Itinerary

7 Tips dan Trik Jalan-Jalan Asyik dengan Teman-Teman Difabel

Kalau kamu punya teman difabel dan masih ragu untuk mengajaknya jalan-jalan, barangkali kamu perlu membaca 7 hal di bawah ini:

1. Dalam segala keterbatasan, teman-teman difabel juga sama seperti kita: punya pikiran

Bukan berarti karena mereka nggak punya salah satu organ tubuh, atau nggak bisa menjalankan salah satu fungsi indra, kamu lebih unggul dibanding teman-teman yang mengalami disabilitas. Mereka juga sama sepertimu, yakni memiliki otak untuk berpikir dan menimbang-nimbang.

Jadi jangan jadikan disabilitas sebagai alasan untuk membuatmu memutuskan segala hal tanpa melibatkan mereka. Misalnya ketika kamu mau jalan-jalan ke lokasi A minta dulu pendapatnya, apakah ia setuju atau tidak, apakah ia punya usulan lain yang siapa tahu lebih menarik daripada yang kamu cetuskan.

2. Jangan berasumsi

Jangan pernah berasumsi bahwa teman-teman penyandang disabilitas selalu membutuhkan bantuanmu. Kamu bukan dewa dan mereka bukan hamba yang selalu harus kamu perhatikan. Mereka juga sama sepertimu, manusia yang selalu belajar menyesuaikan diri dan bertanggung jawab atas segala hal yang mereka lakukan.

Ketika ia jalan-jalan bersamamu menggendong ransel berat di punggung, jangan serta merta mengambil tasnya kemudian membawakannya—ia sudah paham konsekuensinya. Alih-alih merasa tertolong, bisa-bisa ia tersinggung. Jika pun kamu ingin menolong, selalu biasakan untuk bertanya terlebih dahulu. Tapi jangan dilupakan: sebagai teman kita harus saling menjaga.

3. Sebagian besar penyandang disabilitas tidak membutuhkan bantuan yang berlebihan

Dengan segela keterbatasannya, bukan berarti teman-teman disabilitas perlu dibantu melaksanakan setiap hal, dari mulai hal-hal kecil sampai yang besar. Saat kamu lihat mereka berjuang melakukan sesuatu, berikan mereka kesempatan untuk melakukannya. Mereka mungkin nggak secepat kamu, tapi mereka bisa. Dan toh pada dasarnya tiap orang punya “kecepatannya” masing-masing.

4. Jadi—sekali lagi—selalu biasakan bertanya dulu sebelum menolongnya

Misalnya saat kalian harus turun pesawat. Jangan langsung menggamit lengannya untuk membantu dia turun karena ia menggunakan kruk. Memegang lengannya sama saja dengan mengganggu prosesnya untuk menyeimbangkan tubuh. (Ia perlu tangan untuk menyeimbangkan diri.) Kalau kamu melihatnya agak oleng sedikit, beri ia sedikit waktu untuk menemukan keseimbangan setelah duduk sekian jam dalam pesawat. Lagian, siapa sih yang nggak akan oleng saat mencoba berdiri setelah berjam-jam duduk di bangku pesawat?

5. Tapi jangan berjalan terlalu jauh juga darinya

Jika temanmu itu menggunakan kursi roda, selalu berjalan beriringan dengannya. Kalau mau ngobrol pastikan posisi kamu sama tinggi dengan posisinya—misalnya, berhentilah sejenak dan cari kursi terdekat yang tersedia. Jangan biarkan ia kesusahan mendongak ke atas hanya untuk mendengarkan celotehanmu. Kamu juga nggak akan nyaman jika disuruh mendongak, ‘kan?

6. Teman-teman difabel peka terhadap kontak fisik

Ini common sense barangkali: jangan sembarangan menyentuh orang lain. Orang yang disentuh tentu saja nggak akan merasa nyaman. Begitu pula halnya dengan teman-teman penyandang disabilitas, mereka juga kaget dan risih disentuh oleh orang lain secara tiba-tiba. Kalau pun kamu merasa perlu untuk menyentuh mereka (misalnya waktu kamu mau menolong temanmu yang nggak bisa melihat untuk menghindari sebuah lubang yang menganga di depan) tanyakan terlebih dahulu. Dan ketika menolong mereka pun jangan langsung mengambil tangannya, mintalah mereka untuk mengambil tanganmu.

7. Cobalah untuk saling mengerti satu sama lain

Mungkin terkadang kamu lelah sendiri mendapati kenyataan bahwa apa yang kamu bicarakan nggak kunjung ditangkap oleh temanmu. Jangan menyerah. Mungkin cuma belum “klik” saja. Jangan bikin itu merusak keasyikan perjalananmu. Sederhana saja; kamu belum paham dia, dia juga belum paham kamu. Investasikan lebih banyak waktu agar kalian bisa lebih saling mengerti. Percayalah, mereka juga sama frustrasinya denganmu agar pembicaraan kalian bisa nyambung.


Disarikan dari diskusi Forum Studi Komunikasi (FSK), FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta tentang media dan penyandang disabilitas, yang juga dihadiri oleh CIQAL dan Handicap International.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
Itinerary

Desa Muncar dan Kopi Temanggung

Itinerary

Memahami Lebih Dalam tentang Permakultur

Itinerary

5 Destinasi Budaya 'Memorable' ala Jovita Ayu

ItineraryPilihan Editor

Rumapala dan Cerita Memberdayakan Pala Banda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *