Travelog

Gunung Api Purba, Pesona dan Jalur Pendakian yang Tidak Purba

Semester ganjil telah menemui akhirnya di bulan Desember lalu. Sontak, para mahasiswa atau pelajar yang terlampau akrab dengan kelas daring dan tumpukan tugas menggunakan waktu tersebut untuk melepas penat. Saya dan teman-teman saya masuk ke dalam golongan tersebut. Kami merindukan tiupan udara segar, hamparan bukit dan lanskap hijau, cahaya matahari hangat, dan elemen lain yang punya kekuatan untuk menyembuhkan–atau bahasa populernya: healing. Status kami sebagai mahasiswa pecinta alam membuat destinasi outdoor menjadi tempat yang wajib untuk dikunjungi,  guna melepas penat setelah satu semester kuliah. Akhirnya, dengan perencanaan dadakan dan alat-alat panjat tebing dalam satu carrier, kami meluncur ke Gunung Api Purba Nglanggeran.

Gunung Api Purba Nglanggeran merupakan tempat yang cukup familiar di telinga saya. Tempat tersebut disebutkan dalam lagu Didi Kempot, dibawakan sebagai perihal yang penuh memori namun juga menyakitkan. Gunung setinggi 800 mdpl tersebut juga cukup sering digunakan sebagai tempat organisasi pecinta alam untuk melakukan latihan navigasi darat. Namun, kunjungan di akhir Desember tersebut merupakan kunjungan pertama saya ke gunung api purba. Sepeda motor melaju stabil di jalan Wonosari-Jogja yang sudah ramai tatkala hari masih pagi. Setelah sekitar 45 menit perjalanan dari Yogyakarta, kami sampai di loket Gunung Api Purba Nglanggeran.

Mulainya liburan akhir tahun dipertegas oleh bus wisata dan mobil yang bergantian memasuki lahan parkir. Pengunjung gunung api purba tidak hanya berupa anak-anak mapala berpakaian seadanya dan membawa carrier seperti kami, tetapi juga orang dewasa dan anak-anak berkaos kembaran. 

Beragamnya wisatawan di Nglanggeran mencerminkan posisi gunung tersebut sebagai lokasi wisata alam yang populer. Selain itu, Nglanggeran juga digadang-gadang sebagai tempat latihan untuk para calon pendaki yang ingin mendaki gunung-gunung yang lebih tinggi. Pantas saja tidak ada namanya sepi di gunung ini!

Biaya untuk masuk ke Nglanggeran terbilang terjangkau, yakni sebesar Rp15.000 per orang. Tarif parkir untuk sepeda motor hanya sebesar Rp2.000. Ramah untuk kantong, bukan? Berita yang bagus untuk kami para mahasiswa yang uang jajannya masih dijatah.

Setelah melakukan pengecekan logistik dan melengkapi barang bawaan, kami mulai mendaki di naik ke gunung api purba.

Popularitas Nglanggeran membuat gunung satu ini dihiasi berbagai gimik unik. Baru beberapa meter kami mendaki naik, kami melihat sejumlah spot foto unik didirikan di sisi jalan pendakian. Terdapat sebuah spot foto berupa sarang burung besar yang dapat ditempati oleh dua orang. Selain itu, ada juga batu besar yang dengan ukiran fosil dinosaurus di permukaannya. Tentu saja, untuk mempertegas status ‘purba’ di Gunung Api Purba Nglanggeran.

Kami pun tergelitik melihat spot foto tersebut. Terdapat juga beberapa fasilitas lain di Gunung Api Purba Nglanggeran selain spot foto tersebut, seperti kursi dari balok kayu hingga pendopo tempat beristirahat. Jalur pendakian pun dibuat nyaman untuk mendaki, terdiri dari batu-batu yang mudah ditapaki.

Jalur pendakian Gunung Api Purba sudah mulai ramah pemula/Dyah Sekar Purnama

Panorama dan ornamen yang disediakan oleh Gunung Api Purba Nglanggeran meniadakan kata ‘bosan’ dalam perjalanan kami. Mulai dari jalan setapak berbatu dengan bongkahan batu dan pepohonan tinggi di kanan-kiri, hingga tebing sempit yang diapit dua dinding batu raksasa. Kami ditantang dengan berbagai posisi mendaki dalam perjalanan ini. Mulai dari bisa mendaki tenang sambil bersenandung, hingga harus fokus memanjat dan memastikan kaki memijak batu yang tepat. Bahkan, saat melewati sebuah jalan yang sangat sempit, salah satu teman saya harus memanjat tebing batu untuk memindahkan carrier kami yang besar dan berat. Walaupun tidak terlalu tinggi, jalur pendakian Gunung Api Purba Nglanggeran tidak boleh diremehkan.

Kami memutuskan beristirahat sebentar di sebuah gubuk yang tersedia di persimpangan jalur menuju puncak. Di belakang gubuk tersebut tersaji pemandangan yang mengagumkan. Kami berdiri di sebuah bukit batu raksasa, dengan ujung menghadap ke arah Yogyakarta. Kota dan wilayah Gunungkidul terlihat seperti miniatur. Bentangan warna hijau turut mengapit miniatur kota tersebut, ditemani oleh kabut tipis yang menyelimuti lembut. 

Langit berwarna biru pucat, menyiratkan sedikit mendung siang itu. Namun langit yang tidak terlalu terik tersebut sangat nyaman bagi perjalanan kami serta bagus untuk diabadikan dalam foto. Ditambah, di sebelah kami terlihat jalan menuju puncak Gunung Api Purba Nglanggeran yang berupa bukit batu raksasa, lebih tinggi dari tempat kami berdiri. Terlihat begitu gagah di kamera. Tentu saja, kami tak mau ketinggalan untuk mengabadikan foto.

Tim terpisah menjadi dua ketika kami mulai melakukan summit attack alias pendakian menuju puncak. Hanya saya, teman saya bernama Oren, dan ketua mapala, Faqih, yang mendaki sampai puncak. Sementara itu, personil lain mengaku kalah dihajar medan Gunung Api Purba dan memilih beristirahat sebelum panjat tebing. Karena saat itu saya yang mengajak mereka pergi ke Gunung Api Purba, tentunya tidak afdol kalau saya tidak ikut ke puncak. Kami pun memulai perjalanan yang diperkirakan memakan waktu setengah jam tersebut. 

Perjalanan menuju puncak dapat dikategorikan level medium. Terdapat jalan sempit yang sulit dilewati, bahkan lebih sempit dibanding tebing yang kami lewati sebelumnya. Saat itu, Faqih pun mengalah dan memutuskan untuk menjaga carrier yang notabene tak bisa dibawa. 

Jalan selanjutnya cukup santai, berupa hutan dengan tanah humus yang setengah kering. Terdapat sedikit undakan dibentuk oleh batu dan akar pohon. Namun, saat tinggal beberapa meter dari puncak, jalur mengundang hati-hati dan fokus untuk meningkat. Kami harus memanjat tangga bambu yang terlihat rapuh, bahkan memiliki pijakan yang jarang-jarang. Setelah pemanjatan yang membuat jantung berpacu cepat, panorama indah membentang di hadapan kami.

Pemandangan dari titik tertinggi di Gunung Api Purba/Dyah Sekar Purnama

Puncak Gunung Api Purba Nglanggeran bisa digambarkan sebagai sebuah lahan luas dengan ujung berupa jurang. Puncak ini berupa gunung batu karst besar. Terdapat bendera Indonesia serta sebuah prasasti penanda berdiri di tengah-tengah puncak ini. Panorama berupa bukit-bukit batu, tebing batu, bukit menghijau, serta miniatur kota membentang di hadapan kami. Melihat tebing batu yang langsung menyambut dari tempat awal mendaki, saya langsung terbayang panorama ala film Jurassic Park

Angin berhembus cukup kuat, membawa udara dingin yang melepas lelah serta keringat kami. Banyak orang memilih duduk-duduk lebih lama, menikmati panorama dan udara segar. Saya dan Oren pun tidak ketinggalan untuk mengambil foto dengan latar belakang pemandangan indah tersebut. Namun, kami memutuskan tidak berlama-lama di puncak,agenda selanjutnya masih menunggu kami di bawah.

Tebing karst di Gunung Api Purba menjadi arena panjat tebing/Dyah Sekar Purnama

Morfologi Gunung Api Purba Nglanggeran yang terdiri dari batu karst membuat tempat ini cocok menjadi arena panjat tebing. Kami semua turun menuju pendopo yang kami temui di awal perjalanan. Di sana, terdapat sebuah dinding batu dengan banyak tonjolan dan beberapa lubang yang cocok untuk dijadikan tempat panjat tebing. Seusai makan siang, kami langsung memasang perlengkapan panjat tebing di tebing batu tersebut. Kami bergantian mencoba memanjat tebing batu yang terbilang ‘mudah dipanjat’ tersebut. 

Oh, tapi tidak bagi saya! Sebagai pemanjat pemula dan pencetak skor payah di divisi panjat tebing, saya sangat cupu dalam memanjat. Baru dua pijakan, saya sudah jatuh dalam tiga kali coba. Belum lagi bonus lecet di jari karena memegang tebing yang keras dan kasar. Namun, pengalaman tersebut menyenangkan untuk saya. Akan saya coba lagi dalam kesempatan berikutnya!

Jam menunjukkan pukul 16.00 saat kami mulai membereskan peralatan panjat. Barang-barang lain, seperti bekas makanan dan matras pun juga telah kami bersihkan. Kami memulai perjalanan pulang sebelum hari terlalu larut dan hujan turun. Sambil menuruni jalur pendakian, kami melontarkan candaan. Sore yang mulai dingin dihangatkan oleh tawa dan canda yang kami bagi bersama.

Dalam lingkungan mahasiswa pecinta alam, kami menyebut keakraban ini sebagai ‘keluarga’. Ah, saya jadi ingat lagu Didi Kempot yang diubah liriknya oleh salah satu teman seangkatan mapala. Lirik gubahan tersebut merepresentasikan keseruan hari tersebut, yang bunyinya, “Ademe gunung api purbo, isih kalah karo angete keluarga.”


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Dyah adalah seorang mahasiswi semester akhir di Yogyakarta. Kadang mengerjakan skripsi, kadang menulis, kadang memikirkan ide aksi lingkungan, kadang jalan-jalan, kadang bermimpi.

Dyah adalah seorang mahasiswi semester akhir di Yogyakarta. Kadang mengerjakan skripsi, kadang menulis, kadang memikirkan ide aksi lingkungan, kadang jalan-jalan, kadang bermimpi.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Menyusuri Lawang Sewu di ‘Kota Atlas’

    Travelog

    Mencari Sejarah yang Terkubur di Kuburan Londo, Sukun

    Travelog

    Menyambangi Gedung Sate Menjelang Momen Puncak Reformasi 1998

    Travelog

    Dari Jogja ke Blora, Melawat ke PATABA

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    Batu Runcing: Jejak Purba, Budaya yang Terlupa