Travelog

Curug Malela, Niagara Mini di Jawa Barat

Semilir angin pegunungan berhembus membuat pucuk daun pepohonan menari-nari sewaktu kami bertiga sampai ke pelataran parkir kawasan Curug Malela, di Desa Cicadas, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat setelah menempuh perjalanan hampir empat jam dari Kota Bandung.

Suasana masih tampak lengang pagi menjelang siang hari itu. Setelah melepas lelah di sebuah warung sederhana, yang dikelola oleh salah seorang penduduk setempat, kami pun mulai melangkahkan kaki menyusuri jalan setapak yang menurun. Beberapa kali kami harus melangkah perlahan karena jalan yang kami lalui agak berlumpur dan menjadikan kondisi sedikit licin. 

Langit membiru. Tatkala berada pada ketinggian tertentu, kami melihat dengan jelas hamparan petak-petak sawah yang sangat khas. Dan nun jauh di bawah sana, terlihat aliran air terjun, yang menggoda kami untuk segera mendekatinya.

Saat tengah menuruni jalan setapak, kami sempat bertemu dengan sekelompok pesepeda yang sedang beristirahat. Mereka hendak pula menuju Curug Malela menggunakan sepeda jenis MTB. 

Setelah hampir empat puluh lima menit merayapi jalan menurun yang berkelok-kelok, akhirnya kami sampai juga ke areal Curug Malela. Beberapa muda-mudi tampak sedang asyik berfoto ria dengan latar belakang curug alias air terjun yang airnya tampak seputih kapas. 

Gunung Kendeng

Berdasarkan pada lokasi dan aliran airnya, Curug Malela merupakan bagian dari aliran Sungai Cidadap yang mengalir di sela-sela batuan keras sisa-sisa gunung api purba. Sumber airnya berasal dari kawasan Gunung Kendeng, Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. 

Nama Malela kemungkinan besar diambil dari nama salah satu tokoh kerajaan di Tanah Pasundan yang hidup pada abad ke-14, yakni Prabu Resi Tajimalela. Konon, jasad Prabu Tajimalela dimakamkan di puncak sebuah bukit tidak jauh dari curug ini.

Curug Malela by DJOKO SUBINARTO

Curug Malela. Foto: Djoko Subinarto

Curug Malela memiliki ketinggian sekitar 60 meter dan lebar sekitar 70 meter. Struktur Curug Malela yang menyerupai struktur Air Terjun Niagara menjadikan Curug Malela kerap dijuluki sebagai Niagara mini. Ke arah hilir dari Curug Malela, kita bisa temui curug lain yaitu Curug Katumiri, Curug Manglid, Curug Ngebul, Curug Sumpel, Curug Palisir dan Curug Pameungpeuk.

Curug Malela merupakan salah satu air terjun terbesar di Jawa Barat dan menjadi salah satu program unggulan destinasi wisata di provinsi bermotto “Gemah Ripah Repeh Rapih” ini. Berada di Curug Malela, kami manfaatkan untuk berpose heboh-hebohnya. Kami bergiliran memotret dan dipotret. 

Puas berpose dan menikmati dari dekat keelokan Curug Malela, tiba waktunya kini kami harus kembali ke area parkir. Tentu saja, bagi kami yang tergolong remako (remaja kolot), lumayan berat rutenya lantaran terus menanjak. Namun, dengan modal semangat alon-alon waton kelakon, akhirnya sampai juga ke pelataran parkir.

Kami kemudian kembali melepas penat di warung tempat kami pertama kali beristirahat yang suasananya terlihat semakin ramai dipenuhi para pengunjung, baik yang hendak menuju Curug Malela maupun yang baru saja pulang dari Curug Malela.

Lokasi penyulingan by DJOKO SUBINARTO

Penyulingan minyak sereh wangi. Foto: Djoko Subinarto

Di saat kami tengah mengaso itu, salah seorang kenalan kawan kami, yang merupakan warga setempat, menawari kami untuk jalan-jalan ke Kampung Manglid, yang lokasinya tidak begitu jauh dari Curug Malela, untuk melihat proses pembuatan sereh wangi dan gula aren.

Karena hari belum begitu sore, tawaran itu pun langsung kami terima. Kami segera menuju tempat parkir dan kemudian ngacir menunggangi sepeda motor masing-masing menuju Kampung Manglid.

Yang pertama kami kunjungi adalah lokasi penyulingan minyak sereh. Di sini kami menyaksikan bagaimana sereh-sereh disuling sehingga menghasilkan minyak yang beraroma khas. Selama ini, minyak sereh dari Kampung Manglid dijual bukan hanya untuk memenuhi pasar domestik, tetapi juga untuk memenuhi pasar mancanegara.

Membuat gula aren by DJOKO SUBINARTO

Proses pembuatan gula aren. Foto: Djoko Subinarto

Selesai melihat-lihat penyulingan minyak sereh, kami melaju lagi ke lokasi lain untuk melihat proses pembuatan gula aren. Di sini, bukan saja kami bisa menyaksikan penduduk mengambil air nira dari pohon aren, tetapi juga sempat mencicipi langsung segar dan manisnya air nira.

Tidak itu saja. Kami pun sempat menyaksikan bagaimana air nira itu dimasak dalam wajan besar hingga mendidih sebelum dimasukkan ke dalam cetakan bambu untuk akhirnya menjadi gula aren.

Di ujung kunjungan, sembari pamitan kepada keluarga pembuat gula aren, kami sengaja membeli beberapa gandu gula aren sebagai oleh-oleh buat orang di rumah. Kami sempat ditawari untuk bermalam di rumah keluarga tersebut, namun tawaran itu kami tolak lantaran tidak membawa perlengkapan apa pun untuk menginap.

Diiringi tergelincirnya sang surya ke arah barat dengan sorot sinarnya yang keemasan, sepeda motor kami melaju beriringan ke arah timur untuk merayapi kembali jalan yang sebelumnya telah sempat kami lewati pagi hari.

Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.

Djoko Subinarto

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.
Artikel Terkait
Sampah KitaTravelog

Kembali ke Merbabu, Kali Ini Tanpa Sampah

Travelog

Kali Pertama Merasakan Berada di Dalam Perut Bumi

Travelog

Pantai Balekambang: Perjalanan yang Tak Direncanakan

Sampah KitaTravelog

Berkemah Tanpa Sampah, Apakah Jadi Susah?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *