Itinerary

Catatan Ekspedisi 200 Tahun Karimunjawa

Ekspedisi 200 Tahun Karimunjawa, 8-14 Mei 2018, telah usai. Kegiatan itu diikuti oleh masyarakat Kepulauan Karimunjawa, sejarawan, penulis, blogger, fotografer, dan videografer. Saya termasuk salah satu di antara anggota ekspedisi.

Selama tujuh hari, saya bersama rekan-rekan lain menggali cerita dari sepuh-sepuh di empat pulau, yakni Karimunjawa, Kemujan, Mrican, dan Genting. Yang kamu baca ini adalah coretan-coretan kecil informasi yang saya dapat selama Ekspedisi 200 Tahun Karimunjawa.

ekspedisi 200 tahun karimunjawa

Tim Ekspedisi 200 Tahun Karimunjawa/Tim Ekspedisi

Tiga-puluh pulau

Karimunjawa bukanlah sebuah pulau, melainkan gugusan kepulauan yang terdiri dari 27 pulau kecil yang terletak di Laut Jawa.ยน

ekspedisi 200 tahun karimunjawa

Suasana Pulau Genting yang masih sepi/Tim Ekspedisi

Pulau-pulau tersebut adalah Karimunjawa, Kemujan, Nyamuk, Parang, Genting, Menjangan Besar, Menjangan Kecil, Cemara Besar, Cemara Kecil, Geleyang, Burung, Bengkoang, Kembar, Katang, Krakal Besar, Krakal Kecil, Sintok, Mrican, Tengah, Pinggir, Cilik, Gundul, Seruni, Sambangan, Cendekian, Kumbang, dan Mencawakan (atau Menyawakan).

Tiga pulau di antaranya, yakni Karimunjawa, Kemujan, dan Mrican, sekarang sudah terhubung lewat jalur darat.

Kepulauan yang damai dan menjanjikan

Menurut cerita dari para sepuh di Karimunjawa, sejak dulu Karimunjawa adalah kepulauan yang damai dan tanah yang menjanjikan. Karena itu banyak kapal yang berlabuh untuk mengangkut kayu-kayu hasil mbalok (mencari kayu) untuk dikirim ke Jepara atau daerah-daerah lain.

ekspedisi 200 tahun karimunjawa

Galangan kapal di Pulau Genting/Tim Ekspedisi

Namun, lama-lama banyak orang yang dahulunya hanya singgah kemudian menetap di Karimunjawa. Sekarang, jejak-jejak masa lalu itu bisa kamu lihat pada rumah-rumah panggung dari kayu yang tersebar di Pulau Kemujan.

Masyarakat Karimunjawa berasal dari beragam suku. Enam suku utama yang mendiami Karimunjawa adalah Bugis, Jawa, Madura, Bajo, Mandar, dan Buton. Salah satu kekayaan budaya Karimunjawa adalah sebuah tradisi bernama Barikan (Barikan Kubro), sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil bumi dan laut.

Berladang dan bertani

Karimunjawa sejak dulu jadi primadona nelayan dan pelaut. Namun, selain jadi produsen hasil laut, Karimunjawa juga pernah jaya sebagai penghasil kopra dan gaplek (olahan singkong) untuk dikirimkan ke daerah lain seperti Jepara.

ekspedisi 200 tahun karimunjawa

Kandang ternak di Pulau Genting/Tim Ekspedisi

Pada masanya, Kepulauan Karimunjawa juga memproduksi jagung, kacang, dan hasil ladang lain yang menjadi makanan pokok penduduk kala itu. Areal persawahan, satu-satunya, dapat dijumpai di deerah Cik Mas, sementara pohon kelapa yang berbanjar dapat ditemukan di penjuru kepulauan.

Kejayaan pertanian Karimunjawa itu adalah muara dari perjuangan nenek moyang yang dengan penuh perjuangan membuka lahan. Mereka harus menghadapi berbagai risiko, seperti penyakit atau serangan ular edor yang mematikan. Namun, justru kebersamaan dalam membuka lahan itulah yang kemudian membuat masyarakat Karimunjawa saling menghormati dan menjaga tradisi gotong royong.

Listrik dan transportasi

Sekarang, listrik di Karimunjawa sudah mengalir 24 jam. Keadaan sudah jauh lebih baik ketimbang dulu (2004-2016) saat listrik hanya tersedia selama 12 jam dalam sehari.

ekspedisi 200 tahun karimunjawa

Rumah Bugis di Ds. Telaga, Kemujan/Tim Ekspedisi

Akses transportasi menuju Karimunjawa juga sudah lebih mudah. Selain kapal ferry (7 jam perjalanan) sudah ada kapal cepat yang hanya memerlukan waktu sekitar 2 jam untuk mencapai Karimunjawa.

Fasilitas listrik dan akses transportasi yang semakin membaik itu membuat Karimunjawa semakin ramah wisatawan. Karimunjawa yang dahulu sepi, sekarang ramai oleh pelancong, terlebih di akhir pekan.


[1] 20/05/18. Ralat: sebelumnya ditulis bahwa menurut para sepuh, pulau di Karimunjawa ada 30, sementara jumlah sebenarnya adalah 27.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Artikel Terkait
ItineraryPerjalanan Lestari

Q&A: Extinction Rebellion Indonesia tentang Ancaman Krisis Iklim

ItineraryNusantarasa

Menyantap Tiram Bakar Khas Barru

Itinerary

Masjid Menara Kudus, Kemegahan Arsitektur Kuno Warisan Sunan Kudus

Itinerary

Museum Layang-Layang Indonesia: Merawat Keelokan Budaya dengan Permainan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.