Bogor selalu memiliki dua wajah yang kontras. Wajah pertama adalah keriuhan kota dengan deretan pusat perbelanjaan dan kemacetan jalur Puncak Pass yang legendaris. Namun, wajah kedua adalah sebuah rahasia yang tersimpan rapi di sisi timur Kota Bogor.
Sebuah wilayah bernama Sukamakmur, Kabupaten Bogor menawarkan keheningan, jalanan yang menantang adrenalin, serta bentang alam yang seolah belum tersentuh oleh tangan modernitas. Di sinilah, petualangan dimulai untuk menggapai Puncak Khayangan dan melihat simfoni air di Curug Sejoli.


Perjalanan menuju Sukamakmur
Perjalanan menuju Sukamakmur bukan untuk mereka yang ragu. Jika berangkat dari arah Jakarta atau Depok, rute paling umum adalah melalui Sentul City, kemudian mengarah ke Babakan Madang dan terus menanjak melewati rute perkampungan menuju Kecamatan Sukamakmur. Alternatif lain bagi warga Bekasi atau Cibubur adalah melalui jalur Jonggol.
Jarak tempuh dari pusat kota Jakarta berkisar antara 60 hingga 75 kilometer. Meski terdengar dekat, jangan tertipu oleh angka. Waktu tempuh normal bisa mencapai 2,5 hingga 3,5 jam karena medan yang menantang.
Begitu melewati area Pasar Sukamakmur, aspal mulai menyempit dan sudut elevasi meningkat tajam. Tikungan tajam yang bersanding dengan jurang dalam menuntut konsentrasi penuh. Namun, setiap keringat dan raungan mesin kendaraan terbayar lunas saat mata menangkap hamparan sawah terasering yang hijau, menyerupai anak tangga raksasa yang menuntun menuju ketenangan.
Jika berniat untuk tektok, usahakan datang lebih pagi agar dapat menikmati jalur pendakian dengan tenang dan nyaman. Makin siang, jalur pendakian makin ramai, sehingga perlu kesabaran ekstra untuk menapakinya.


Puncak Khayangan
Terletak di ketinggian 1.420 mdpl di kawasan Desa Wargajaya, tempat ini merupakan titik pandang paling ikonik di bagian timur Kabupaten Bogor. Begitu menapakkan kaki di sini, kita akan mengerti mengapa nama Khayangan disematkan. Dalam mitologi, khayangan adalah tempat tinggal para dewa yang indah, sehingga berdiri di sini memberikan sensasi serupa.
Untuk urusan biaya, tempat ini sangat ramah di kantong. Harga tiket masuk hanya berkisar antara Rp15.000–20.000 per orang, dengan tarif parkir motor sekitar Rp5.000 dan mobil Rp10.000. Semua informasi terbaru soal pendakian Puncak Khayangan dan Curug Sejoli bisa didapatkan melalui Instagram @gunung_khayangan_cipamingkis.
Perjalanan menuju Puncak Khayangan dapat ditempuh kurang lebih 1–1,5 jam. Sehingga, perlu disiapkan stamina yang prima, karena banyaknya tanjakan yang memaksa dahi mencium lutut.




Mata cai atau sumber air Kahuripan di tengah jalur pendakian (kiri) dan Tanjakan Naga Merah yang cukup populer di trek menuju Puncak Khayangan/Dodik Suprayogi
Untuk menuju puncak, kita akan melewati tiga pos peristirahatan, masing-masing berjarak kurang lebih 300–500 meter. Sedangkan jarak antara summit dengan Curug Sejoli kurang lebih 580 meter. Di sini kita akan dihadapkan oleh beberapa tanjakan yang cukup menyiksa saluran pernapasan, yaitu Tanjakan Naga Merah dan Tanjakan Jakatarub.
Jika beruntung, fenomena gulungan awan akan menyambut. Lembah-lembah di bawah gunung hilang tertutup gumpalan kabut putih yang tebal, menyisakan puncak-puncak bukit kecil yang tampak seperti pulau hijau yang terapung.
Semburat cahaya matahari yang mulai membelah mendung menciptakan efek cahaya yang dramatis. Di sini, udara bersih yang mengisi paru-paru terasa seperti kemewahan yang tak ternilai harganya dibanding oksigen berpolusi di kota besar.


Curug Sejoli
Setelah puas bercengkerama dengan awan, saatnya mendinginkan raga. Tak jauh dari Puncak Khayangan terdapat pintu masuk menuju Curug Sejoli. Jika Puncak Khayangan adalah tentang kemegahan langit, maka Curug Sejoli adalah tentang keintiman bumi.
Nama sejoli diambil dari penampakan dua aliran air terjun yang jatuh berdampingan di satu dinding tebing yang sama. Layaknya sepasang kekasih, kedua aliran ini tidak saling mendahului, mengalir tenang menuju kolam alami di bawahnya.
Curug Sejoli satu rute dengan Puncak Khayangan, jadi tidak perlu membayar tiket dua kali. Medannya cukup menantang karena didominasi oleh tanah dan bebatuan alami yang curam. Waktu tempuh jalan kaki memerlukan 15–20 menit. Saat berangkat, jalur menurun akan terasa mudah, tetapi siapkan stamina ekstra untuk perjalanan pulang yang sepenuhnya menanjak.




Jembatan kayu Gawir Asri (kiri) dan trek menurun curam menuju Curug Sejoli/Dodik Suprayogi
Setibanya di bawah, rasa lelah akan menguap begitu saja. Dinginnya menembus kulit, tetapi memberikan kesegaran yang menghidupkan. Berbeda dengan air terjun di kawasan Sentul yang sering ramai, Curug Sejoli masih mempertahankan wajah aslinya.
Dinding tebingnya dihiasi lumut hijau subur dan tanaman merambat, menciptakan suasana asri yang sesungguhnya. Berdiri di bawah jatuhan airnya terasa seperti mendapatkan pijat alami dari alam, meluruhkan sisa-sisa penat yang menumpuk di pundak.
Jika sudah puas menikmati puncak dan kesegaran curug, siapkan kembali fisik untuk turun menuju base camp yang berjarak hanya sekitar 1,62 kilometer. Sembari membawa cerita mengasyikkan yang menarik untuk dituturkan ke rekan-rekan kerja.


Tips Logistik dan Keamanan
Eksplorasi ke Puncak Kayangan dan Curug Sejoli membutuhkan persiapan yang berbeda dibanding sekadar jalan-jalan ke mal. Berikut adalah panduan ringkasnya:
1. Kesehatan kendaraan
Ini adalah poin paling krusial. Pastikan rem dan ban dalam kondisi prima. Turunan di Sukamakmur saat pulang sangat panjang dan curam, berisiko membuat rem panas jika tidak hati-hati.
2. Perlengkapan
Gunakan pakaian (outfit) yang nyaman dan alas kaki dengan daya cengkeram (grip) yang kuat. Jalur menuju curug bisa sangat licin setelah hujan. Bawa baju ganti, karena godaan untuk menceburkan diri ke Curug Sejoli sangat sulit ditolak.
3. Waktu
Datanglah saat hari kerja (weekday) jika memungkinkan. Kita akan merasa memiliki seluruh tempat ini sendirian. Jika weekend, usahakan pagi buta sudah sampai lokasi.
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Sedikit langkah, banyak cerita. Lahir pada masa krisis moneter terjadi (98), gemar berpetualang, bermain benih dan pupuk tanaman. Menulis untuk esksistensi dan warisan anak cucu.


