Sebagai upaya pelestarian tradisi adat suku Malind (Marind) Anim, penguatan identitas budaya generasi muda, dan promosi pariwisata, Yayasan Kali Maro Bangkit kembali menyelenggarakan Festival Kali Maro pada 1–5 Oktober 2026. Festival budaya yang menginjak tahun keempat tersebut akan berlangsung di Taman Iman dan Budaya Gerbang Hati Kudus Yesus, Yonggo Dusun Sirapu, Kampung Urumb, Distrik Semangga, Kabupaten Merauke.
Festival yang diinisiasi oleh Yayasan Kali Maro Bangkit ini didukung oleh Kementerian Pariwisata, Wonderful Indonesia, Pemerintah Kabupaten Merauke, dan Pemerintah Provinsi Papua Selatan. Pada tahun ini, Festival Kali Maro IV mengusung tema “Anim-Ha: The Living River Civilization of Marind”, yang akan mengajak masyarakat Merauke maupun publik untuk menyelami, menghormati, dan merayakan Sungai Maro—yang membelah Merauke—sebagai pusat peradaban yang menghidupi masyarakat adat Malind Anim.
Festival Kali Maro IV masuk ke kalender Kharisma Event Nusantara 2026 bersama 124 event lainnya dari seluruh provinsi di Indonesia. Khusus di Tanah Papua, tahun ini terdapat total delapan ajang di enam provinsi. Selain Festival Kali Maro yang mewakili Papua Selatan, juga ada Biak Munara Wampasi, Festival Danau Sentani, Festival Kopi Papua (Papua); Festival Budaya Lembah Baliem (Papua Pegunungan); Timika Inside Festival of Art (Papua Tengah); Festival Roon Wondama (Papua Barat); dan Festival Pesona Raja Ampat (Papua Barat Daya).
bukan sekadar sebagai perayaan pesta budaya, melainkan juga sebagai ajang kolaborasi strategis antara Adat, Agama, dan Pemerintah—tiga tungku utama yang menjadi simbol kekuatan dan persatuan masyarakat di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan.


Harmoni Sejarah, Religi, dan Tradisi
Inisiatif besar pergelaran Festival Kali Maro pertama kali digagas secara mandiri oleh Pastor Paroki Wendu (RD Andreas Fanumbi) bersama Dewan Stasi dan Umat Paroki Wendu. Dalam rangka melanjutkan estafet penyelenggaraan perhelatan budaya ini secara berkelanjutan, didirikan Yayasan Kali Maro Bangkit sebagai lembaga penyelenggara utama event.
Melalui wadah tersebut, penyelenggaraan Festival Kali Maro memiliki tujuan besar. Tidak hanya menjadi momentum penting untuk merayakan dan melestarikan kekayaan tradisi luhur Suku Marind, tetapi juga menghormati jejak sejarah panjang pelayanan serta perjuangan misi Gereja Katolik yang menyusuri Sungai Maro hingga ke kawasan pedalaman Papua Selatan.
Lebih dari sekadar atraksi seni, Festival Kali Maro mengusung refleksi filosofis yang mendalam mengenai hubungan harmonis antara manusia dengan alam, tanah, serta laut pesisir Arafura yang telah melimpahkan kehidupan berupa sumber daya alam yang dimanfaatkan oleh masyarakat lokal. Festival ini menjadi sarana penting untuk memelihara semangat hidup berbasis “Cinta Kasih” serta mempererat ikatan persaudaraan antaretnis.
Selama lima hari festival, terdapat sejumlah aktivasi dan atraksi budaya yang menarik. Mulai dari penceritaan kilas sejarah asal-usul nama kota Merauke, pesta adat Dahun Anggai, pementasan kolaboratif kolektif seni dan budaya lokal maupun Nusantara, hingga stan-stan pameran ekonomi kreatif masyarakat. Berbagai potensi budaya dan ekonomi lokal akan ditampilkan dalam festival tersebut, mulai dari makanan tradisional, nyanyian dan tarian tradisional, hingga seni ukir.
Direktur Yayasan Kali Maro Bangkit, Jossefin Iriani Kewamijai, mengungkapkan bahwa persiapan festival melibatkan masyarakat Kampung Urumb sebagai tuan rumah. Mereka bekerja sama dengan masyarakat adat sekitar dari Kampung Matara, Waninggap Nanggo, dan wilayah Sirapu hingga Anasai. Tak terkecuali kelompok seniman yang bermukim di kawasan tersebut dalam pengerjaan stan-stan tradisional.
Jossefin menambahkan, Festival Kali Maro tidak hanya menjadi ajang pertunjukan, tetapi juga merupakan upaya menjaga dan melestarikan budaya serta memperkuat jati diri masyarakat asli Merauke. “Kami ingin budaya masyarakat asli Marind tetap ditampilkan dan dijaga, sehingga masyarakat di luar dapat melihat bahwa budaya suku asli Papua tetap terpelihara, begitu juga dengan budaya suku-suku lainnya,” katanya, seperti dikutip di situs resmi Pemerintah Kabupaten Merauke (26/8/2026).
Semangat Persatuan dalam Empat Pilar Utama
Festival Kali Maro IV bertujuan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai tradisi masa lalu bagi generasi muda dalam konteks pembangunan modern. Secara menyeluruh, perhelatan festival ini mengusung empat fungsi dan pilar utama, yaitu peningkatan ekonomi lokal dan kesejahteraan masyarakat, pengembangan kebudayaan, pengembangan seni lokal, dan penumbuhan kesadaran ekologis perihal pelestarian lingkungan—terutama ekosistem sungai, pantai, dan lingkungan hidup secara berkelanjutan.
Melalui serangkaian kegiatan menarik, edukatif, dan sarat akan atraksi budaya lokal, Jossefin berharap Festival Kali Maro tidak hanya menjadi kebanggaan warga Papua Selatan, tetapi juga seluruh masyarakat Papua dan daerah-daerah lainnya di Indonesia. Ia juga menitip asa di masa depan, agar festival ini terus bertransformasi menjadi event tahunan berskala nasional yang selalu dinantikan oleh wisatawan domestik maupun mancanegara.
Melalui Festival Kali Maro 2026, diharapkan semangat persatuan “Izakod Bekai Izakod Kai”—satu hati, satu tujuan—tidak hanya berhenti begitu festival usai. Kolaborasi multipihak dalam mendukung dan melindungi masyarakat adat Malind Anim maupun suku-suku lainnya diperlukan untuk menjaga alam, warisan pengetahuan dan kebudayaan leluhur, serta toleransi dan kehangatan persaudaraan masyarakat Merauke.
Narahubung:
Jossefin Iriani Kewamijai (Yayasan Kali Maro Bangkit)
+62-812-4833-3905
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.


