Interval

Film Horor dan Wisata Lokasi Syuting

Setelah lebih dari 2 tahun pandemi COVID-19 melanda Indonesia, tahun ini, saat curva menurun, pemerintah mulai mengizinkan sektor-sektor publik kembali beroperasi seperti biasa, termasuk bioskop. Salah satu genre film yang paling banyak ditonton adalah film horor.

Menurut data dari website Film Indonesia, posisi pertama dan kedua dalam perolehan jumlah penonton pada tahun 2022 ditempati oleh film bergenre horor yaitu “KKN Desa Penari” dan “Pengabdi Setan 2: Communion”. Bahkan film KKN Desa Penari berhasil mencatatkan rekor sebagai film horor dan film Indonesia terlaris sepanjang masa, menggeser posisi film sebelumnya, “Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1(2016)”.

Bisa dibilang, selama beberapa tahun terakhir, genre film horor menjadi salah satu genre yang paling diminati masyarakat Indonesia. Hal ini dimanfaatkan oleh para pembuat film hingga menjamurnya film-film horor yang ditayangkan di bioskop selama beberapa tahun terakhir. Uniknya, setelah filmnya ramai, para penonton film horor ini juga berusaha menyambangi lokasi-lokasi syuting dari film horor yang mereka tonton.

Film Horor Indonesia dari Waktu ke Waktu

Jika dibandingkan film horor barat, film horor Indonesia didominasi entitas gaib seperti hantu atau setan dibandingkan serial killer. Sosok-sosok hantu ini diperoleh  dari kepercayaan masyarakat Indonesia, bisa itu sosok yang diamini keberadaannya benar ada atau sosok imajinasi namun dekat dengan apa yang dipercaya masyarakat. Sejak dulu, banyak masyarakat Indonesia yang mempercayai dan meyakini keberadaan makhluk halus, kekuatan gaib, atau dunia supranatural yang mengandung hal mistik.

Budaya masyarakat yang seperti ini menurut Danandjaja tergolong sebagai bentuk folklor lisan. Dalam bukunya yang berjudul Folklor Indonesia tertulis bahwa folklor adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan turun-temurun, di antara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan alat pembantu pengingat (mnemonic device). Folklor di Indonesia masih terus melanggeng dari satu generasi ke generasi lain, makanya, tidak heran kalau film horor Indonesia dengan sosok hantu sebagai ciri khasnya masih terus eksis sampai saat ini. 

Dalam tulisan Film Horor Indonesia: Dinamika Genre, Suma Riella Rusdiarti memaparkan bahwa film horor hantu memenangkan dominasi atas horor psikologis. Film horor hantu pertama Indonesia yaitu “Tengkorak Hidoep” (1941) bercerita tentang monster yang bangkit dari kubur dan ingin balas dendam pada reinkarnasi orang yang telah membunuhnya. Sedangkan film horor psikologis pertama di Indonesia yaitu “Lisa” (1971) menampilkan seorang Ibu tiri yang meminta orang lain untuk membunuh anak tirinya. 

Pada perkembangannya, di era sebelum 2000-an, film horor Indonesia banyak bertemakan mitos dan legenda rakyat yang bersifat tradisional dengan sosok identik hantu perempuan. Pemeran hantu perempuan yang dikenal sebagai ratu horor Indonesia adalah Suzanna. Suzanna banyak membintangi film horor Indonesia selama tahun 70-80an, contohnya film “Beranak dalam Kubur” (1971). Sayangnya pada 90-an film horor Indonesia mengalami penurunan. Baru di tahun 2001 film Jelangkung berhasil membangkitkan kembali minat masyarakat terhadap film horor Indonesia. 

Ramainya film horor semakin terlihat di tahun 2006-2007. Perbedaan film horor setelah 2000-an terlihat pada tema cerita yang sudah bukan hanya tentang legenda tradisional, melainkan bergeser dengan dominasi hantu perkotaan atau urban legend. Meskipun fokus cerita bergeser menjadi kontemporer, sosok-sosok hantu yang menjadi bintang di film horor Indonesia tetap sama berasal dari cerita yang sudah tersebar dari mulut ke mulut seperti “Rumah Pondok Indah” (2006) atau “Hantu Jeruk Purut” (2006). Selain itu juga terdapat dua dominasi sosok hantu yang tetap sama  yaitu pocong dan kuntilanak. Sekitar tahun 2008-2009, unsur komedi mulai menjadi bumbu yang terlihat di film horor Indonesia, seperti pada “Tiren” (2008) dan “Hantu Jamu Gendong” (2009). 

