisik Sejarah di Lembah Tumpang

Itinerary

Film Balada Si Roy: Bukan Sekadar Bahan Nostalgia

Itinerary

Belajar Fotografi Bersama Arbain Rambey

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *