Travelog

Kilas Balik Festival Imlek dan Cap Go Meh

Festival Imlek dan Cap Go Meh di Pontianak Tahun Ini Ditiadakan

Aku menemukan berita ini berseliweran di Instagram dan bermunculan pula ribuan komentar yang menyayangkan hal itu. Wajar sih, karena perayaan Imlek selalu menjadi momen paling berkesan bagi semua masyarakat di sini. Itulah implementasi sikap toleransi dan gotong royong antar umat beragama bagi kami.

Bahkan, tepat di pukul 06:51 WIB, Aku pun mendapati berita pop up di layar handphone  yang telah membuatku yakin kalau wisata Imlek pasti ditiadakan. Katanya begini, “Pemkot Pastikan Perayaan Imlek dan Cap Go Meh di Pontianak Ditiadakan.

Saat sarapan, Ayah juga mengatakan hal demikian karena beliau barusan mendapatkan berita itu di TV tadi subuh.

Tau ndak? Kalau Gubernur Kalimantan Barat tuh ye, udah ngasik tau kalau Imlek dan Cap Go Meh udah ditiadekan. Biaselah, takot bah muncol agik klaster baru COVID-19…” ucap Ayahku dengan logat dan bahasa Pontianak atau biasanya kita kenal sebagai bahasa Melayu. Artinya, Pak Gubernur telah meniadakan Imlek karena ingin mencegah penyebaran klaster baru COVID-19 di Pontianak.

Memang betul, tahun 2021 ini masih menjadi ujian bagi kita semua, karena pandemi masih belum berakhir. Di berbagai daerah pun mulai ketat menerapkan PSBB, work and study from home hingga mempersuasi usaha preventif yaitu 3M (mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak). Untuk itu, semua pihak berwajib sangat mengantisipasi munculnya keramaian di berbagai tempat.

Kemarin aja, aku pergi ke warung kopi juga di razia oleh satpol PP dan kami semua wajib rapid dan swab test COVID-19 secara massal. Apalagi wisata Imlek yang bisa memicu keramaian. Tentu saja, menjadi perhatian besar bagi yang membuat kebijakan.

Kembali ke cerita Imlek yang tertunda ini.

Aku adalah penikmat dari wisata Imlek yang biasanya dipusatkan di Jalan Diponegoro, Pontianak, Kalimantan Barat. Menurut perhitungan kalender Gregorian, tahun baru Imlek jatuh pada tanggal 12 Februari 2021. Walaupun aku seorang muslim, aku dan keluargaku tetap menganggap Imlek sebagai peristiwa penting yang harus kita hargai.

Tradisi yang paling Aku senangi saat Imlek itu adalah saat bagi-bagi amplop yang berwarna merah itu. Menurut kepercayaan mereka, amplop merah yang paling disukai anak-anak dan aku ini, berisi sejumlah uang dan doa kebaikan. Biasanya, aku diajak ayah pergi ke rumah temannya yang merayakan Imlek dan selalu saja tasku dipenuhi amplop dan kue keranjang.

Tahu kan kue keranjang?

Itu loh, yang kalau menjelang Imlek, pasti letaknya di barisan depan minimarket maupun supermarket. Sangat berkesan! Tapi, itu hanyalah kenangan di tahun 2020 sebelum pandemi meluas.

Atraksi Tatung
Ratusan tatung mempersiapkan peralatan sebelum pawai tatung dalam rangka memperingati Cap Go Meh via TEMPO/ Tony Hartawan

Nah, bertepatan dengan Tahun Baru Imlek pada hari ini, Aku mau mengulas kembali memori terbaik sepanjang Aku berkunjung ke wisata imlek atau dikenal oleh masyarakat Pontianak itu, Festival Cap Go Meh di tahun 2020. Seperti biasa, saat menjelang Imlek, kota kelahiranku dihiasi lampion yang berkelap-kelip. Aku seolah-seolah sedang berada di Hongkong. Ceilah!