Menurut hemat saya, era baru dari film horor Indonesia dimulai di tahun 2017. “Pengabdi Setan”, “Danur” dan “Sebelum Iblis Menjemput” merupakan beberapa film yang paling banyak ditonton masyarakat di tahun itu. Di era ini, film horor bukan hanya tentang cerita yang sebelumnya sudah tersebar di masyarakat secara lisan, muncul kreativitas baru, meskipun masih ada pula film yang diadopsi dari cerita rakyat namun dimodifikasi mengikuti minat pasar saat tahun pembuatan film. 

KKN desa penari
Poster film KKN di Desa Penari/ Instagram @kknmovie

Di era baru ini juga alur cerita film seakan menjadi nilai jual tersendiri, para produser mencoba membuat penonton semakin ketakutan dan penasaran dengan cerita film yang alurnya dibuat tidak mudah tertebak. Seakan merupakan sebuah peluang besar, rasa penasaran ini dimanfaatkan oleh para pembuat film untuk membuat alur menjadi teka teki untuk dilanjutkan pada sekuel berikutnya. Tidak jarang para penonton mencoba menganalisis teka-teki itu dan menerka-nerka alur cerita di sekuel selanjutnya.

Masyarakat Indonesia sepertinya memang tidak bisa dilepaskan dari kisah gaib atau spiritual. Pasalnya di tahun 2019, sebuah sebuah utas Twitter berjudul ‘KKN di Desa Penari’ yang ditulis oleh pengguna bernama ‘SimpleMan’ atau @SimpleM81378523l menjadi viral. Utas ini bercerita tentang sekelompok mahasiswa yang tengah melakukan program KKN (Kuliah Kerja Nyata) di desa yang ternyata masih memegang teguh budaya lokal, seperti mensakralkan beberapa tempat dan percaya dengan keberadaan leluhur desa.

Kisah ini disebut-sebut terinspirasi dari kisah nyata, namun ada beberapa hal yang dirahasiakan dan disamarkan untuk melindungi identitas tempat dan tokoh yang ada di dalamnya. Meskipun begitu, banyak masyarakat yang menerka-nerka lokasi kejadian. Kisah ini kemudian diproduksi kembali dalam bentuk buku dan film. Namun karena terhambat pandemi Covid-19, film KKN di Desa Penari baru dirilis di tahun ini.

Sebuah Destinasi Wisata

Ternyata rasa penasaran penonton tidak cukup terpuaskan dengan menonton film, mereka juga penasaran dengan lokasi syuting dari film yang mereka tonton. Tidak sedikit lokasi syuting film horor yang ikut menjadi populer dan banyak dikunjungi oleh masyarakat, terutama film horor beberapa tahun belakang. Entah alasan apa yang mendorong mereka untuk menyambanginya, apakah alasan mereka ingin membuktikan bahwa lokasi syuting tersebut memang benar horor atau ada alasan lain. Karena tidak jarang para pemain atau crew film menceritakan di media tentang pengalaman mereka mendapat gangguan horor selama syuting. Hal ini bisa saja mendorong para penonton untuk membuktikan langsung lokasi tersebut.

Lokasi syuting film horor yang ramai dikunjungi menjelma menjadi sebuah destinasi wisata. Misalnya rumah dinas di bawah kepemilikan PTPN VIII yang sudah lama tidak ditempati. Rumah ini kemudian dikenal sebagai ”Rumah Ibu” setelah menjadi lokasi syuting film Pengabdi Setan. Lokasi ini sekarang sudah berubah menjadi salah satu destinasi wisata di Pangalengan, Bandung. Masyarakat setempat juga memanfaatkan situasi ini untuk membuka peluang usaha, seperti membangun kios makanan dan menjadi tour guide.

