Travelog

Kilas Balik Perjalanan KRL Solo — Jogja

Setelah berjibaku mencari tempat antre agar bisa masuk ke kereta yang berangkat dari Stasiun Gawok, akhirnya saya dan kawan-kawan beserta penumpang lain berangkat ke Kota Istimewa Yogyakarta. Kala itu gerbong K3 1 11 14 yang menjadi tempat saya menumpang.

KRL rute Solo-Yogyakarta yang saya tumpangi ini dijadwalkan berangkat pada pukul 08.17 WIB dari Stasiun Solo Balapan. Kereta memulai keberangkatannya dari stasiun awal yang berada di Jalan Wolter Monginsidi Nomor 112, Kestalan, Kecamatan Banjarsari, Surakarta. Stasiun yang memiliki histori tersendiri di ibu kota batik, Surakarta. Tak ayal, Stasiun Solo Balapan dapat menginspirasi Lord Didi, seorang maestro campursari dalam menciptakan salah satu tembangnya yang berjudul Stasiun Balapan

Termasuk dalam kategori stasiun kereta api kelas besar bertipe A, stasiun yang namanya tak lepas dari nama kampung sebelah utara Stasiun-Balapan menjadi stasiun terbesar di kota yang berjuluk The Spirit of Java

Selepas berangkat dari Solo Balapan, kereta menuju stasiun kedua yakni Stasiun Purwosari yang letaknya berada Kelurahan Purwosari, Kecamatan Laweyan. Hampir sama dengan Solo Balapan, Stasiun Purwosari ini juga termasuk stasiun kereta api kelas besar, namun bedanya stasiun yang berada di ketinggian +98 mdpl ini tergolong tipe C. Kereta rel listrik bermotif batik parang warna merah putih itu setiba di stasiun berkode PWS lalu menuju stasiun ketiga, tempat saya berangkat. 

Gerbong kereta tempat saya menumpang
Gerbong kereta tempat saya menumpang/Rosla Tinika S

Memulai Perjalanan

Barulah pada pukul 08.28 WIB kereta tiba di Stasiun Gawok, ini berarti lebih cepat dua menit dari jadwal keberangkatan yang semestinya. Sepanjang perjalanan, pemandangan yang nampak dari balik jendela adalah area persawahan tanaman padi. Di sisi barat samar-samar terlihat Gunung Merapi dan Merbabu.

Tak lebih dari 15 menit bertolak dari Stasiun Gawok, kereta tiba di Stasiun Delanggu yang berada di Desa Gatak, Kecamatan Delanggu, Klaten. Di sini, kereta rupanya harus berhenti lebih lama dari jadwal yang semestinya. Hal ini kemungkinan besar akibat terlalu cepatnya waktu tiba kereta sehingga harus menyesuaikan ketepatan waktu sesuai jadwal. Stasiun kereta api kelas III (kecil) yang berketinggian +133 mdpl ini memiliki kesamaan dengan Stasiun Gawok, hanya disinggahi KRL rute Joglo.

Sebelumnya, warga sekitar stasiun berkode DL ini juga berharap agar kereta rute Joglo dapat berhenti di Stasiun Delanggu untuk memudahkan mobilitas masyarakat. Setelah waktu sesuai dengan jadwal yakni sekitar pukul 08:48 WIB, kereta menuju stasiun berikutnya yakni Stasiun Ceper yang berada di Jalan Stasiun Ceper, Penggung, Jambu Kulon, Kecamatan Ceper. 

Setiba di stasiun yang termasuk stasiun kereta api kelas II ini, kereta kembali berhenti untuk mengangkut penumpang. Saat kereta berhenti sejenak menunggu penumpang di stasiun yang ketinggiannya sama dengan tepat stasiun sebelumnya, terlihat kawan saya yang mulai mengalihkan pandangan tertuju pada gawainya untuk mengerjakan tugas-tugas kuliahnya. Sebagian lagi sekadar memeriksa tugas yang telah dikerjakan, termasuk juga saya. 

Suasana di dalam kereta
Suasana di dalam kereta/Rosla Tinika S

Hingga tanpa terasa kereta yang mulai kembali melaju sudah sampai di Stasiun Klaten, terletak di Jalan Haji Samanhudi, Tonggalan, Klaten, Klaten Tengah. Berada di pusat Klaten, stasiun ini termasuk dalam kategori stasiun kereta api kelas I yang berketinggian +151 mdpl. 

Saat menunggu kereta kembali melanjutkan perjalanan, sontak saya dan beberapa penumpang lain terkejut selepas beralih pandang terhadap kedatangan petugas keamanan yang mak jegagik alias seolah tiba-tiba saja datang untuk menertibkan penumpang. Petugas kembali menyampaikan sejumlah aturan yang harus dipatuhi para penumpang. 

