ItineraryNusantarasa

Camilan yang Penyebutannya Terinspirasi dari Bagian Hewan

Hampir seluruh masyarakat di belahan dunia ini memiliki kudapan khas daerah masing-masing dengan keunikan dan keistimewaan tersendiri. Keunikan serta keistimewaan tersebut rupanya tidak hanya sebatas pada teknik pengolahan pangan atau kenikmatan rasa dari makanan yang tersaji. Ada pula yang memiliki keunikan dan keistimewaan lantaran penyebutan namanya yang tergolong anti arus utama dan bisa menimbulkan rasa penasaran setiap orang yang baru saja mendengar nama dan maknanya.

Hal ini dapat ditemui di sebagian wilayah Jawa yang memiliki kekhasan dalam penamaan makanan. Banyak makanan khas Jawa yang dalam penyebutannya disamakan pada benda yang mirip dengan bentuk makanan. Penamaan tersebut tidak terlepas bahwa orang Jawa menamakan sesuatu yang menyerupai suatu benda dan mengumpamakan dengan apa yang dilihat. Budaya masyarakat Jawa dalam menamai makanan juga terlihat dalam penyebutan 3 camilan berikut yang terinspirasi dari hewan, diantaranya bisa kamu baca di bawah ya!

Balung kethek

Balung kethek
Balung kethek/Rosla Tinika Sari

Istilah balung kethek secara etimologi terdiri dari dua kata yaitu balung dan kethek. Balung sendiri dalam bahasa Jawa berarti sebagai tulang, sedangkan kethek adalah istilah untuk penyebutan binatang monyet, sehingga dapat diartikan secara harfiah bahwa balung kethek berarti tulang monyet.

Meski artinya tulang monyet, tidak berarti camilan ini berasal dari tulang-belulang yang ada di tubuh monyet, makanan khas Solo ini sebenarnya berasal dari potongan singkong. Balung kethek sendiri merupakan penyebutan pada keripik singkong yang dibuat agak tebal dengan tekstur keras, kering, dan renyah.

Bentuknya yang menyerupai tulang dan warna kecoklatan yang didapatkan dari proses penggorengan membuat masyarakat mengumpamakannya sebagai balung. Ditambah dengan teksturnya yang keras membuat makanan ini semakin kuat diindikasikan sebagai tulang. Sedangkan penyebutan kethek (monyet) dipilih karena proses memakan balung kethek dengan menggigit keras sehingga membuat orang yang memakannya meringis atau nyengir seperti ekspresi monyet ketika tengah makan. 

Proses pembuatan makanan ringan yang satu ini cukup mudah yaitu dengan mengukus singkong yang kemudian dipotong lalu dijemur sampai kering. Setelahnya digoreng hingga warnanya kecoklatan.

Pada mulanya balung kethek hanya menggunakan bumbu sederhana seperti bawang putih, garam, dan beberapa tambahan bumbu dapur lain secukupnya. Namun seiring perkembangan zaman dan minat masyarakat yang semakin beragam terdapat varian baru seperti rasa balado pedas, coklat, keju, ayam bakar, sapi panggang, dan rasa lainnya.Meski begitu camilan ini juga memiliki sebutan lain bagi kelompok masyarakat tertentu dengan nama loncis bagi sebagian masyarakat di Jawa.

Telek Kucing

Sebungkus telek kucing
Sebungkus telek kucing/Rosla Tinika Sari

Makanan ringan yang satu ini cukup ngeri dibayangkan bentuknya apabila namanya diartikan secara gamblang. Dalam bahasa Jawa, telek berarti kotoran hewan sedangkan kucing adalah penamaan hewan mamalia yang juga dikenal dalam bahasa Indonesia. Meski namanya diartikan sebagai kotoran kucing bukan berarti telek kucing berasal dari kotoran kucing. Telek kucing tergolong sebagai makanan enak dan tentunya halal dengan proses pembuatan yang higienis. 

Penyebutan telek kucing bermula dari bentuknya yang memanjang dan penuh dengan taburan gula putih di sekujur bagiannya, serupa dengan kotoran kucing yang biasa tertutup oleh butiran-butiran pasir. Pada mulanya camilan telek kucing memiliki warna coklat sebagai warna originalnya yang semakin mirip dengan kotoran kucing namun pada zaman sekarang warna telek kucing beraneka ragam. 

Warna-warni yang digunakan pada makanan ini ditujukan tidak lain untuk menambah daya tarik penikmatnya. Camilan yang termasuk dalam kue kering ini berbahan dasar tepung tapioka dan memiliki tekstur krispi di luar tetapi agak alot ketika menggigitnya.

Di sebagian daerah di Indonesia camilan telek kucing memiliki nama lain karena perbedaan budaya masyarakat dalam menamai sesuatu hal, misalnya penyebutan kue widaran manis bagi kelompok masyarakat tertentu.

Kuping Gajah

Kuping gajah
Kuping gajah/Rosla Tinika Sari

Selain balung kethek dan telek kucing ada lagi makanan yang penyebutannya terinspirasi dari bagian binatang, yaitu kuping gajah. Seperti namanya kuping gajah yang berarti telinga gajah, makanan ringan yang berbahan dasar tepung terigu ini memang wujudnya seperti telinga gajah. Dulu, kuping gajah berwarna dasar coklat, tetapi seiring perkembangan zaman dan kreativitas manusia, warna ungu, merah, dan warna-warna lain mulai mendominasi.

Proses pembuatan kuping gajah terbilang susah-susah gampang. Adonan tepung terigu dibumbui, lalu digulung dengan teknik khusus dengan ketebalan tertentu. Setelah itu, ditekan bagian tengahnya sehingga membentuk lekukan, kemudian digoreng kering.

Makanan ringan yang juga tergolong dalam kue kering ini memiliki sensasi renyah pada setiap gigitannya, ditambah dengan rasa sedikit manis menjadikan kuping gajah cocok sebagai teman minum teh panas. 

Itu tadi adalah 3 makanan ringan yang penyebutannya terinspirasi dari hewan. Meski sebagian masyarakat Jawa mengenal makanan tersebut dengan nama yang tergolong unik, namun di daerah lain camilan ini punya nama yang berbeda.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu

Sekarang aku tengah menjalani studi di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Teman-teman bisa mengunjungi akun instagramku @roslats_ untuk sekadar ngobrol atau berbincang-bincang mengenai berbagai hal.

Sekarang aku tengah menjalani studi di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Teman-teman bisa mengunjungi akun instagramku @roslats_ untuk sekadar ngobrol atau berbincang-bincang mengenai berbagai hal.
    Artikel Terkait
    Itinerary

    Desa Muncar dan Kopi Temanggung

    Itinerary

    Memahami Lebih Dalam tentang Permakultur

    Itinerary

    5 Destinasi Budaya 'Memorable' ala Jovita Ayu

    ItineraryPilihan Editor

    Rumapala dan Cerita Memberdayakan Pala Banda

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Worth reading...
    Sehari Memanjakan Perut dengan Beragam Kuliner Khas Sulawesi Selatan