Travelog

Hai Generasi Micin, Kenali Dulu Sejarah Mie Instan di Museum Ini!

cupnoodle museum jepang

Sejarah mie instan. Foto: Nydia Susanto.

Seperti yang diketahui, mie instan sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di Indonesia, mulai dari santapan mahasiswa di tanggal tua, solusi praktis ketika lapar tapi malas masak, hingga kehadiran warung Indomie yang kian populer.

Namun, mie instan sebetulnya mempunyai sejarah panjang sebelum mendunia seperti sekarang. Semua berawal dari resesi di Jepang pasca Perang Dunia II, yang juga dialami seorang pengusaha seperti Momofuku Ando.

Setelah ia kembali sukses dari kebangkrutan akibat perang, pihak Kementerian Pertanian menghubunginya untuk membantu pemerintah dalam mendorong rakyat Jepang supaya mengkonsumsi tepung gandum lebih banyak. Pada saat itu, tepung gandum adalah salah satu bantuan utama dari Amerika Serikat.

Teringat akan para pekerja yang mengantri panjang hanya untuk semangkok ramen atau mie Jepang, akhirnya Momofuku Ando mempunyai ide untuk membuat versi cepat saji dari makanan pokok tersebut. Pada tahun 1958, ia menciptakan mie instan pertama, Chicken Ramen, dengan cara mengkukus mie yang telah dibumbui dan mengeringkannya dalam minyak panas. Kemudian, ia mendirikan pabrik makanan bernama Nissin Food Products.

Penemuan ini dinilai sensasional karena baru pertama kalinya semangkok mie dapat dibuat dengan hanya menuang air panas dan mendiamkannya selama kurang lebih 2 menit hingga matang.

Ragam inovasi mie instan di Cupnoodles Museum

cupnoodles museum

Kemasan Cupnoodles. Foto: Nydia Susanto.

Dengan berjalannya waktu, mie instan mengalami perkembangan, antara lain penambahan bumbu penyedap, variasi rasa, serta pencantuman tanggal pembuatan pada kemasan. Tahun 1971, Nissin meluncurkan Cupnoodles dengan inovasi kemasan gelas styrofoam dan penyediaan sayuran dan daging kering seperti udang, ayam, sapi dan babi. 

Sejak itu, mie instan mengubah pola makan banyak orang di dunia dan semakin mudah ditemui di negara-negara Asia lainnya, serta di Eropa, Amerika dan Afrika.

Kini, seluruh dokumentasi sejarah mengenai mie instan pertama di dunia ini dapat disaksikan di Cupnoodles Museum di Ikeda, Osaka. Selain Osaka, museum ini mempunyai cabang di Yokohama.

Berkeliling Cupnoodles Museum

cupnoodles museum

Ramen tunnel. Foto: Nydia Susanto.

Kronologi penemuan mie instan dipertunjukkan dengan visual modern dan menarik yang melibatkan permainan, kuis-kuis sederhana dan pemutaran film di teater. Pengunjung juga dapat melihat jejak-jejak kesuksesan Momofuku Ando, misalnya medali-medali yang pernah diterimanya, kutipan-kutipan kalimatnya yang dijadikan pedoman dan replika gudang kayu yang digunakan untuk eksperimen pembuatan mie instan selama setahun penuh.

Sekilas, penampakan luar museum terkesan serius dengan bangunan bata merahnya dan patung  Momofuku Ando yang berdiri diatas mangkok Cupnoodles. Namun, justru saya dikejutkan dengan para pengunjung yang mayoritas anak-anak kecil bersama orang tuanya dan sekelompok remaja.

Salah satu daya tarik utama Cupnoodles Museum adalah Instant Ramen Tunnel yang memamerkan lebih dari 800 desain kemasan, mulai dari desain pertama Chicken Ramen tahun 1958, Cupnoodles tahun 1971 hingga kini. 

Di sisi dinding lainnya juga terdapat ratusan desain Cupnoodles dari berbagai belahan dunia yang disertai jumlah konsumsi mie instan per tahunnya. Menariknya, Indonesia menduduki peringkat  2 yang mencapai 130,1 juta porsi per tahunnya. Posisi ini mampu mengalahkan Jepang, yang merupakan negeri pelopor mie instan, dengan 56,6 juta dan hanya kalah dengan Tiongkok dengan 385,2 juta. 

Meracik dan mendesain mie instan sendiri

cupnoodles museum

Ramen. Foto: Nydia Susanto.

