Travelog

Catatan Penghujung Hari

Sore indah berkawan semburat matahari terbenam menjadi pemandangan memukau di teras rumah saya. Hampir tiap sore, saya duduk di bangku depan sembari memandang langit warna jingga nan mempesona. Waktu itu sebuah memori tentang insiden kecil melintas di kepala. Saya yakin betul kala itu saya masih mahasiswa semester satu. Saya baru saja bisa mengendarai motor, belum mahir. Sehingga, saya pun tak heran insiden itu dapat terjadi.

Notifikasi muncul di ponsel saya. Ketika dibuka, ternyata pesan pengumuman bahwa saya diterima menjadi panitia acara yang diadakan komunitas mahasiswa di kota saya. Bahagia tak terkira. Sebagai mahasiswa baru, saya sedang semangat-semangatnya mengikuti kepanitiaan. Tak berselang rapat pertama dengan para panitia satu divisi pun di agendakan. Saya izin karena ada keperluan. Alhasil saya tidak datang untuk menyapa teman-teman baru. Lalu, rapat kedua diadakan seminggu kemudian. Saya pun tidak hadir karena ada kelas sore. Meskipun saya gemar menjalin relasi dengan berorganisasi atau ikut andil dalam kepanitiaan, saya tetap menaruh prioritas tertinggi pada kuliah.

Rapat ketiga berbeda. Saya datang. Saat itu saya pulang dari kampus sekitar pukul 14.30, padahal rapatnya pukul 15.30. Jeda waktunya memang satu jam, tetapi tentu saya perlu waktu untuk perjalanan, beribadah, rebahan sejenak, serta membersihkan diri. Usai mandi, saya sempat tengok layar ponsel yang menunjukkan pukul 15.45. Alangkah kaget saya. Belum lagi ada pesan dari ketua divisi untuk segera berkumpul. Kemudian, saya cepat bersiap dan meraih kunci motor di meja belajar. Saya pacu motor dalam kecepatan sedang karena tekstur jalan yang tak kenal kata bersahabat.

Unsplash/Ian Taylor

Sepanjang jalan, saya sebenarnya merasa tergesa-gesa meski tampak santai. Perasaan itu muncul karena tidak enak dengan teman lain yang sudah menunggu. Kita sama-sama selesai kuliah menjelang sore, tetapi mereka datang lebih awal. Jadi saya pikir jika keterlambatan itu adalah kurang cerdik membagi waktu. Pikiran negatif merasuk. Pikiran tentang mereka yang harus menunggu orang yang belum dikenal sebelumnya, pasti menyebalkan.

Teralihkan oleh pikiran-pikiran itu mengakibatkan konsentrasi pecah. Saya tiba di perempatan jalan. Saya berhenti sejenak dan sebuah mobil ada di belokan kanan. Mobil itu berhenti, sehingga saya beranikan diri maju lurus ke depan. Tujuan saya memang lurus, tidak berbelok. Hingga insiden itu terjadi. Entah saya salah melihat bahwa mobil itu berhenti atau pengemudi mobil yang salah perkiraan. Ketika saya melintas di depannya, mobil itu bergerak maju dan menyenggol bagian samping motor saya.

Unsplash-Tetiana Shevereva/tetti_yana

Waktu itu saya melaju pelan. Saya pun seketika terpelanting dan motor saya terjatuh. Beruntungnya saya tidak terpental jauh. Bengong. Itu reaksi pertama. Rasa terkejut paling membuncah di benak saya. Bahkan, saya sempat linglung sejenak sebelum beberapa orang mendekat untuk menolong saya.

Saya coba bangkit dan berjalan ke arah pinggiran. Bersama bapak yang meminggirkan motor saya. Si pengemudi pun keluar. Raut panik dan merasa bersalah jelas terbentuk di wajahnya. Sang istri pun turut keluar, lalu menanyakan keadaan saya. Apakah ada luka? Apa perlu ke klinik dahulu? Ketika itu, saya jawab saya baik-baik saja. Beliau pun mengulang pertanyaan.

Pasangan suami istri itu tanpa lupa meminta maaf secara mendalam karena sudah teledor. Saya katakan tidak apa-apa dan juga saya terima maaf mereka. Toh, kami sama-sama rugi. Motor saya lecet, mobil mereka juga. Semua berakhir damai. Mereka dipersilakan untuk pergi oleh orang-orang yang menolong saya. Saya berterima kasih kepada orang-orang yang telah menolong dan pamit melanjutkan perjalanan menuju tempat rapat.

Karena insiden tadi, saya mengendarai motor pelan melewati pinggiran jalan. Sampailah saya di tempat rapat, di danau kampus yang tersohor cantik dan nyaman dijadikan tempat kumpul para mahasiswa. Ternyata rapat belum dimulai. Saya cukup lega mendengar bahwa masih ada yang lebih ngaret timbang saya. Saya mulai membuka obrolan dengan beberapa teman panitia lain. Rapat dimulai 30 menit kemudian dengan agenda pembahasan yang lumayan banyak.

Waktu berjalan sangat cepat hingga tak terasa sudah pukul 17.30 dan azan Magrib berkumandang. Kami menutup rapat hari itu. Sesi rapat diakhiri dengan foto bersama. Setelah berfoto, beberapa dari kami langsung menuju tempat parkir. Saya hampiri motor saya dan mulai menyalakan mesin. Ada teman yang mendahului sambil mengucap hati-hati di jalan. Saya keluar dari tempat parkir. Saya memacu motor dengan kecepatan pelan karena trauma masih menghantui. Saya pun enggan terburu-buru. Prinsip saya adalah pelan asal sampai rumah selamat.

Selamat sampai rumah kala itu belum saya maknai apapun. Biasa saja. Namun, kini saya merenungi lagi peristiwa itu. Tergesa-gesa pembawa petaka yang berujung syukur hari ini. Benar saja rasa syukur memenuhi jiwa saya sore ini. Keselamatan waktu itu telah membawa saya pada masa sekarang. Nyatanya sesuatu yang tidak menyenangkan di masa lalu mampu menjadi sesuatu yang saya syukuri sekali kini. Sekarang saya juga lebih hati-hati berkendara, berusaha selalu fokus, serta berangkat lebih awal bila ada keperluan.

Tasya berasal dari Karanganyar. Mahasiswa setengah tua yang hobi menulis, membaca, dan mengkhayal tiap hari. Tasya ingin jadi orang berguna saja nanti.

Tasya berasal dari Karanganyar. Mahasiswa setengah tua yang hobi menulis, membaca, dan mengkhayal tiap hari. Tasya ingin jadi orang berguna saja nanti.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Yogyakarta: dari Tebing Breksi, hingga Malioboro

    Travelog

    Sepenggal Kisah dari Lawatan ke Pendiri Salib Putih Salatiga

    Travelog

    Tak Sengaja Menemukan Tugu Helm Kopral Syarif

    NusantarasaTravelog

    Sarapan dengan Semangkuk Lontong Kari Kebon Karet

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.