Travelog

Jejak si Ular Besi di Jalur Bandung–Ciwidey

Seperti juga Lembang di Bandung utara, Ciwidey yang berada di sisi selatan Bandung, Jawa Barat, telah lama menjadi jugjugan para wisatawan. Ciwidey memiliki sejumlah kesamaan dengan Lembang. Keduanya berada di gugusan cekungan Bandung, yang dikepung gunung-gunung. Sama halnya dengan Lembang, Ciwidey berada pula di kawasan dataran tinggi, yang menjadikannya memiliki hawa sangat sejuk. Maka, saat berada di seputaran Bandung, jika ingin ngadem, melanconglah ke Ciwidey atau Lembang.

Ketera Bandung Ciwidey
Rel KA yang melintas di atas Sungai Sungapan/Djoko Subinarto

Sebagai jugjugan wisatawan, Ciwidey menawarkan beragam destinasi wisata. Tinggal pilih saja, mau destinasi wisata modern, tradisional, natural maupun buatan, semuanya tersedia. 

Jarak Bandung–Ciwidey sekitar 35 kilometer. Dari Bandung ke kawasan Ciwidey harus melewati Soreang, ibukota Kabupaten Bandung. Jarak Soreang ke Ciwidey sekitar 15 kilometer. Saat ini, akses dari Bandung ke Soreang dapat melalui jalur tol. Sehingga perjalanan bisa lebih singkat. Dari Soreang menuju Ciwidey, alternatifnya cuma satu, yakni melalui jalan Raya Soreang–Ciwidey, yang berkelok-kelok, dan di beberapa bagiannya rawan longsor.

Dengan jumlah destinasi wisata yang terus meningkat dibarengi dengan bertambahnya pula fasilitas-fasilitas pendukungnya, kepadatan lalu-lintas di sepanjang Jalan Raya Soreang–Ciwidey pun turut meningkat tajam. Kemacetan sudah jadi pemandangan biasa. Apalagi di saat liburan panjang tatkala banyak wisatawan menyerbu berbagai destinasi wisata di kawasan ini.

Ketera Bandung Ciwidey
Lalu-lintas di Jalan Raya Ciwidey/Djoko Subinarto

Minggu (4/9/2022) pagi lampau, sekitar pukul 08.00 lebih sedikit, saat saya melongok Ciwidey, antrean kendaraan di Jalan Raya Bhayangkara, sekitar Alun-alun Ciwidey, yang mengarah ke selatan, tempat beragam destinasi wisata berada, sudah tampak mengular. Bisa dipastikan semakin siang, semakin panjang antrean kendaraan itu. Sementara menjelang petang, antrean panjang kendaraan bakal terlihat mengular ke arah Kota Bandung, tatkala para wisatawan berangsur pulang meninggalkan Ciwidey.

Di masa lampau, selain dihubungkan lewat jalan raya, Bandung–Ciwidey dihubungkan pula lewat rel kereta api. Ada jasa si ular besi yang melayani rute Bandung–Ciwidey maupun sebaliknya. 

Adalah Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik pemerintah Belanda, yang berinisiatif membangun jalur kereta api Bandung–Ciwidey. Tujuan utamanya waktu itu yakni untuk sarana transportasi pengangkutan hasil perkebunan dari kawasan-kawasan di selatan Bandung.

Dalam penyediaan layanan kereta api Bandung–Ciwidey ini, Staatsspoorwegen mengupayakannya dengan jalan membuka jalur Cikudapateuh–Soreang terlebih dahulu. Jalur ini diresmikan tanggal 13 Februari 1921. Berikutnya, barulah dibuka jalur Soreang–Ciwidey, yang diresmikan pada tanggal 17 Juni 1924.

Dengan tersedianya jalur kereta api Bandung–Ciwidey, pengangkutan hasil perkebunan dari kawasan-kawasan di selatan Bandung menjadi jauh lebih cepat dan lebih irit ongkos. Selain itu, hasil-hasil perkebunan dapat diangkut dalam jumlah yang lebih besar ketimbang, misalnya, diangkut oleh pedati atau truk.

Hingga awal tahun 1980-an, kereta api Bandung–Ciwidey masih rutin beroperasi. Barulah pada tahun 1982, jalur kereta api ini resmi dinonaktifkan seiring dengan semakin banyaknya warga yang memilih menggunakan kendaraan pribadi dan mobil umum sebagai moda transportasi sehari-hari mereka.

Jejak keberadaan si ular besi yang sempat melayani jalur Bandung–Ciwidey masih bisa kita lihat dengan jelas hingga sekarang, setidaknya saat kita melaju dari Soreang ke Ciwidey maupun arah sebaliknya.

Ketera Bandung Ciwidey
Jembatan Sungapan/Djoko Subinarto

Ketika kita memasuki wilayah Sadu, Soreang, dari arah Bandung, dan melintas di wilayah Kampung Sungapan, kita dapat melihat jembatan kereta api yang melintang persis di atas Sungai Sungapan di sisi kanan. Rangka dan tiang-tiang jembatan itu terlihat penuh karat, kecoklatan. Namun, masih terlihat kokoh.

Rel kereta api di atas Jembatan Sungapan ini juga masih utuh. Namun, bagian tengahnya kini telah dilapisi beton sehingga sepeda motor mampu melaju di atas jembatan ini. 

Tak jarang, warga luar kota, entah yang sedang menuju Ciwidey, atau yang baru pulang dari Ciwidey, menyempatkan diri menyambangi jembatan ini untuk sekadar berfoto di mulut jembatan atau di tengah jembatan.

Dari atas jembatan, jika kita layangkan pandangan ke arah timur, kita bisa melihat lalu lintas kendaraan yang sedang merayap ke arah Ciwidey maupun ke arah Soreang. Tak jauh dari jembatan ini, terbentang pula sawah dan kebun milik warga serta saluran irigasi Cibeureum yang mengairi sawah-sawah yang ada di sekitar kawasan Sadu, Soreang.

Dari daerah Sungapan ke arah Ciwidey masih dapat kita temui beberapa jembatan kereta api lainnya. Namun, seperti juga Jembatan Sungapan, jembatan-jembatan kereta api itu kini bagian tegahnya telah dibeton dan difungsikan sebagai jalan perlintasan warga. Di sejumlah titik, di kanan-kiri rel telah pula berdiri bangunan-bangunan milik warga.

  • Ketera Bandung Ciwidey
  • Ketera Bandung Ciwidey

Titik akhir pemberhentian kereta api Bandung–Ciwidey adalah Stasiun Ciwidey, yang kini telah jadi bagian kompleks permukiman padat. Lokasinya berada tak jauh dari Alun-alun Ciwidey. Di sebelah utara Stasiun KA Ciwidey, ada sebuah stasiun lainnya, yakni Stasiun KA Pasir Jambu.

Tak sedikit yang bermimpi jalur kereta api Bandung–Ciwidey dapat diaktifkan kembali. Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, termasuk salah satunya. Kang Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, bahkan berharap bukan hanya reaktivasi jalur kereta api Bandung-–Ciwidey, tetapi juga berharap adanya pembangunan jalur baru kereta api di wilayah selatan Jawa Barat.

Jika reaktivasi jalur kereta api Bandung–Ciwidey dapat terlaksana, tentu ini bakal ikut mengurangi tingkat kemacetan secara signifikan di Jalan Raya Soreang–Ciwidey. 

Namun, akan lebih baik memang jika reaktivasi jalur kereta api Bandung–Ciwidey ini kemudian bisa disusul dengan pembangunan jalur baru kereta api ke wilayah-wilayah lainnya di selatan Jawa Barat, sebagaimana yang diharapkan Kang Emil. 

Dari Ciwidey, misalnya, dibangun jalur kereta api yang menuju kawasan Pangalengan, melintasi perkebunan-perkebunan teh, hingga tembus ke kawasan Pantai Selatan. Jika sampai terealisasi, perjalanan naik kereta api melintasi kawasan perkebunan-perkebunan teh hingga ke kawasan Pantai Selatan Jawa Barat kemungkinan bakal menjadi perjalanan cukup mengesankan.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Kembali ke Fatubraun

    Pilihan EditorTravelog

    Singgah di Rumah Tenun Kampung Sabu

    Perjalanan LestariTravelog

    Berkebun Karang bersama Nuansa Pulau

    Travelog

    Yogyakarta: dari Tebing Breksi, hingga Malioboro

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    Ngopi di Masa Pandemi, Bagaimana Nasibnya?