Pengalaman unik lainnya adalah pengunjung berkesempatan untuk meracik Cupnoodles dan mendesain kemasannya sendiri. Caranya dengan membeli gelas styrofoam Cupnoodles di vending machine seharga 400 Yen (Rp. 55.000), kemudian menggambarnya dengan spidol aneka warna di tempat duduk yang sudah disediakan. Kegiatan ini menyenangkan, tetapi agak menantang karena saya kurang pandai menggambar. 

Selanjutnya, gelas yang sudah digambar dapat dibawa ke konter untuk diisi mie instan, serta memilih rasa kuah dan toping. Pengunjung dapat memilih 1 dari 4 rasa kuah, antara kaldu ayam, seafood, chili tomato dan curry. Sedangkan, untuk topingnya dapat dipilih 4 dari 12 macam, seperti crabstick, keju, udang, bawang putih, daun bawang, babi panggang, telur, kimchi, buncis, sosis ikan bergambar kepala anak ayam maskot chicken ramen dan 1 toping spesial yang hanya muncul di hari tertentu, yang pada kedatangan saya adalah labu (pumpkin). Sambil menunggu, pengunjung dapat menyaksikan proses pengemasan Cupnoodles hingga siap diambil.

cupnoodles museum

Kelas bikin ramen. Foto: Nydia Susanto.

Tak ketinggalan, tas jinjing yang terbuat dari bahan ban renang pun sudah termasuk tanpa biaya tambahan, yang dapat dibuat sendiri mengikuti petunjuk yang ada. Singkatnya, gelas Cupnoodles dimasukkan ke dalam tas terlebih dahulu, lalu ditiup. Tas yang sudah mengembang seperti balon berfungsi untuk melindungi gelas styrofoam supaya tidak mudah remuk sekaligus mengunci tasnya. Sungguh ide yang sangat kreatif, bukan?

Bagi yang tertarik dengan masak-memasak, Cupnoodles Museum menyediakan Chicken Ramen Factory, di mana pengunjung dapat terjun langsung dalam pembuatan mie instan yang dipandu staf berpengalaman. Kelas memasak ini ditawarkan seharga 800 Yen (Rp. 109.000) untuk dewasa, 500 Yen (Rp. 68.000) untuk anak-anak. Sebaiknya pengunjung melakukan reservasi terlebih dahulu karena banyaknya peminat dengan kapasitas terbatas. Berhubung tidak mendaftar sebelum kunjungan, saya gagal mengikuti kelas ini karena tempat sudah penuh semua.

Pastinya, cendera mata bermaskot chicken ramen nampak menggemaskan, mulai dari handuk, bros, celemek, boneka, tas, kaus dan banyak lagi. Cupnoodles edisi terbatas yang hanya ada di kota tertentu di Jepang dan chicken ramen dengan kemasan klasik tahun 1958 pun bisa didapat di museum ini, yang sangat cocok untuk para pecinta mie instan sejati.

Sebagai tambahan, sebenarnya di Indonesia masih ada merk Cupnoodles yang beredar di pasaran walaupun variasinya lebih terbatas, antara lain seafood, kaldu ayam dan mie goreng a la Jepang berlabel UFO yang berkemasan mangkok styrofoam.

Kunjungan ke museum ini tidak dikenakan biaya, kecuali yang ingin berpartisipasi dalam meracik, mendesain kemasan Cupnoodles sendiri dan mengikuti kelas pembuatan mie instan.

Cupnoodles Museum memang destinasi yang sangat menarik dengan kemampuannya dalam mengedukasi pengunjung secara interaktif dan menghibur sehingga tidak membosankan. Bahkan anak-anak kecil pun berminat mengunjunginya karena suasananya lebih seperti taman hiburan yang menyenangkan daripada museum sejarah pada umumnya. 

Bagi saya pribadi, Cupnoodles Museum tak hanya menambah pengetahuan dibalik budaya mainstream menyantap mie instan, tapi juga membangkitkan ingatan saya akan masa kanak-kanak yang bahagia.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Karyawan swasta merangkap travel blogger.

Karyawan swasta merangkap travel blogger.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Perjalanan ke Gunung Butak

    Travelog

    Sebuah Petualangan di Bukit Gading

    Travelog

    Sepenggal Kisah di Balik Pembangunan Sirkuit Mandalika

    Travelog

    Singgah ke Masjid Tiban

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *