Pilihan EditorTravelog

Gula Pedawa Pingit dan Senggait yang Aduhai

Saya kerap melakukan perjalanan singkat sendirian ke Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng untuk sekedar melepas penat dari hiruk pikuk Kota Denpasar. Namun kali ini saya bersama Satyawati, seorang teman perempuan yang berasal dari Jakarta. Mungkin tagline perjalanan kali ini, “Dua orang kota, ingin tersesat di desa.” Tapi tentu saja perjalanan ini tidak akan tersesat, sebab saya sendiri sudah berulang kali datang ke Desa Pedawa, bahkan saya memiliki keluarga kecil atau paling tidak keluarga yang saya anggap dekat karena setiap kali ke Pedawa saya selalu menginap di sana. 

Kami berdua berangkat hari Sabtu sepulang saya bekerja. Kira-kira pukul 14.00 WITA. Perjalanan normal ditempuh dalam waktu 3 jam menggunakan sepeda motor. Jaraknya kira-kira 85 km dari Kota Denpasar. Kami berdua meniatkan perjalanan santai sembari mengisi waktu di akhir pekan. Rencananya kami akan ngopi di Puncak Wanagiri sebelum ke Desa Pedawa.

Perlu diketahui bahwa Desa Pedawa termasuk Desa Bali Aga. Bali Aga sebutan bagi desa-desa tua dengan penduduk asli Bali. Desa ini memiliki kebudayaan, adat, serta keyakinan yang berbeda dari penduduk Bali pada umumnya. Selain itu Desa Pedawa memiliki gula aren yang sudah terkenal bagus kualitasnya. Saya akan membeli gula Pedawa untuk saya olah di Denpasar. Kebetulan saya dan beberapa kawan sedang mencoba meracik kopi susu gula aren yang lagi hits di kalangan anak muda Denpasar. 

Hujan di Puncak Wanagiri, Kopi dan Mie Kuah

Di Puncak Wanagiri/Jong Santiasa Putra

Perjalanan segera kami mulai. Dari Denpasar sampai Polres Badung atau Pasar Beringkit, Kabupaten Badung, kami berdua masih mendapati sejumlah titik kemacetan. Setelah itu, lempeng lurus makmur sampai tujuan. 

Puncak Wanagiri Buleleng adalah salah satu tempat asik untuk singgah para pejalan seperti saya ini. Setelah lelah dalam perjalanan, kita bisa istirahat sebentar di gazebo-gazebo pinggir jalan, pedagang di sana menyediakannya. Sambil menikmati kopi panas dan melihat pemandangan dua danau di depan kita, Danau Buyan dan Danau Tamblingan. 

Selain itu, daerah ini merupakan tempat favorit bagi turis untuk swafoto, ada tempat foto buatan penduduk sekitar. Spot-nya ada yang berbentuk menara, ada yang berbentuk sarang burung, ada yang berbentuk dermaga, dan lain sebagainya. Namun karena pandemi wisata swafoto ini sepi. Keadaannya pun terlihat tidak terawat.

Sayangnya hujan mengguyur sebelum sampai Puncak Wanagiri. Kami harus berjibaku melawannya. Hujan beberapa kali datang dan pergi. Namun di sisi lain, dua danau di depan kami sungguh elok nan indah. Dari riak-riak yang air hujan kami tahu datangnya arah hujan. Sungguh syahdu. Selain kopi kami juga memesan mie kuah telur ekstra cabai sembari menunggu reda. Sesekali ada sejumlah pengunjung datang, entah untuk berteduh atau memang sengaja datang untuk menikmati suasana. 

Rumah Bli Made dan Rujak Kelapa Muda 

Perjalanan berlanjut menuju Desa Pedawa. Kami tetap menggunakan jas hujan, jaga-jaga jika lebat tinggal terobos saja, tidak usah repot berhenti untuk memakai lagi. Kami berdua akan menginap di rumah kenalan—yang sudah saya anggap seperti keluarga. Ialah rumah Bli Made Saja, seorang penyair berbahasa Pedawa yang sajak-sajaknya bernuansa alam desa tempat ia tinggal.

Tenang saja, jalan menuju Desa Pedawa walaupun berliku namun sudah beraspal, jadi tidak menyulitkan meski kita mengendarai motor seperti saya ini. Udara sejuk, dingin, serta banyak pohon-pohon di sepanjang perjalanan. Tentu tidak akan membuat perjalanan membosankan.

Waktu itu saya dan Satyawati, asik membandingkan bagaimana kehidupan di desa dan kota. Terutama cara pandang terhadap hal-hal materialistik yang kadang kala jika terus dipenuhi, seringkali menyesatkan pandangan hidup. Maklum kami berdua ini sedari kecil sudah hidup di kota, bahkan tidak punya kampung untuk disinggahi. 

Tidak terasa kami pun sampai. 

Bli Made Saja ternyata sudah menunggu kedatangan kami, ia langsung menyambut dengan tawa karena kami memakai jas hujan. Terang saja di Pedawa belum turun hujan sedari pagi. Sementara kami datang dengan basah kuyup. Bli Made mempersilahkan kami duduk di pendopo rumahnya. Entah dari mana datangnya Bli Made datang membawa 2 kelapa hijau yang tampaknya baru saja dipetik. 

Saya dan Bli Made membuka kelapa dengan kapak, lalu menuangkannya dalam ketel. Mencampurkan dengan terasi, garam, cabai rawit yang sebelumnya telah diulek kasar, tidak lupa mengeruk daging kelapa muda agar lengkap rasanya. Seger tapi pedas, saya sih suka. Teman saya—Satyawati mengernyitkan alis.

“Inilah minuman pembuka di Pedawa, rujak kelapa muda,” tungkas saya menjawab kernyit alisnya itu. 

Rujak kelapa muda/Jong Santiasa Putra

Setelah minuman pembuka tandas tak tersisa, Ibu Bli Made Saja tanpa tedeng aling-aling mempersiapkan makan malam untuk kami berdua. Tapi porsinya sungguh berlebihan. Keluarga ini memang sangat senang saya datang, padahal sebelumnya saya sudah mengatakan agar tidak memasak apapun. 

Menunya ada sayur daun labu, pindang sambal bawang, sayur paku, pepes ikan laut, dan tentu saja sambel garam buatan Ibu Bli Made yang selalu menjadi favorit saya. Sebab  garamnya  tidak seperti garam di kota, teksturnya lebih besar dari yang biasa saya makan di daerah asal saya. 

Makan malam dari Ibu Bli Made/Jong Santiasa Putra

Usai menyantap hidangan tersebut, kami duduk santai di pendopo, menikmati udara dingin dan suara jangkrik yang bersahutan. Hal ini merupakan suasana yang sangat istimewa dan langka. Saya mengutarakan maksud saya kepada Bli Made Saja untuk membeli sekaligus melihat proses pembuatan gula aren Pedawa yang terkenal itu. 

“Pembuatan gula pedawa itu, agak pingit (sakral), aku tidak tahu apakah kita akan diberi izin untuk mengabadikan gambar. Kalau beli, aman. Sekarang aku kontak saudaraku.” Katanya serius sambil menatap wajah saya. 

Dari penuturan Bli Made, saya tahu kepingitan yang dimaksudnya. Bahwa jika petani berangkat ke ladang untuk mengiris jaka, petani tersebut tidak boleh disapa, karena hal tersebut dapat mempengaruhi kuantitas produksi getah. Di bawah pohon jaka juga tidak boleh dicabut rumput atau tanaman yang tumbuh serta tidak boleh mengabadikan proses pembuatan dari nira menjadi gula. Sehingga jarang ada yang mendapatkan foto proses pembuatan gula pedawa secara natural. 

Obrolanpun berlanjut dari seluk beluk gula Pedawa hingga produk olahannya, satu diantaranya bernama senggait. Makanan kecil dari parutan ubi jalar yang dicampur gula pedawa encer, kemudian dicetak berbentuk lingkaran kecil. Teksturnya seperti jaring-jaring bertumpuk dan berwarna coklat keemasan. Kudapan ini cocok untuk peneman minum  kopi di pagi hari. Rencana kami pun berubah, jika tidak mendapat proses pembuatan gula pedawa, mungkin kami akan mengunjungi tempat produksi senggait. 

“Senggait itu disebut juga cakar ayam, di tempat lain namanya sarang burung.” Kata Bli Made Saja menutup obrolan kami bertiga.

Kamipun beranjak tidur, karena jika obrolan berlanjut mungkin hingga esok hari topiknya tidak akan selesai. 