Desain dan hiasan di dalam rumah yang bergaya khas kolonial Belanda ini masih dibuat sama seperti di film, termasuk foto seram sosok ‘Ibu’ yang menempel di dinding. Bahkan kadang pengelola menghadirkan orang yang berdandan seperti sosok hantu ”Ibu” di lokasi tersebut. Hal ini semakin menarik minat wisatawan yang penasaran untuk berkunjung, terlebih lokasi rumah juga dikelilingi oleh pemandangan alam yang indah. 

Rumah Susun di daerah Bintara Jaya, Bekasi Barat yang menjadi lokasi syuting film “Pengabdi Setan 2: Communion” yang baru rilis tahun ini juga berhasil menarik minat penonton untuk berkunjung. Rumah susun yang sebelumnya sudah 15 tahun terbengkalai kini ramai dikunjungi orang-orang yang penasaran. Berbeda dari ”Rumah Ibu” di Bandung, bangunan yang memiliki 15 tingkatan ini tidak menyajikan atraksi wisata yang dapat dijadikan objek bagi pengunjung yang datang. Bahkan dari info yang beredar pengunjung hanya diizinkan masuk sampai lantai 4, karena bangunan ini tidak 100% sempurna dan sudah banyak area yang rusak, sehingga takut terjadi hal yang tidak diinginkan.

Di lokasi ini, pengunjung hanya bisa berswafoto dengan latar rumah susun kosong sebagai objeknya. Meskipun begitu, hal ini tidak mengurangi rasa penasaran pengunjung terhadap lokasi ini, terlebih aksesnya yang mudah, tidak jauh dari jalan raya dan tepat berada di belakang pasar yang masih aktif. Sepertinya lokasi ini memang belum siap menjadi destinasi wisata namun sejauh ini ramainya pengunjung sudah sedikit banyak memberi dampak positif bagi para penjual di pasar.

Berbeda dengan lokasi syuting film KKN Desa Penari. Dari sekian lokasi syuting yang dipakai, Jembatan di kawasan wisata Plunyon Kalikuning, Cangkringan, Sleman merupakan lokasi yang paling banyak dikunjungi orang yang penasaran dengan jalan utama menuju Desa Penari di film tersebut. Lokasi ini sebelumnya sudah termasuk lokasi wisata, kemudian semakin terkenal dan semakin banyak wisatawan yang datang setelah filmnya ramai. Di media sosial, saya lihat banyak berseliweran video pemandangan lokasi ini. Dari jembatan ini, wisatawan bisa menikmati pemandangan hutan pinus, suara gemericik air sungai dan jika cuaca sedang bersahabat bisa melihat Gunung Merapi. 

Jembtan plunyon
Jembatan Plunyon lokasi syuting KKN di Desa Penari/Instagram @btn_gn_merapi

Dari fenomena wisata lokasi syuting film horor ini sebenarnya bisa dimanfaatkan menjadi sebuah tempat yang menguntungkan. Pengelola atau masyarakat sekitar bisa membuatnya menjadi destinasi wisata baru atau mengembangkan destinasi wisata yang sudah ada, atau bisa juga mengalihfungsikan tempat tersebut menjadi lebih bermanfaat terutama lokasi yang dulu terbengkalai atau yang sepertinya belum siap menjadi tempat wisata, seperti Rumah Susun di Bintara Jaya. Pasalnya, penonton sudah mengenal lokasi-lokasi tersebut, akan sayang jika tidak dapat dimaksimalkan menjadi tempat yang menguntungkan bagi pengelola atau masyarakat sekitar. Akan lebih baik jika pemerintah setempat juga ikut membantu pengembangan lokasi-lokasi ini, karena ini bisa saja menguntungkan bagi budaya dan ekonomi masyarakatnya.

Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.


Perempuan Jakarta yang tertarik dengan keindahan alam, budaya, dan cerita masyarakat Indonesia.

Perempuan Jakarta yang tertarik dengan keindahan alam, budaya, dan cerita masyarakat Indonesia.
    Artikel Terkait
    Interval

    Menelusuri Sejarah Bogor bersama Bogor Historical Walk

    Interval

    Mura Aristina dan Kisahnya di Candi Borobudur

    Interval

    Rifqy Faiza Rahman: Meniti Hidup dalam Ekowisata

    Interval

    Wisata Regeneratif, untuk Apa?

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Worth reading...
    Resensi ‘Interval: Esai-Esai Kritis Tentang Perjalanan dan Pariwisata’