Travelog

Mengunjungi Pantai Baliana

Perjalanan kali ini berawal dari sebuah postingan video singkat WhatsApp story milik seorang teman, yang sedang berada di Pantai Baliana. “Ini pante (pantai) yang ada (sedang) viral.” Begitu kira-kira caption story (dalam bahasa Kupang) tersebut. 

Tanpa berpikir lama esoknya pada Minggu, 21 Juni 2021 lalu, saya bersama beberapa teman langsung bertandang ke pantai tersebut. Pantai yang terletak di wilayah Desa Kuanheum, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur ini berjarak sekitar 20 km dari pusat Kota Kupang. Selain tidak terlalu jauh, kondisi jalan menuju ke sana juga sudah bagus. Perjalanan pun terasa nyaman dan lancar.

Meski begitu, saat mendekati pantai, jalan yang tadinya aspal mulus, mulai berlubang-lubang. Jalan berlupang ini berujung pada jalan berbatu dengan tanah putih dan sempit. Tak muat untuk lewat dua buah mobil.

Lama-kelamaan jalan semakin sempit. Hanya bisa dilewati satu mobil saja. Dari kejauhan pun mulai terlihat batu-batu karang, jalannya mulai berkelok-kelok, menurun, menukik tajam. Saya dan teman-teman memilih untuk memarkir motor 200 meter dari pantai.

Jalan tanah putih menuju Pantai Baliana/Resti Seli

Perjalanan menuju Pantai Baliana

Mulailah kami berjalan kaki, melewati semak-semak seperti ingin memasuki hutan. Saya berjalan sambil memegang botol minum yang saya bawa karena sebelumnya, seorang teman mengatakan bahwa di pantai tersebut belum ada kios yang menjajakan makanan dan minuman. Jalan tanah putih tadi membuat kaki saya kotor, putih, seperti orang yang sudah lama tidak tersentuh air.

Akhirnya, perjalanan yang cukup melelahkan di tengah terik matahari selesai. Pepohonan rindang menyambut kedatangan kami. Tidak jauh dari situ, di depan kami terlihat ombak-ombak kecil yang datang silih berganti. Menandakan bahwa kami telah sampai di Pantai Baliana, pantai yang sedang viral katanya. 

Motor-motor pengunjung yang berhasil masuk, terparkir dengan rapi. Setiap sudut pantai penuh dengan pengunjung. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa ada di sini. Mereka umumnya datang bersama keluarga, teman, dan juga kekasih.

Saya mulai melanjutkan langkah lalu bertemu dengan sebuah menara yang berdiri kokoh entah untuk apa. Ada pula orang-orang di atas menara tersebut. Lalu, ada pula gubuk reot yang dipenuhi orang di dalamnya. Ada juga yang berjualan jagung, kacang goreng, dan air minum di sana.

Menara dan keramaian/Resti Seli

Suasana Pantai Baliana

Terang saja pantai ini ramai. Banyak hal yang menarik perhatian pengunjung. Sebut saja gugusan batu karang besar yang memanjang dari ujung ke ujung yang menjadi pembatas antara hutan dan pantai. Jadi, pengunjung dapat berdiri di atas jejeran batu karang tersebut untuk memandangi keindahan pantai. Namun, tentu harus berhati-hati karena tidak ada tangga turun dari sana. Jika pengunjung turun ke bibir pantai maka harus melalui cela-cela batu karang. Begitu juga jika ingin naik, harus memanjat batu karang tersebut.

Berbahaya memang, tetapi sepertinya pengunjung yang datang terlalu bersemangat untuk turun merasakan serunya bermain ombak di Pantai Baliana ini. Mereka seperti tidak peduli resiko apabila sampai terjatuh. Tetapi sepertinya, pengunjung sangat berhati-hati naik-turun tebing batu karang itu.

Kami datang berkunjung pada waktu yang tepat, saat air laut sedang surut. Oleh karenanya, kami dan para pengunjung lain bisa berenang, menikmati ombak-ombak kecil pantai ini. Ada juga pengunjung yang menaiki perahu kecil untuk sekadar melompat ke air, menunjukkan atraksi-atraksi sederhana mereka kepada pengunjung lain.

Lain cerita jika kami datang saat air laut sedang pasang. Sudah pasti kami hanya berfoto saja karena tidak bisa turun ke pantai.Untuk pasir pantainya, berwarna putih dengan campuran sedikit warna pink, bersih dan halus.

Sampah di Pantai Baliana/Resti Seli

Sampah yang berserakan

Namun sayangnya, budaya buang sampah sembarangan masih merajalela. Semakin ramai pengunjung, semakin banyak pula sampah bertebaran di segala tempat. Begitulah yang saya jumpai di pantai ini. Mulai dari bungkusan rokok, plastik, kemasan botol air, kertas pembungkus nasi, bungkusan permen, dan banyak lagi.

Saya mulai menengok ke kanan dan ke kiri untuk mencari tempat sampah, namun saya tidak menemukannya. Atau mungkin, saya yang kurang teliti sehingga tidak melihatnya.

Sungguh sedih rasanya. Keindahan pantai ternoda oleh sampah-sampah yang berserakan.

Saya pun sempat bertanya-tanya dalam hati, “Apakah lebih baik jika pantai ini tetap tersembunyi? Jika tidak dikenal banyak orang seperti sekarang, akankah tetap bersih dan asri?”

Semoga kedepannya, ada perhatian lebih dari pemerintah setempat untuk membangun fasilitas-fasilitas penunjang wisata di pantai ini seperti: pengadaan tempat sampah, akses berupa tangga menuju pantai—sehingga pengunjung tidak perlu memanjat tebing tanpa pengaman yang memadahi—, dan satu lagi yang penting menurut saya adalah ketersediaan toilet mengingat pantai ini terletak di dalam hutan dan cukup jauh dari rumah penduduk.

Hari semakin sore, matahari mulai menampakkan senjanya. Setelah puas mengambil foto dan menikmati keindahan pantai, kami memutuskan untuk bergegas pulang sebelum hari benar-benar gelap.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Resti Seli adalah seorang perempuan muda yang sedang suka-sukanya menulis, fotografi, olahraga, dan travelling.

Resti Seli adalah seorang perempuan muda yang sedang suka-sukanya menulis, fotografi, olahraga, dan travelling.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Sepenggal Kisah di Balik Pembangunan Sirkuit Mandalika

    Travelog

    Singgah ke Masjid Tiban

    Travelog

    Jejak Tsunami Aceh di Monumen Kapal PLTD Apung

    Travelog

    Mengenal Lebih Dekat Kehidupan di Tepian Waduk Jatigede

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Worth reading...
    Melawat ke Panmuti, Merawat Persahabatan