Travelog

Gunung Kelud dalam Kenangan Bulan Maret

Di bulan Maret, saya bertemu dengan seorang kawan. Pertemuan yang tidak saya sangka setelah satu tahun tak bersua. Dalam pertemuan ini, kami memutuskan untuk melakukan perjalanan wisata ke tempat yang belum pernah kami datangi sebelumnya. Adalah Gunung Kelud yang terletak di perbatasan antara Kabupaten Blitar dan Kediri menjadi tujuannya.

Teman saya mengajak untuk berangkat pagi-pagi sekali karena ingin melihat matahari terbit. Sebenarnya saya tidak masalah dengan keinginannya, saya justru bermasalah dengan jam bangun saya di pagi hari, yang akhirnya menjadi masalah untuknya juga. Keesokan harinya kami berangkat sekitar jam sembilan pagi.

Berdasarkan pantauan peta daring, seharusnya perjalanan bisa ditempuh dalam waktu dua jam. Namun pada kenyataannya, sekitar pukul satu siang, kami baru tiba lokasi. Ketika belum sampai tujuan, kami sudah merasa bengkeng dalam perjalanan. Kami bahkan sempat bergantian membawa motor. Dalam perjalanan tersebut, langit yang tadinya cerah, bahkan sangat panas, kemudian menunjukan sisinya yang lain. Kelabu. Lalu membawa rintikan air hujan, semakin deras hingga mengharuskan kami berteduh di sebuah warung.

Jalanan menuju Kelud/Cindar Bumi

Di sana kami memesan teh hangat, rasa manis sekali. Kami sempat berinteraksi dengan pemilik warung, ia bertanya mengenai tujuan kami. Aku menjawab, “Kami mau ke Wisata Gunung Kelud, Bu.” Ibu pemilik warung tersebut dengan raut wajah keheranan menimpali dengan kaget, “Walah! Kalau lewat sini kejauhan. Masih satu jam dari sini, tapi kalau mau putar balik ya sayang aja karna tetap terhitung jauh.”

Kami hanya bisa tersenyum.

Kami berdua duduk sembari menunggu hujan reda. Selagi suara hujan masih menjadi pengiring percakapan kami di warung itu, kami sesekali juga memandangi uap teh yang ke sana kemari lalu menghilang di udara begitu saja. 

Hujan mulai reda, kami melanjutkan perjalanan. Karena tidak punya banyak pilihan, kami tetap melanjutkan perjalanan melalui rute yang sudah kami pilih ini. Ya sudah, mau gimana lagi?

Sembari menaruh kepercayaan kepada peta Google, kami menyusuri jalanan Kabupaten Blitar. Kami juga terus mengobrol. Sesekali, Hati-Hati di Jalan yang dinyanyikan oleh Tulus terngiang di telinga.

Kami melewati sebuah desa yang asri, namun tak ingat nama desa ini. Kami juga melewati sebuah daerah yang di kanan-kiri jalan penuh dengan tumbuhan buah nanas. Ini pertama kalinya saya melihat tanaman nanas.

Saking percayanya sama peta daring, teman saya enggan bertanya pada warga sekitar arah ke Gunung Kelud. Hingga kami sampai pada sebuah jalan yang tak beraspal. Tanah liat becek. Kami juga melewati jalan berpasir yang dilalui oleh truk muatan tanah. Dalam kondisi seperti ini, saya mendapat giliran untuk mengendarai motor.

Baterai ponsel yang dari rumah terisi penuh, kala itu menunjukan angka 35% sesaat sebelum akhirnya kami memutuskan bertanya kepada penduduk sekitar. Usai mendapatkan titik terang, perjalanan berlanjut ke kawasan area wisata Gunung Kelud. Di sana banyak sekali penjual nanas. Harganya bervariasi, mulai dari Rp5.000 per ikat sampai Rp15.000 tergantung ukuran nanas. Banyak yang mengatakan bahwa nanas Kelud rasanya lebih manis dan segar. Saya belum sempat mencobanya.

Biaya untuk masuk wisata Gunung Kelud pada saat itu per orang sekitar Rp12.000. Dari loket tiket ke Gunung Kelud jaraknya masih cukup jauh. Butuh waktu sekitar sepuluh sampai lima belas menit untuk tiba di area parkir.

Parkiran mobil/Cindar Bumi

Parkiran mobil terletak pada bagian pertama. Di tempat parkir mobil ini pengunjung dapat membeli aneka makanan mulai dari makanan ringan hingga berat. Tersedia pula sate, bakso, soto, mie, nasi pecel untuk santap siang. Lalu, area parkir motor berada tak jauh dari sana. Waktu tempuhnya sekitar tiga sampai empat menit. Di sini tak ada warung. 

Untuk bisa sampai ke kawasan puncak Gunung Kelud, ada dua cara yang bisa ditempuh. Pertama, dengan jalan kaki dengan durasi sekitar 30-60 menit, tergantung kecepatan jalan masing-masing orang. Kedua, menggunakan ojek pulang-pergi dari parkiran sampai ke Puncak Kelud dengan tarif Rp25.000.

Jalan sudah beraspal, namun ada beberapa bagian yang belum. Pengelola membuat aliran air supaya ketika hujan, jalan tidak becek. Jalan juga tidak terlalu curam, bisa untuk treking tipis-tipis bagi kalian yang suka melakukan pendakian.

Hamparan bukit/Cindar Bumi

Kami memilih untuk jalan kaki sambil menikmati pemandangan. Hari itu sedang tidak banyak pengunjung, dalam perjalanan kami hanya menjumpai sekitar tiga rombongan. Dari sana, kami bisa melihat kota dari ketinggian, gunung, tebing, dan perbukitan. Sepanjang perjalanan, gerimis mengiringi. Sesekali kami singgah ke gazebo yang tersedia sembari beristirahat. Sesekali pula kami bertemu dengan bunga edelweiss yang tumbuh di pinggir jalan.

Setelah satu jam, barulah kami tiba di puncak. Selain terowongan yang menjadi rumah kelelawar, Danau Kawah Kelud tampak menawan dari sini. Berkali-kali berhenti, membuat waktu tempuh perjalanan bertambah. Sayangnya, ponsel saya mati saat itu. Tak banyak dokumentasi yang terabadikan. Sisa baterai yang ada akan digunakan untuk akses peta perjalanan pulang. Namun hikmahnya, perjalanan kala itu jadi lebih bermakna karena kami tidak sibuk dengan gawai masing-masing.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Beberapa kisah yang ingin disampaikan oleh Bumi

Beberapa kisah yang ingin disampaikan oleh Bumi
Artikel Terkait
Arah SinggahTravelog

Harap Cemas Penantian Mekko

Arah SinggahTravelog

Lontar, Kacang Hijau, dan Gula Sabu

Arah SinggahTravelog

Penganut Jingitiu dan Silat yang Hilang

Arah SinggahTravelog

Tenun yang Menghidupi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Worth reading...
Suka Duka di Balik Panen Raya