Melihat Proses Senggait 

Sinar matahari pagi menyusur halaman, saya terbangun saat mendengar obrolan Bli Made bersama kedua orang tuanya di luar kamar. Saya beranjak bersama Satyawati. Kami bersiap, mandi, dan lain sebagainya. Misi dilanjutkan menuju petani gula Pedawa. Rupanya Bli Made sudah mengontak beberapa kenalannya yang bekerja sebagai tukang iris getah jaka. 

Namun setibanya di rumah salah satu kawannya, ia tidak memasak gula hari itu karena hasil niranya belum terpenuhi. Kami langsung beranjak ke rumah kawannya yang lain. Ternyata sama, tidak memasak juga. Hingga akhirnya kami bertiga singgah di rumah  saudara Bli Made, Bli Kadek Susila Jaya. Bli Kadek juga tidak memasak gula siang itu, ia rencananya memasak gula pada sore hari. 

“Tunggu ya, tetangga sebelah lagi memasak gula. Saya coba tanyakan, apakah ia memperbolehkan kita memotret proses pembuatannya.” Kata Bli Susila memberi secercah harapan. 

Ternyata tetangga Bli Kadek tidak mengizinkan maksud saya. Benar kata Bli Made semalam, sejumlah petani di Desa Pedawa masih meyakini jika seseorang memotret proses pembuatannya, maka kualitas gula akan terpengaruh. Tapi tak apa, saya sebagai tamu harus menghormati segala bentuk keyakinan masyarakat Desa Pedawa. 

Kebetulan ketika saya datang, Bli Susila bersama istrinya sedang memproduksi jajan senggait. Saya melihat langsung proses pembuatannya, mulai dari memarut ubi jalar, lalu menggoreng dengan minyak panas, kemudian mencampurnya dengan gula pedawa. Setelah berwarna coklat keemasan, cepat-cepat adonan diangkat lalu dimasukan ke dalam cetakan kayu yang berbentuk lingkaran. 

Proses pembuatan Senggait/Jong Santiasa Putra

“Ini harus cepat-cepat dibeginikan, kalau tidak ubi jalar ini akan kaku,” ujar Bli Susila saat memasukan jajan ke cetakan. 

Kami bertiga disuguhi beberapa jajan senggait lengkap dengan kopi hitam panas. Perpaduan kopi panas dengan tekstur dan rasa senggait, saat bercampur di mulut adalah sensasi yang sangat khas. Berulang kali saya melahap senggait, berulang kali juga saya menyeruput kopi. Sampai-sampai Bli Susila menawarkan senggaitnya lagi untuk saya, aduh saya jadi malu. 

Pada kesempatan itu Bli Susila bercerita bisnis rumahan yang ia jalani, sebenarnya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain menitipkannya di warung sekitar desa Pedawa, ia juga mengirim hasil olahannya ke pasar Badung dan beberapa warung di Denpasar. Namun karena situasi pandemi, pengiriman ke Denpasar pun mandek, ia hanya membuat sedikit untuk di warung sekitar rumahnya saja. 

“Dulu, lumayan, setiap minggu saya ke Denpasar mengirim senggait ke pasar badung, tapi sekarang, susah.” Keluhnya. 

Semalam Bli Made ternyata mengontak Bli Susila agar menyiapkan gula pedawa pesanan saya. Saya membeli 20 kg gula Pedawa untuk kebutuhan di warung, serta beberapa bungkus senggait sebagai oleh-oleh untuk teman-teman. Setelah menunaikan obrolan, kami beranjak pamit.

Pukul 13.00 WITA, saya pulang ke Denpasar setelah sebelumnya makan siang di rumah Bli Made. Oleh ibu Bli Made saya juga dibekali sejumlah rebung dan 3 ikat besar batang kecombrang hasil kebun keluarga. 


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Pemuda dari Kota Denpasar, Bali. Suka menulis puisi, naskah teater, dan catatan perjalanan. Suka menulis di kedai kopi sembari ngobrol ngarul-ngidul dengan pemilik kedai.

Pemuda dari Kota Denpasar, Bali. Suka menulis puisi, naskah teater, dan catatan perjalanan. Suka menulis di kedai kopi sembari ngobrol ngarul-ngidul dengan pemilik kedai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Belajar Persatuan dari Soto Banjar