Travelog

Eksplorasi Mengulik Keunikan Pulau Nyamuk di Karimunjawa

Setelah empat hari kami mengeksplorasi keindahan bawah laut Pulau Karimunjawa, masih dalam rangkaian Ekspedisi Layar Biru Karimunjawa, pada Selasa (19/10/2021) kami melanjutkan perjalanan menuju Pulau Nyamuk. Dua instruktur tetap mendampingi untuk aktivitas penyelaman kami.

Kami berangkat dari dermaga Pulau Karimunjawa menggunakan KM Bawana Nusantara 98. Kapal ini berlayar setiap pukul 13.00 WIB pada hari Senin, Selasa, Jumat, dan Sabtu, dengan rute Pulau Karimunjawa–Pulau Parang–Pulau Nyamuk. Adapun jadwal rute sebaliknya adalah hari Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu setiap pukul 17.00. Meski tidak terlalu besar, kapal dengan harga tiket Rp37.000 per orang ini memiliki fasilitas tempat duduk, toilet, televisi, dan ruang kargo untuk barang penumpang.

Eksplorasi Mengulik Keunikan Pulau Nyamuk di Karimunjawa
Tampak depan ruang nakhoda kapal KM Bawana Nusantara 98 yang mengantar kami ke Pulau Nyamuk/Lya Munawaroh

Perjalanan ke Pulau Nyamuk memakan waktu selama tiga jam. Untuk menghilangkan kejenuhan, aku berpindah ke bagian depan kapal yang merupakan area terbuka. Sewaktu akan duduk, seorang bapak paruh baya menyapaku. Setelah bertegur sapa menanyakan asal daerah dan tempat tujuanku, kami pun berbincang agak lama. 

Bapak itu bercerita kalau ia berasal dari Pulau Parang. Saat ini bekerja sebagai pegawai negeri dan sedang ingin pulang kampung. Katanya, ia sering melakukan perjalanan laut seperti ini sewaktu sekolah dulu. Cuma bedanya dahulu perjalanan keluar pulau masih sulit dan perlu biaya besar, apalagi transportasi macam kapal KM Bawana Nusantara 98 belum ada. Berdasarkan informasi, ternyata KM Bawana Nusantara baru beroperasi pada 2021. Sebelum itu, untuk menuju Pulau Nyamuk atau Pulau Parang biasanya masyarakat menyewa kapal nelayan dengan tarif mulai dari 700 ribu sampai 1 juta rupiah. 

Perjalanan kami tak terasa membosankan, karena pemandangan pulau-pulau Karimunjawa begitu memanjakan mata. Sore hari, kami akhirnya tiba di Pulau Nyamuk. Suasana dermaga saat itu sangat ramai. Terlihat banyak anak kecil melompat dan berenang dengan gembira. Banyak pula kuli panggul, hingga ibu-ibu berdaster sambil menggendong anak, yang tampak sedang menunggu kedatangan kapal.

Yang kurasakan pertama kali setibanya di pulau ini adalah keramahan warganya. Mereka menyambut sangat baik kepada para pengunjung atau pendatang. Kami dijemput salah seorang warga dengan menggunakan kendaraan motor roda tiga merek Tossa. Kami diantar menuju rumah Bu Faristiana, posko tempat kami menginap selama tiga hari kegiatan di pulau ini. Saking baiknya, beliau dengan sukarela meminjamkan rumahnya tanpa memungut biaya. Sebagai ganti kami hanya perlu memesan makanan selama kami di rumahnya.

  • Eksplorasi Mengulik Keunikan Pulau Nyamuk di Karimunjawa
  • Eksplorasi Mengulik Keunikan Pulau Nyamuk di Karimunjawa

Hanya Ada Satu Desa di Pulau Nyamuk

Seusai membereskan barang-barang, kami berkunjung ke rumah petinggi atau kepala Desa Nyamuk. Kami bermaksud meminta izin untuk melaksanakan kegiatan di desa ini. Meski sebelumnya kami telah berkomunikasi melalui telepon, tetapi sudah sepantasnya kami menemui beliau secara langsung, sekaligus agar bisa mengulik lebih dalam mengenai desa ini.

Desa Nyamuk adalah satu-satunya desa yang ada di pulau seluas 139,5 ha tersebut. Terdapat total 649 jiwa penduduk dengan 222 kepala keluarga, yang terbagi menjadi empat RT dan dua RW. Secara administrasi, Desa Nyamuk termasuk wilayah Kecamatan Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah. Desa ini berdiri sejak tahun 2011 yang merupakan pemekaran dari Desa Parang di Pulau Parang.

Desa Nyamuk dipimpin Bapak Muaziz, yang menjabat sejak 28 Desember 2020 dengan masa akhir jabatan Desember 2024. Pak Muaziz adalah petinggi pengganti dari petinggi sebelumnya yang telah meninggal. Beliau dipilih secara PAW (pemilihan antar waktu), yaitu pemilihan yang hanya melibatkan beberapa tokoh masyarakat, seperti perangkat desa, BPD, tokoh pendidikan, dan tokoh agama.

Kami sangat penasaran dengan asal mula nama Pulau Nyamuk. Atas saran Pak Muaziz, kami menemui seorang perangkat desa yang mengetahui sejarah Pulau Nyamuk. Jika mengacu informasi di internet, pulau ini dinamakan demikian karena bentuknya yang kecil seperti nyamuk. Namun, ternyata ada versi yang lain.

Dari wawancara kami bersama seorang perangkat desa, terungkap bahwa penamaan Pulau Nyamuk berasal dari singkatan “Nyantri Mukti”. Nyantri Mukti diartikan sebagai bakti seorang santri kepada gurunya. Dahulu ada seorang sunan yang menyuruh santrinya menimba ilmu di suatu pulau. Pulau yang ditempati santri tersebut kemudian dikenal dengan Pulau Nyamuk. Cerita tersebut diperkuat dengan adanya petilasan sebuah sumur wali, yang di sekitarnya terdapat makam Syekh Abdullah atau Mbah Sumur Wali.

Eksplorasi Mengulik Keunikan Pulau Nyamuk di Karimunjawa
Instalasi panel surya di Desa Nyamuk/Lya Munawaroh

Keterbatasan Fasilitas di Desa Nyamuk

Setelah mewawancarai perangkat desa, sebelum petang kami menyempatkan jalan-jalan menelusuri pulau. Para anak kecil Pulau Nyamuk sangat antusias mengantar kami ke sebuah pantai yang tak jauh dari posko. Sebelum mencapai pantai, kami melewati area panel surya yang tak terlalu luas. Panel surya inilah yang menjadi sumber listrik utama di Desa Nyamuk yang dibangun pada 2016. 

Sepetak sumber energi surya ini, tentu belum cukup memenuhi kebutuhan listrik semua warga. Penggunaannya pun masih dibatasi untuk setiap kepala keluarga, yakni hanya sebesar 1.500 kWh per bulan. Jika penggunaan habis pakai biayanya sebesar Rp90.000, sedangkan untuk pengisian ulang listrik dijadwalkan setiap pukul 14.00 WIB.

Desa Nyamuk berada di pulau terluar dari gugusan Kepulauan Karimunjawa dan berada di tengah laut lepas antara Jawa–Sulawesi. Selain keterbatasan pasokan listrik, fasilitas lainnya, seperti transportasi, pendidikan, serta kesehatan juga masih minim. Transportasi kapal yang memadai saja baru ada pada tahun 2021. Apalagi dari segi fasilitas pendidikan. Desa Nyamuk hanya memiliki satu sekolah, yaitu SDN 03 Parang. Setelah anak-anak lulus SD, mayoritas orang tua mengirim anak mereka untuk menempuh pendidikan di pondok pesantren di kota Jepara atau kota lainnya.

Untuk fasilitas kesehatan, di Desa Nyamuk hanya ada satu bidan desa dan satu bidan dari pemerintah daerah. Keadaan ini tentu menyulitkan masyarakat ketika ingin berobat. Adapun fasilitas ibadah hanya ada satu masjid dan tiga musala yang tersebar di tiga RT.

Di desa ini belum ada tempat ibadah umat agama lain, karena hampir seluruh penduduk Pulau Nyamuk beragama islam. Latar belakang sukunya beragam, mulai dari Madura, Bugis, Buton, dan Jawa sebagai mayoritas. Meskipun merupakan desa kecil, tetapi Desa Nyamuk memiliki potensi wisata yang tak kalah dengan desa lain di Kepulauan Karimunjawa. Desa Nyamuk memiliki pantai-pantai yang indah dengan panorama matahari terbit dan tenggelam.

Kata Pak Muaziz, mulai tahun 2021 pemerintah desa sudah bekerja sama dengan salah satu dosen Universitas Diponegoro untuk memetakan potensi wisata di pulau ini. Kerja sama tersebut tentu diharapkan dapat meningkatkan minat wisatawan untuk mengunjungi Desa Nyamuk.

Fakta Menarik Lainnya di Desa Nyamuk

Selama menelusuri dan mengamati Desa Nyamuk, kami menemukan fakta-fakta menarik. Selain ramah, masyarakat Desa Nyamuk juga kental dengan budaya gotong royong. Hal itu sebenarnya sudah kami amati saat di dermaga. Semua warga saling membantu dalam aktivitas bongkar muat barang ketika kapal telah tiba atau akan berangkat. Kegiatan gotong royong juga dilakukan ketika membangun tower Wifi bersama.

Fakta menarik lainnya, di desa ini kebanyakan kendaraan bermotor tidak mempunyai plat nomor. Kami berasumsi, itu karena akomodasi dari Desa Nyamuk menuju pusat pemerintahan Karimunjawa cukup jauh dan harus menyeberang beberapa kali. Sehingga mungkin saja sebagian warga desa enggan untuk mengurus syarat administrasi kepemilikan kendaraan bermotor. Alasan lainnya, bisa saja karena di desa ini kecil kemungkinan adanya kasus pencurian serta tidak adanya razia dari polisi. Mereka sering meninggalkan kunci motor mereka di motor tanpa merasa takut.

Di Desa Nyamuk hampir setiap rumah memiliki gazebo pribadi dan terpasang hammock di depan rumah. Kalau fakta yang ini tak begitu mengherankan, karena cuaca di sini ketika siang hari sangat terik dan panas. Daripada berada di dalam rumah menahan gerah, akan lebih nyaman bagi masyarakat Desa Nyamuk bercengkerama dengan keluarga atau beristirahat setelah melaut, sambil merasakan terpaan angin sepoi-sepoi.

Fakta selanjutnya, masyarakat Desa Nyamuk dalam mengakses internet sangat bergantung pada WiFi. Itu karena hanya jaringan seluler yang kuat, seperti Telkomsel yang memiliki sinyal di desa ini. Setiap rumah di desa ini pasti memiliki WiFi, tetapi ada juga WiFi umum yang dipasang di Balai Desa Nyamuk. Namun, kabarnya dalam kurun waktu terdekat provider Telkomsel akan dibangun dan dikembangkan di Pulau Nyamuk. 

Hal penting selanjutnya yang membuatku kagum adalah desa ini bersih dan asri. Selama kami mengelilingi desa, hampir setiap halaman rumah warga sangat bersih dan hampir tidak ada satu helai daun di teras rumah. Padahal ada banyak pohon tumbuh subur di depan rumah. Sesuatu yang sederhana, tetapi sangat hebat karena belum tentu bisa diterapkan oleh kami sebagai mahasiswa yang bergelar pencinta alam.

Fakta terakhir, karena dikelilingi oleh lautan luas, Desa Nyamuk menyimpan hasil laut melimpah. Tak heran jika mayoritas penduduk bekerja sebagai nelayan. Meskipun begitu, beberapa penduduk juga ada yang berkebun dan beternak. Selain hasil laut, kondisi tanah desa ini juga sangat subur. Beberapa tumbuhan dapat tumbuh baik, seperti mangga, kelapa, dan tanaman rambat lainnya. 

Setiap sisi Desa Nyamuk memang unik dan menarik. Kekhasan potensi dan keramahan warga desa bisa menarik minat pengunjung untuk singgah di pulau ini dengan tujuan berlibur atau melakukan kegiatan sosial. Berbagai upaya juga masih terus dilakukan oleh pemerintah setempat dan penduduk sekitar untuk membuat desa ini lebih maju lagi.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Lya tinggal di Tuban Jawa Timur. Fresh graduate jurusan fisika, tetapi suka sastra. Pengen jadi perempuan petualang, keluar dari zona nyaman dan mencoba hal-hal baru.

Lya tinggal di Tuban Jawa Timur. Fresh graduate jurusan fisika, tetapi suka sastra. Pengen jadi perempuan petualang, keluar dari zona nyaman dan mencoba hal-hal baru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Dari Sungai Klawing ke Serayu, Mengarung Tanpa Ragu