Hal ini pula yang membuat Aku makin jatuh cinta sama Kota Pontianak karena selalu memberikan kehangatan ketika menyambut pergantian tahun bagi masyarakat Tionghoa. Bayangkan saja! Ada 2500 lampion gantung di sepanjang Jalan Gajah Mada dan sekitarnya. Benar-benar meriah.

Festival ini biasanya dibuka pada pukul 16.00 WIB atau siang hari, tapi aku bersama kerabat dekatku datang setelah sholat Ashar, tepat di pukul 16:45 WIB. Mau tahu gimana situasinya saat itu? Pecaaaah!

Aku aja speechless karena suasana yang ditawarkan membuat kami bahagia! Terdengar pula dentuman kembang api dan membuat langit cantik sekali kala itu. Sembari mengelilingi wilayah tersebut, ditemukan pula berbagai kuliner dari UMKM yang membuat aku mengecap-ecap bibir.

Selama acara berlangsung, Aku juga menemukan wisatawan domestik hingga mancanegara. Kalau dilihat-lihat muka mereka kayaknya orang Asia deh. Tapi, ada juga loh bule-bule yang menghadiri acara ini dan mereka asyik memotret naga yang bersinar serta barongsai yang menari-nari. Mereka memulai rute dari Juanda-Pattimura-Gajah Mada-finish-Budi Karya, seingat ku sih begitu.

Selain itu, juga ada penampilan dan atraksi dari tatung yang bikin bulu kuduk merinding. Ekstrem banget dong! Mereka menancapkan kawat baja runcing dan menembus tubuhnya. Lalu, berjalan di atas pecahan kaca atau pisau yang tajam. Anehnya, mereka itu nggak merasakan sakit atau terluka. Secara akal sehat memang tidak mungkin, tapi itulah uniknya Tatung yang misterinya masih aku cari tahu. Lumayan lah, bisa memicu lonjakan adrenalin saat itu.

Cha, emang gak ngilu ape liat yang begituan? Ngerik coy, ngerik. Balek yak yok, ndak tahan kamek liat macam tu. Takot bah jadi mimpi burok!” ucap Nurul.

Mendengar ucapan si Nurul, aku terbahak-bahak ketika itu. Nurul bilang, dia itu ngajakin Aku pulang karena takut melihat atraksi Tatung. Katanya, takut mimpi buruk. Aku jelas tidak mengindahkan perkataannya dan tetap menikmati penampilan dari Tatung yang sedang berlangsung. Sayangnya, Aku gak berani memotret saat mereka beraksi.

  • Atraksi Tatung
  • Atraksi Tatung

Oh iya, selama aku menghadiri festival, juga ada kejadian lucu yang membuatku tertawa terbahak-bahak sepanjang perjalanan pulang. Jadi, di sampingku ada koko-koko yang sedang bercanda dan bersikap seakan-akan sedang kemasukan roh halus karena tadi dia berpegangan tangan dengan si Tatung. Nah, si Nurul auto kaget dan berteriak sekencang-kencangnya karena memang si Nurul ini penakut. Dan, akhirnya koko tersebut jujur bahwa semua itu hanyalah candaan.

Hari mulai larut, aku pun sudah ditelpon oleh orang tuaku dan inilah waktunya kami pulang ke rumah masing-masing. Tak lupa pula, aku membawa oleh-oleh berupa kue keranjang khas Imlek. Begitulah ceritaku selama mengunjungi wisata Imlek di Pontianak, salah satu momen paling berkesan yang tak terlupakan.

Semoga di tahun berikutnya, kita masih bisa menyaksikan Festival Cap Go Meh ketika situasi sudah memungkinkan, ya?

Cerita dari Icha, untuk kamu baca di Tahun Baru Imlek 2021.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

TelusuRI

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
Travelog

Berjumpa dengan Hiu Paus di Probolinggo

Travelog

Camping Semalam di Gili Labak

Sampah KitaTravelog

Sampah di Sudut Kota Padang

Travelog

Menyusuri Pasar Ikan hingga Warung Makan di Jembatan Puri Sorong

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *