Itinerary

2 Rute Jalan Kaki di Sekitar Malioboro Jogja yang Mesti Kamu Coba

“Duh, ngapain lagi nih di Jogja? Ke pantai udah, ke candi udah, ke hutan pinus udah,” kamu garuk-garuk kepala.

Kalau emang kamu udah bingung mau ngapain lagi di Jogja padahal waktu liburanmu masih sisa, nggak ada salahnya buat nyobain jalan kaki di sekitar Malioboro. Ini TelusuRI kasih rekomendasi dua rute jalan kaki di sekitar Malioboro yang mesti kamu jajal.

jalan kaki di sekitar malioboro

Kilometer Nol Malioboro/Fuji Adriza

1. Malioboro—Keraton

Untuk menelusuri rute yang pertama ini, kamu bisa mulai jalan kaki lebih pagi. Kenapa? Soalnya kamu bakal ketemu banyak banget atraksi wisata menarik yang menggoda banget buat dihampiri.

Dari Malioboro, terus ke selatan, kamu bakal menjumpai Pasar Bringharjo yang jadi lokasi favorit para pelancong buat beli oleh-oleh pakaian batik dan bakpia. Lanjut ke selatan, kamu akan tiba di Kilometer Nol Jogja, yang disekitarnya ada Benteng Vredeburg, Gedung Agung, Kantor Pos Besar, dan beberapa gedung jadul dan instagenik.

jalan kaki di sekitar malioboro

Malioboro di malam hari/Fuji Adriza

Menyeberang prapatan Kilometer Nol, kamu bakal memasuki kawasan Keraton Yogyakarta. Begitu kamu jalan melintasi Alun-Alun Utara, atmosfer Jawa jadi makin kental.

Kalau mau, kamu bisa ikutan tur keliling Keraton (08.00-14.00, tiket Rp 7.000 untuk wisatawan domestik) atau mampir ke Museum Kereta Kuda (09.00-16.00, Rp 5.000, membawa kamera Rp 1.000).

jalan kaki di sekitar malioboro

Pulau Cemeti di Tamansari/Fuji Adriza

Dari sana kamu bisa lanjut ke Istana Air Tamansari (09.00-15.00, Rp 5.000) dan reruntuhan Pulau Cemeti di atas bukit kecil.

Setelah keliling-keliling Tamansari, kamu bisa lanjut jalan ke arah Alun-Alun Selatan. Nah, di tempat ini banyak banget yang bisa kamu lakukan. Dua yang jadi favorit pejalan sih nyobain lewat Beringin Kembar dengan mata tertutup dan naik odong-odong keliling alun-alun.

jalan kaki di sekitar malioboro

Sorot lampu bikin Plengkung Gading jadi warna-warni di malam hari/Fuji Adriza

Tapi kamu juga bisa nongkrong di Plengkung Gading yang cuma terpaut sekitar seratus meter dari Alun-Alun Kidul. Dari pintu selatan Keraton Jogja ini kamu bisa duduk-duduk santai menunggu matahari terbenam.

2. Tugu Jogja—Malioboro

Buat jalan kaki lewat rute ini, sebenarnya ada dua pilihan. Pertama, kamu bisa jalan kaki pergi-pulang; kedua, kamu bisa naik angkutan online ke Tugu Jogja baru kemudian jalan kaki dari Tugu ke Malioboro.

Rute ini paling pas buat dijajal sore hari. Selain karena sinar matahari sudah nggak terlalu garang, cahaya sore juga bakal bikin bangunan-bangunan tua di Jalan Margo Utomo (Mangkubumi) tampak lebih gemilang.

tahun baru di jogja

Suasana siang di Tugu Jogja/Fuji Adriza

Tentu saja yang jadi atraksi utama jalur ini adalah Tugu Jogja (Tugu Pal Putih atau Tugu Golong Gilig). Katanya sih belum ke Jogja kalau belum sempat foto-foto di monumen kebanggaan warga Jogja itu.

Rampung foto-foto di Tugu, kamu bisa mampir di beberapa spot wisata kuliner, misalnya angkringan di Kedaulatan Rakyat (KR) dan salah satu dari warung-warung kopi joss di sebelah utara Stasiun Tugu.

jalan kaki di sekitar malioboro

Angkringan KR Jogja/Fuji Adriza

Nongkrong di spot-spot kuliner itu kamu bakal bisa menghayati lagu “Yogyakarta” bikinan Kla Project. (“Ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera, orang duduk bersila,” “Musisi jalanan mulai beraksi….”)

Dari kopi joss, kamu bakal menyeberangi perlintasan kereta api, terus tiba di plang “Jl. Malioboro” yang legendaris. Abis foto-foto di sana, menonton pertunjukan angklung fusion jalanan bakal jadi penutup yang bakal sangat berkesan buat sesi jalan kaki di sekitar Malioboro yang baru saja kamu rampungkan.

jalan kaki di sekitar malioboro

Di malam hari trotoar di selatan Stasiun Tugu berubah jadi lapak Kopi Joss/Fuji Adriza

Jadi gimana? Minat buat jalan kaki di sekitar Malioboro?


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
ItineraryPerjalanan Lestari

Q&A: Extinction Rebellion Indonesia tentang Ancaman Krisis Iklim

ItineraryNusantarasa

Menyantap Tiram Bakar Khas Barru

Itinerary

Masjid Menara Kudus, Kemegahan Arsitektur Kuno Warisan Sunan Kudus

Itinerary

Museum Layang-Layang Indonesia: Merawat Keelokan Budaya dengan Permainan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.