Lalu pada pukul 09.13 WIB kereta tiba di Stasiun Srowot yang letaknya di Ngaseman, Gondangan, Kecamatan Jogonalan. Selepas dari stasiun berketinggian +152 mdpl tersebut, kereta kembali melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Brambanan. Stasiun berkode BBN ini lebih dikenal sebagai Stasiun Prambanan karena letaknya yang berdekatan dengan candi Hindu terbesar di Indonesia–Candi Prambanan. Tepatnya berada di Jalan Raya Solo-Yogyakarta No.25, Kebondalem Kidul, Kecamatan Prambanan. Stasiun kereta api kelas I yang memiliki ketinggian +146 mdpl selain melayani KRL rute Joglo juga melayani KA angkutan semen. Menjadi stasiun paling barat di Klaten menandakan bahwa sebentar lagi, kami akan memasuki wilayah DIY.

Tak setelah itu, sampai juga di stasiun yang berdekatan dengan Bandara Adi Sucipto, yaitu Stasiun Maguwo. Selepas kereta kembali melaju dari stasiun yang terletak di Kelurahan Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, pemandangan sudah nampak jauh berbeda dari sebelumnya. Kini yang terlihat adalah perkotaan daerah istimewa yang dipadati beragam aktivitas masyarakat. Stasiun pemilik kode MGW dalam sejarahnya pernah melayani bongkar muat pupuk Sriwijaya dan pengangkutan ketel untuk memasok avtur ke bandara. Eksistensi stasiun bandara kelas II ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang tak lepas dari bandara yang terlihat lebih sepi.  

Jalanan Jogjakarta tampak macet
Jalanan Jogjakarta tampak macet/Rosla Tinika S

Mata saya terus tertuju pada panorama dari balik jendela sembari menunggu kereta berhenti di Stasiun Lempuyangan. Stasiun dengan kode LPN ini terletak di Kelurahan Bausasran, Kemantren Danurejan, Kota Yogyakarta. Setiba di stasiun kereta api kelas besar tipe B, nampak kereta yang mulai senggang karena sebagian besar penumpang telah sampai di stasiun tujuan.

Saat kereta kembali melaju, yang terlihat dari balik jendela kereta adalah jalanan Yogyakarta yang banyak dipenuhi pengendara. Setiap ruas jalan raya tak ada yang luput dari pengendara kendaraan bermotor, utamanya di sekitar Adipura. Seusai itu, akhirnya kereta berhenti di Stasiun Yogyakarta yang terletak di Sosromenduran, Gedong Tengen.

Stasiun yang juga dikenal sebagai Stasiun Tugu merupakan stasiun akhir sebagian besar penumpang KRL rute Joglo. Kami yang masih muda menghindari berdesak-desakan dengan orang yang lebih tua. Jadi, kami memilih keluar dari kereta belakangan.

Antrean saat check out yang lebih senggang dari menit-menit sebelumnya
Antrean saat check out yang lebih senggang dari menit-menit sebelumnya/Rosla Tinika S

Kami pun tidak segera check out dari stasiun kereta api kelas besar tipe A dan kawan-kawan saya memilih untuk membeli roti di salah satu gerai di stasiun. Sembari mengisi perut yang mulai bergemuruh kelaparan untuk menghindari antrean yang bejubel, kami mencoba mencari tempat yang tepat untuk menikmati roti.Setelah sliwar-sliweran di stasiun ternyata tidak ada bangku yang mampu kami duduki lantaran penuh. Putus asa mencari bangku kosong kami kembali melihat antrean yang tidak lagi memanjang seperti tadi. Akhirnya kami mencoba antri untuk check out dan keluar dari stasiun menuju kawasan wisata Malioboro.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Sekarang aku tengah menjalani studi di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Teman-teman bisa mengunjungi akun instagramku @roslats_ untuk sekadar ngobrol atau berbincang-bincang mengenai berbagai hal.

Sekarang aku tengah menjalani studi di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Teman-teman bisa mengunjungi akun instagramku @roslats_ untuk sekadar ngobrol atau berbincang-bincang mengenai berbagai hal.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Yogyakarta: dari Tebing Breksi, hingga Malioboro

    Travelog

    Sepenggal Kisah dari Lawatan ke Pendiri Salib Putih Salatiga

    Travelog

    Tak Sengaja Menemukan Tugu Helm Kopral Syarif

    NusantarasaTravelog

    Sarapan dengan Semangkuk Lontong Kari Kebon Karet

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    Menyusuri Jejak Militer di Kota Cimahi